burg-stahleck-bacharachMengunjungi satu tempat di musim berbeda membangkitkan kesan berbeda pula. Suasananya berbeda. Keluarga pelancong memutuskan mengunjungi kembali Bacharach akhir minggu ini. Kebetulan ada penawaran menginap murah dari Youth Hostel negara bagian Rheinland Pfalz dan Saarland. Penawaran setiap tahun sebenarnya. Tahun-tahun sebelumnya kami putuskan untuk menginap di tempat lain.

Salah satu yang menarik dari penawaran youth hostel ini adalah kenyataan bahwa beberapa youth hostel adalah bekas istana atau beteng di abad pertengahan. Tahun lalu kami sudah menjajal menginap di Koblenz dan Istana Diez. Youth Hostel Koblenz nuansa modernnya lebih kental. Diez mendekati bayangan Emak tentang istana abad pertengahan. Tapi Burg Stahleck di Bacharach lebih juara. Kotanya terkenal paling indah di tepi Sungai Rhein. Menurut Emak, tak ada salahnya mengunjunginya lagi, kali ini pakai menginap.

Salju pertama musim dingin ini mengiringi perjalanan kami kesana. Tak menganggu dan tak membuat macet jalanan seperti badai salju menjelang Koblenz tahun lalu. Sabtunya sempat gerimis tapi masih dipakai buat keliling kota tua. Minggu malah lebih cerah.

Burg Stahleck sama sekali tak mengecewakan. Sebagai penyuka sejarah, Emak kagum dengan cara Eropa mengabadikan peninggalan bersejarahnya. Banyak tempat dan kota bersejarah dibangun kembali sesuai aslinya setelah hancur akibat perang. Dari tempat parkir menuju penginapan saja, kami mesti lewat jalan setapak dari batuan alam. Kalau sedang salju, sepertinya ia bakal licin. Material benteng sebagian besar dari potongan batu alam. Sedangkan istananya merupakan sebuah fackwerkhaus berwarna kayu merah menyala. Kami dapat kamar di lantai 3. Tak ada lift dan kamar mandi di luar.

Perjalanan kaki ini gabungan antara cuci mata dan hiking. Penginapan kami ada di punggung sebuah bukit. Kota tuanya di bawahnya, di tepi Sungai Rhein. Bacharach jauh lebih sepi dibanding musim panas. Banyak tempat makan tutup. Turisnya tak banyak. Penginapan dan hotel-hotel memasang tanda ‘Zimmer frei’ dan ‘free rooms’.

Emak menjelajah hampir semua bagian kota tua Bacharch. Masuk ke gang-gang sempit, mengitari tembok kota tua, mengunjungi beberapa spot yang belum sempat kami datangi sebelumnya. Lewat tengah hari, penjelajahan usai. Sorenya Emak ingin naik feri ke St. Goar, hanya 20 menit dari Bacharach. Sayangnya, feri pun tak jalan di musim gigil.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>