Olala, sudah tujuh hari rombongan kami berada di Bosnia-Herzegovina. Waktunya meninggalkannya, bertolak ke negeri selanjutnya, Montenegro.Sebelumnya, Emak hanya tahu bahwa ada pegunungan di Bosnia-Herzegovina. Tapi tak menyangka kalau pegunungannya sambung-menyambung tiada henti. Setiap kota yang kami singgahi dikelilingi pegunungan. Ngarai-ngarai dan jurang dalam terbentuk oleh aliran berbagai sungai. Gunung-ngarai-sungai. Itulah gambaran alam negeri ini. Elok sekali. Sebagai muslim, kami merasa nyaman. Terutama di federasi Bosnia. Masjid ada di tiap kota. Kami bisa numpang sembahyang di sana. Makanan halal pun relatif mudah ditemukan.

Kami sempatkan mengelilingi pusat Mostar sekali lagi. Lalu menuju selatan. Bapak-bapak salat Jumat di Stolac. Tak ada jamaah wanita. Para wanita menunggu hingga salat Jumat usai. Di pelataran masjid berkumpul beberapa peminta-minta. Dua diantaranya seorang remaja lelaki dan perempuan. Terlihat cantik dann ganteng. Si gadis rambut ekor kuda memakai tas tangan dan bersepatu boot. Emak tak menyangka awalnya kalau ia peminta-minta. Agak aneh saja, kok ada gadis nongkrong sendirian di dalam kompleks masjid.

Masjid Stolac ini menjadi masjid terakhir yang kami singgahi di Bosnia-Herzegovina. Setelah melewati jalanan pegunungan ynag agak tandus dan penuh tanda tengkorak merah disilang, kami kembali memasuki wilayah Republik Srpska, federasi di Bosnia-Herzegovina yang banyak dihuni orang Serbia. Masuk kota Trebinje, kota besar terakhir sebelum perbatasan, kami berniat mencari makan dan mengisi bensin yang harganya lebih murah dibanding negara tetangga. Pom bensin ketemu. Makan, kami beli roti vegetarian saja di sebuah Pekara. Pesimis di rumah makan kami bakal mendapatkan makanan halal.

Jalan menuju perbatasan ternyata kembali melalui pegunungan. Hingga seribu meter dpl. Kami lewat perbatasan Klobuk. Di imigrasi Bosnia, seperti biasa diminta menunjukkan surat mobil selain paspor. Kami senang, perbatasan ini sepi. Pasti prosesnya bisa cepat, kami pikir.

Seorang petugas lelaki jangkung menghentikan kendaraan kami. Lalu menghampiri sambil merokok. Beliau meinta semua paspor, menyuruh kami menunggu. Hawa dingin pegunungan menusuk kulit. Dua derajat celcius. Di dalam mobil lebih hangat. Beberapa lama, seorang petugas lelaki, lebih muda, memanggil. Bapak-bapak turun. Ketika kembali, bapak-bapak membawa berita buruk. Sang petugas menanyakan visa masuk Montenegro.

Di sebuah peraturan yang kami baca sebelumnya, pemegang visa Schengen boleh masuk Montenegro 7 hari tanpa visa. Sayangnya kami lupa untuk mencetak barang bukti tersebut. Jadinya bermasalah deh, di perbatasan. Bapak petugas mengatakan, bahwa ada visa on arrival, tapi tak bisa dikeluarkan oleh perbatasan ini. Kami ngotot, kami tak butuh visa, termasuk visa on arrival.

Untungnya para petugas yang semuanya lelaki tersebut terlihat ramah dan berniat menolong kami. Satu yang membuat Emak tak tahan adalah mereka merokok tanpa henti. Ruangan sempit kantor mereka bau. Si Bapak tua berkali mencoba menelpon dengan hape miliknya. Beliau meminta bukti asuransi dan melihat sekilas bukti booking penginapan di Montenegro.

„Saya pikir tak bakal ada masalah, kok. Kalian pasti bisa masuk. Kami tinggal tunggu konfirmasi. Bos saya ini orang baik,“ kata seorang petugas muda. Pas Bos menawarkan kami masing-masing sepotong coklat. Tak lama, kami pamit untuk menunggu di mobil. Perbatasan ini relatif sepi. Sesekali ada mobil atau truk lewat. Petugasnya tampak santai. Kadang memeriksa paspor sambil berdiri di pinggir jalan.

Sekira sejam menunggu sejak kedatangan kami di perbatasan, petugas kembali memanggil. Para bapak menghampiri. Beliau membubuhkan stempel di paspor kami semua.

„Welcome to Montenegro!“

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>