(sambungan dari sini)

persewaan-kayakSebelum berangkat, kami terlalu bersemangat hendak menjajal hal baru. Tak belajar teknik terlebih dulu. Emak pernah sekali mencoba mendayung di Kali Mas Surabaya, bersama seorang instruktur dari UK Dayung. Tapi itu dulu sekali. Di bangku kuliah. Emak sudah lupa bagaimana rasanya memegang sebuah dayung. Dayung kayu pinjaman terasa ringan.

Tapi Bapak sangat bisa diandalkan. Beliau adalah orang yang termasuk cepat belajar hal-hal baru. Termasuk belajar menggunakan dayung untuk mengendalikan kano. Kami berputar-putar di sekitar anjungan kayu. Tak lama, beliau pun menguasai beberapa teknis dasar mendayung. Seperti bagaimana membelokkan kano ke kiri atau ke kanan, bagaimana mengerem, bagaimana caranya agar kano bergerak ke samping. Beliau menerangkan. Emak sukar sekali menerima pelajaran seperti ini. Berkali Bapak praktik, berkali pula Emak salah praktik. Pelan-pelan kami mulai bisa berkoordinasi. Bersiap mendayung ke kolam besar, mengelilingi sebagian perairan IJMeer di daerah IJBurg.

Mulanya Emak tapi berani jauh-jauh dari tepi air. Kami masih kaget jika tiba-tiba kano bergoyang kuat. Kano Canadian ini terlihat kokoh. Namun sensitif terhadap goncangan. Jangan bergerak mendadak jika tak ingin mengalami goncangan. Anak-anak duduk tenang di tengah. Tampak takut di awal. Tapi mulai bisa menikmati seiring waktu. Emak pun mulai menemukan ritme mendayung. Berkoordinasi bersama Bapak. Beliau memberi aba-aba. Di sebelah mana Emak mesti merengkuh dayung.

Kami melewati bagian belakang perkemahan. Sekali lagi, melihatnya dari arah perairan memberikan perspektif baru. Anak-anak mudah duduk-duduk sambil main air di ujung tempat kemah. Bebek-bebek pencuri telor kami riuh bersahutan. Sebuah rumah perahu tua mengapung di tepian. Pulau-pulau mini, tumpukan endapan sungai sesekali menghalangi laju kano. Di atas sebuh jembatan, satu keluarga dengan seorang anak kecil melambai ke arah kami. Seolah mengucapkan ‘Bravo! menyuntikkan semangat ke dada kami berempat.

IJBurg, satu pemukiman relatif baru di Amsterdam berasal dari timbunan. Satu daerah didapat dari daratan buatan. Terlihat sangat modern. Apartemen-apartemen baru, arsitektur modern. Para penghuninya juga pecinta air. Beberapa perahu terapung di belakan kompleks apartemen. Anak-anak sedang bermain dekat air atau sedang belajar berselanjar air mini. Sebenarnya ada beberapa titik di peta di mana kami bisa berhenti dan beristirahat dan mengunjungi kafe. Kami tak hendak berhenti. Bekal sudah tersedia walau tak banyak.

Cuaca berganti. Kadang terasa sangat panas. Kadang sedikit mendung dan hujan rintik-rintik. Membuat kami khawatir hujan deras dan angin kencang bakal menerpa lagi. Tak ada sesuatu terkait cuaca buruk terjadi.

Kkami memutari pemukiman terdekat dengan perkemahan. Dua setengah jam tak cukup untuk menjelajah lebih jauh. Selain itu, tenaga kami juga belum sampai. kami mendayung terus. Seorang ibu tua berteriak. Bertanya kami berasal dari mana. Waktu kami bilang Indonesia, jempolnya langsung terangkat. Sekumpulan anak kecil juga melambai-lambai riang ke arah kami. Hari yang menyenangkan!

Menjelang arah pulang, satu setengah jam sejak memulai petualangan, tantangan baru muncul. Bukan dari cuaca. Dua perahu motor menderu. membawa dua orang untk berselancar air. Kami berada di tengah perairan. Entah berapa meter kedalaman air. Emak tak mau membayangkan seberapa dalam. Setiap kali perahu motor mendekati kami, barisan gelombang besar terbentuk. Cukup untuk membuat kami panik. Sebab goncangan kano makin cepat menyeramkan. Si Embak mengomel dan ketakutan. Adiknya terpengaruh.

Untung Bapak tetap tenang. Membelokkan kano setiap kali gelombang besar datang. Agar gelombang datang dari arah depan atau belakang. Bahaya muncul jika gelombang menghantam dari samping. Jika kami tak bisa menyeimbangkan, kano bisa terbalik. Kami semua mengenakan jaket pengaman. Namun Emak membayangkan hal-hal buruk. Kami mendayung cepat ke pinggir. Kembali menuju anjungan. Tak ada drama terjadi hari itu.

Serangan gelombang bisa diatasi. Akibat panik dan mendayung cepat, lengan Emak pegal-pegal. Lemas sekali rasanya. Kami mendayung pelan ke dekat persewaan kano. masih ada sisa seperempat jam kami mendayung di sela-sela rerumputan air. Banyak ikan berkejaran di sela-selanya. Anak-anak menjerit senang. Dayung pertama ini membuat ketagihan.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , ,

One Response to “Dayung Perdana Keluarga Pelancong (2)”

  1. […] Di belakang persewaan, dekat tumpukan kayak dan kano, ada sebuah anjungan kayu kecil. Di sekitarnya ditumbuhi rerumputan air tinggi. Semeter lebih tingginya. Si Embak penyewa membantu Bapak menarik kano ke tepi anjungan. Kano canadian kami sebenarnya hanya diperuntukkan bagi tiga orang. Dengan tambahan bangku di tengahnya. Anak-anak bisa duduk berdua di tengah-tengah. Kami mendapat dua dayung kayu pendek dan satu dayung panjang berbahan plastik. Bapak duduk paling belakang, sebagai pengemudi. Emak di depan, membantu mendayung. Anak-anak memegang dayung panjang. Tak untuk membantu mendayung. Agar mereka tak terlalu bosan jika harus duduk tanpa melakukan sesuatu. (bersambung) […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>