Akhir minggu lalu, kami ke Bremen lagi. Mengunjungi teman lama. Hampir enam setengah jam kami habiskan naik turun kereta api ekonomi. Tiga belas jam pergi dan pulang. Bermodal tiket akhir minggu dari Deutsche Bahn, perusahaan kereta api nasional Jerman.

Sabtu kemarin cuaca mendung dan mendingin. Perkiraan cuaca mengatakan, bahwa di akhir minggu suhu udara akan semakin dekat ke titik beku. Kereta api dari Duren hingga Wunstorf masih cukup sepi di pagi. Namun ramai ketika hari sudah mulai siang. Untung kami masih bisa duduk di rute Wunstorf – Bremen.

Entah mengapa banyak sekali orang pergi ke Bremen Sabtu itu. Stasiun pusat Bremen tak kalah padatnya. Susah membawa kereta dorong bayi. Kami berjalan dengan kecepatan satu dua langkah per menit. Hingga sampai di luar stasiun pun, ribuan orang masih saja tempat berkerumun. Biasanya Bremen terlihat ramai jika ada pertandingan sepakbola Bundesliga. Namun tak banyak kami lihat fans bola yang biasa menggunakan atribut kesebelasan kesayangan mereka.

Berkendara dalam tram menuju kota tua, keadaan tak membaik. Masih saja berdesakan. Di luar ribuan berbondong-bondong menuju pusat kota. Hey ada pakah ini gerangan, pikir kami. Tak biasanya Bremen seperti ini. Meski saat itu ada pasar natal, tak normal seramai ini.

Sebelum mengunjungi sang teman, kami ingin terlebih dahulu ke pusat kota. Menikmati kembali suasana indah Bremen. Balai kota, Roland, patung perunggu pemain musik Bremen alias Bremer Stadtmusikanten. Dan kawasan Schnoor dengan rumah-rumah tua mungilnya.

Apa daya harapan tak sebanding dengan kenyataan. Berdesakan dengan ribuan orang di pasar natal di marktplatz Bremen, tentu saja kami tak bisa leluasa memotret dan merekam salah satu tempat terindah di Jerman ini. Palagi angin dingin berhembus tiada henti. Lengkap sudah kegagalan rencana siang itu. Akhirnya kami hanya merekam suasana marktplatz sebentar, disambung ke Schnoor yang juga padat sebentar, lalu segera berlalu dari sana. Sepertinya lebih baik datang ke Bremen ketika kota tak terlalu ramai. Agar suasana indahnya lebih mudah direkam.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

2 Responses to “Dingin-Dingin ke Bremen”

  1. […] Kami membeli tiket harian agar bisa menggunakan transportasi umum dalam kota seenaknya. Turunnya di Domsheide, pusat kota Bremen. Karena di dekat halte pemberhentian ada toko cinderamata, maka jalan-jalan ditunda sejenak. Setelah puas melihat-lihat, baru menuju kota. Menikmati suasana di Marktplatz, Rathaus (balai kota) dan Dome. Konon, banyak orang mengakui bahwa Marktplatz Bremen adalah salah satu tempat terindah di Jerman. Sebuah tempat dengan banyak kafe indah dengan patung Roland di tengah-tengahnya. Cerita mengenai Bremen sudah pernah saya bahas disini. […]

  2. […] karena obyek wisatanya tak terlalu banyak dan letaknya cukup berdekatan itu yang membuat Bremen sangat praktis sebagai tujuan wisata. Jika kita keluar dari stasiun Bremen, lalu menengok ke arah […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>