Kamera GoPro

Plakat festival dongeng internasional

Dunia literasi menjadi perhatian penting di Jerman. Tak hanya di sekolah-sekolah, namun juga di institusi miliki pemerintah atau lemabaga nirlaba.

Di perpustakaan kota Düren, setiap minggu ada acara mendengarkan dan menonton pictorial book bersama. Untuk anak-anak usia tertentu. Di sekolah, anak dibiasakan giat membaca. Di museum, theater, atau tempat lainnya sering ada Lesung. Atau pembacaan bagian buku. Dilakukan oleh penulisnya sendiri atau orang lain. Bahkan Lesung buku berat pun diminati banyak orang. Satu lagi festival literasi adalah Erzählfestival atau festival mendongeng.

Festival Mendongeng Internasional Aachen

Meski tinggal bertahun-tahun di kota sebelahnya, Düren, baru kali ini Emak mengetahui keberadaan Festival Mendongeng Internasional di kotaa Aachen. Sungguh Emak menyesal abai akan event sangat menarik seperti ini. *kemana aje lu, Mak?*

Internationales Erzählfestival atau Festival Mendongeng Internasional diadakan untuk yang ke-19  kali tahun ini. Berlangsung tanggal 1 – 4 Oktober. Penggagasnya Regina Sommer. Seorang pecinta literatur dan dongeng. Beliau memiliki pengalaman mendongeng di Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Saat ini aktif dalam wadah khusus para pecinta dongeng.

Selama dua hari berturut-turut Emak berkesempatan menikmati beberapa pendongeng menunjukkan kebolehan mereka. Hari Jumat sore, 2 Oktober, ada acara-acara dongeng gratis di pusat kota Aachen. Sayangnya, kebanyakan jadwalnya memiliki waktu bersamaan.

Uniknya, acara dongeng gratis ini tidak diselenggarakan di aula atau ruangan khusus. Melainkan berlangsung di toko-toko. Ada yang di toko buku, ada yang di tempat penjahit, di kedai pembuat biola, bahkan di sebuah rumah makan. Tema yang didongengkan disesuaikan dengan tempatnya. Misalnya saja di tempat penjahit, dongengnya pun tentang penjahit. Di rumah makan, tentang kopi. Di kedai pembuat biola, pendongengnya bercerita sambil sesekali memainkan biola.

Para pendengarnya ternyata tidak banyak. Paling sekitar 20 orang. Anak-anak, dewasa, sampai para senior. Akan tetapi semuanya terlihat terbawa suasana yang diciptakan para pendongeng. Bahkan Adik pun menyimak sampai usai. Padahal bahasa Jerman yang digunakan relatif sulit. Emak banyak gak ngertinya. hehe.

Yang agak lama, kami ngetem sambil mendengarkan dongeng di sebuah toko biola. Pendongengnya seorang ibu berusia 50-an. Pawai mendongeng dan bermain biola. Emak bawa kamera semi DSLR. Mo ngrekam sekalian motret. Aduh mo motret sungkan banget. Khawatir suara cekrak-cekreknya mengganggu. Padahal kan penonton lain hening bawaannya. Pas mau nyuting eh pendongengnya gak mau disyuting. Padahal ngeliat bapak-bapak nyuting pake kamera Gopro di sudut didiemin saja. Ya sudahlah, Emak kudu menghormati. Mungkin malah disuruh beli Gopro, nih. Di rumah dah ada action camera. Tapi ngeliat Gopro tetap ngiler. *aamiin yang kenceng*

Hari Sabtunya Emak datang ke sebuah bekas penggilingan tepung bertenaga kincir air. Kali ini ikut acara yang tak gratis. Dengan membayar 6 euro (Rp. 90.000,-), kami diajak mendengarkankan 5 dongeng dari dua wanita luar biasa. Pesertanya kira-kira 40 orang. Sama sekali tak membosankan mengikutinya, karena kami trekking singkat. Masuk hutan, mendengarkan cerita di bawah pohon buah pear, dan duduk dekat istana kuno.

Kali ini pesertanya orang tua dan anak-anaknya. Kata beberapa orang tua, mereka mengikuti acara ini agar anaknya mengalami masa-masa indah didongengi seperti masa mereka kecil dahulu. Peserta bebas mendengarkan cerita sambil duduk-duduk di atas rumput. Anak-anak yang terlihat tidak memperhatikan ternyata sering melontarkan tanggapan sehubungan isi cerita.

“Es freut mich sehr,” kata Bu Regina Sommer ke Emak saat kami berjalan beriringan menuju sebuah ladang buah.

“Danke.”

“Anda kenal banyak dongeng?”

“Tidak, hanya beberapa dari Grimm Bersaudara,” jawab Emak.

Mungkin beliau heran. Ngeliat wajah Emak paling eksotis. Bahasa Jerman pas-pasan pula. Untung banyak audiens anak-anak, dan ceritanya pun children friendly. Jadi Emak masih bisa mengikuti. Salah satunya adalah dongeng Puteri Tidur. Atau Dornröschen dalam bahasa Jerman.

Gaya bercerita para pendongeng yang menurut Emak, membuat kita terpaku. Ekspresif dan deskriptif. Sesekali mereka menirukan suara pintu, binatang. Sesekali mempertegas cerita dengan bahasa tubuh sesuai. Moga tahun depan bisa mengajak anak-anak lebih tekun menyimak festival-festival dongeng seperti ini.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , ,

3 Responses to “Dari Festival Mendongeng, Aachen”

  1. Dian R says:

    Kayaknya seru banget tuh dengerin pendongeng yang sambil main biola. Di sini, tiap 2 minggu sekali temen2 relawan KI Batam ngadain acara mendongeng dan baca buku bareng di alun-alun untuk anak-amak, mbak. Alhamdulillah responnya positif.

  2. Emakmbolang says:

    Seruuu mbak, dongengnya dimana man’s. Ceritanya disesusikan juga. Keren

    Aku yo pingin duwe gopro, isok dienggo sembarang

  3. ira says:

    @Mbak Dee An: ho-oh, anakku ajah yang kecil ndomblog ngeliatnya. Padahal bahasa Jermannya tingkat tinggi… :)

    @Zulfa: hihihi… tosss Gopro melbu list sing pengen dituku..

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>