Gereja ortodoksdi RigaBerlibur sambil kedinginan tentu saja kurang nyaman. Setelah berlibur ke Warsawa di bulan Desember tahun2008  lalu, kami sebenarnya tak mau mengulangi hal tersebut. Makanya kami antisipasi dengan berlibur lebih awal. Yakni di liburan musim gugur ke dua negara Baltik, Latvia dan Lithuania pertengahan Oktober tahun ini.

Kami perkiraan, suhu musim gugur sekisaran 10°C akan masih bisa kami lewati. Dua tiga hari terakhir menjelang berangkat pun perkiraan suhu di Riga, Latvia, tujuan liburan kami, masih menunjuk angka 8-10 °C. Masih aman, pikir kami.

Apa daya kenyataan tak seindah perkiraan. Di malam ketika kami berangkat menuju Bremen, di mana pesawat Ryanair tumpangan bakal tinggal landas, suhu udara merosot mendekati nol derajat. Belum-belum, kami berempat sudah kedinginan. Di tambah lagi, jaket tak bersiap jaket musim dingin.

Karena cuaca, pesawat tumpangan mendarat langsung ke Riga. Syukurlah menghemat waktu kami 4 jam perjalanan bus Kaunas – Riga. Di bandara kecil tapi cantik Riga, kami beristirahat sejenak. Mencerna informasi di buku panduan serta berkeliling seputar bandara. Menukar uang di sebuah bank di bandara, baru kami tahu bahwa mata uang mereka, Lat, nilai tukarnya lebih tinggi dibanding euro. Satu euro = 0,7 lat saat itu.

Sebuah bus membawa kami langsung menuju pusat kota, di daerah dekat stasiun bus dan kereta api. kami langsung meneliti peta di buku panduan, agar bisa segera sampai penginapan. Untungnya letak penginapan bernama Baron City tak terlalu jauh dari kota tua Riga.

Kelelahan, kami berempat malah langsung tidur. Baru malam harinya kami keluar mencari makan malam. Kami temukan sebuah restauran Jepang murah, Gan Bei di sebuah pusat perbelanjaan di kompleks stasiun pusat Riga. Malam itu lumayan dingin. Dan kami baru keluar penginapan pukul setengah delapan malam. Tak banyak kami lihat kecuali pertokoan kecil-kecil di dalam stasiun dan daerah sekitarnya.

Paginya, acara jalan-jalan utama dimulai. Agak pagi kami mulai. Padahal di ramalan cuaca, kami lihat cuaca bakal mendekati titik beku, 0 – 2 °C. Belum lagi ada kemungkinan hujan di sore hari. Angin kurang bersahabat pula. Perjalanan kami hari itu pun mesti dilalui dengan penuh perjuangan.

Awalnya kami ingin mengunjungi sebuah rumah yang berfungsi sebagai mesjid di ibukota Latvia ini. Sayangnya setelah jauh berjalan, kami tak menemukan seseorang disana. Sehingga niat silaturahmi kami tak kesampaian.

Jadinya kami kembali menyusuri Brivibas iela berjalan ke arah pusat kota tua.  Kami sempat bertemu gereja ortodoks cantik. Bangunan dengan banyak kubah ini sekilas kelihatan seperti mesjid. Dari sini kami terus lewat dalam Esplanade menuju arah balai kota dan lewat gedung teater.

Riga, ibukota negara Latvia ini pernah dikuasai Jerman: DI tahun 1991, saat Uni Sovyet diperintah oleh Boris Yeltsin, Latvia bersama negara Baltik lain seperti Estonia dan Lithuania menjadi negara merdeka. Sebagian penduduk negeri ini juga berasal dari Rusia.

Dingin-dingin, kami masih bersemangat berjalan menuju bekas benteng Riga. Namun kecewa, bekas benteng ini telah dipugar menjadi bangunan lebih baru dan hanya sebagian temboknya saja terlihat tua. Di sebuah gereja, terlihat segerombolan orang baru baru selesai menghadiri misa hari Minggu. Sepertinya masih banyak orang Riga datang ke gereja. Sebab masih terlihat ramai pengunjung misa.

Tak lama, kami sampai di daerah Dome.  Dimana deretan gedung-gedung tua indah berdiri. Sebagian sedang dalam perbaikan. Sama seperti Warsawa, jantung kota tua Riga juga masuk dalam daftar warisan budaya Unesco.

Kami baru saja mengabadikan suasana dalam video kamera ketika tiba-tiba baterai kamera Emak habis. Saat akan mengambil kamera besar, bapak baru sadar bahwa kameranya tertinggal di penginapan. Kesal sekali rasanya. Semangat meneruskan perjalanan segera menghilang. Apalagi rasa kedinginan dan kelaparan mulai mendera. Lengkaplah sudah kekesalan hati ini.

Lalu Kami putuskan berjalan pulang menuju penginapan. Meneruskan perjalanan tanpa ada foto kenangan rasanya kurang mantap. Walau akhirnya sebagian suasana kota tua Riga hanya kami rekam lewat ingatan.

Kembali, kami sempat makan siang, mengabadikan beberapa monumen dan gedung-gedung serta menikmati suasana pasar besar dan terminal kota Riga. Sebab kami harus membeli tiket menuju Kaunas di Lithuania untuk keesokan harinya.

Akhirnya, semangat jalan-jalan tak bisa lagi berkompromi dengan dinginnya cuaca dan daya tahan tubuh. Kedinginan, kami segera kembali lagi ke penginapan. Menghabiskan sisa senja di dalam penginapan nyaman dan hangat kami.

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

3 Responses to “Berlibur Sambil Kedinginan (Lagi) di Riga, Latvia”

  1. […] Riga, kami menemukan penginapan bernama Baron City Hostel. Orang banyak mengenalnya sebagai Baron 25, […]

  2. yi-web says:

    exotic sekali bangunannya….WOW, latvia ternyata seperti negara2 eropa lainnya, surga buat para pecinta OLD CITY

  3. […] Laut Besar dan Menara Besar Margareta. Baltik terlihat mirip dengan kota lainnya di Baltik seperti Riga dan […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>