Eits, jangan tertipu dulu. Tulisan ini sama sekali tak berhubungan dengan menara terkenal di ibukota Perancis. Huruf f-nya cuma satu. Eifel disini pun bukanlah sebuah menara, gedung, atau tugu peringatan buatan manusia, melainkan nama sebuah pegunungan di barat Jerman. Eifel ini lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal keluarga pelancong di Düren. Jika melongok dari balkon apartemen kami, akan terlihat sebagian pegunungan nan hijau ini. 

Sudah lama kami mendengar keindahan Eifel. Selain pegunungan, Eifel yang terbentang luas hingga ke negara bagian Rheinland Pfalz hingga ke negara Belgia ini juga punya danau-danau, bukit-bukit batu, serta kebun-kebun anggur. Masyur juga sebagai tempat wisata aktif seperti mendaki gunung, bersepeda, untuk kemping serta sebagai tempat tetirah karena kesejukan dan kualitas baik udara di sana.

Niat mengunjungi Eifel sudah tertunda berkali. Paling tidak, kami ingin mengunjungi kota-kota terdekat di gerbangnya, seperti Schleiden, Monschau, Euskirchen, Nideggen dan Heimbach. Kota-kota tersebut masih terjangkau oleh tiket bulanan angkutan umum milik Bapak. Jadi kami tak perlu mengeluarkan ongkos lagi untuk kesana.

Awalnya kami ingin ke Monschau lebih dulu. Tapi kemudian Emak mendapat informasi, ada bus tur gratis ke sekeliling Danau Rur jika memiliki tiket bulanan. Busnya ngetem di Heimbach. Dan ada bus langsung dar halte dekat rumah menuju Heimbach. Jadilah kami kesana. Di tengah hari suatu Minggu, saat mendung sangat tebal menggantung di langit Düren.

Nyaris lima puluh menit perjalanan menuju Heimbach adalah saat cuci mata tak terlupakan. Pemandangannya menggetarkan hati. beberapa kilometer awal adalah jalanan rata melewati daerah industri dan perdagangan. Setelahnya adalah desa-desa kecil, banyak rumah tua berbahan batu alam dan bertulang kayu dari abad pertengahan. Walau berkesan sangat tua, rumah-rumah ini masih berpenghuni dan terawat. Sebagian desa itu, saking kecilnya, hanya berisi beberapa rumah saja. Sisanya adalah hecken (kumpulan pepohonan) yang ditanam sebagai pelindung rumah dan bangunan.

Di setengah perjalanan terakhir, jalanan mulai menanjak. Kami mulai melalui desa-desa di perbukitan. Adik sudah tertidur. Embak dan Bapak pun mulai mengantuk. Sepertinya kena pengaruh kelokan, tanjakan dan sedikit turunan jalan. Emak sendiri merasa sayang melewatkan pemandangan indah pedesaan, peternakan, sawah-sawah, dan hutan-hutan kecil.

Hanya beberapa menit menjelang Heimbach, hujan deras pun mengguyur. Pun ketika kami telah sampai tujuan. Embak mulai kelaparan. Kami berteduh sebentar sambil mengambil beberapa brosur informasi wisata di pusat informasi turis. Terlihat jelas bahwa Heimbach adalah salah satu kota tujuan wisata di sana. Penginapan, hotel, kafe dan rumah makan bertebaran di seantero desa di lereng pegunungan ini. Mobil-mobil dan motor besar berpelat nomor Belanda berjajar di tempat parkir. Emak perhatikan, turis angkatan tua mendominasi di sini.

Bus gratis bernama Mäxchen, muncul tak lama kemudian. Bapak memastikan bahwa kami bisa menumpang gratis. Kami pun naik ke bus bertingkat mirip bus kota Surabaya jaman dulu. Langsung ke atas. Tak ada penumpang lain selain kami di tingkat atas. Bus tua berjalan mendaki, memasuki wilayah Eifel. Sesekali atapnya menabrak ranting-ranting pepohonan. Kami melewati Biara Mariawald, Kettermeterhöhe, menyaksikan keindahan alam. Sayang sekali hari hujan di luar. Menghalangi kami untuk mengambil foto bagus dari dalam bus. Kaca Mäxchen penuh dengan tetesan air hujan.

Setengah jam kemudian, kami sampai di danau Rur. Mäxchen berhenti agak lama. Hujan mulai mereda, dan kami putuskan turun sejenak. Mengabadikan beberapa gambar.

Danau Rur sebenarnya adalah bendungan besar, pembentuk gugusan danau. Yang terluas boleh dilayari oleh perahu dayung maupun motor. Satu hotel besar berdiri di tepian dekat bus diparkir. Tak lama, turis-turis senior berbahasa Belanda mulai memenuhi bus. Kami naik lagi. Kali ini di bagian bawah. Menikmati sisa pemandangan. Sebelum kembali segera menuju Düren. Kali ini naik kereta api. Yang sayangnya pemandangannya tak sesepektakuler saat naik bus ke Heimbach.

Ah, sungguh kami menyukai Eifel. Pada pandangan pertama. Kami merencanakan kunjungan-kunjungan berikutnya. Wanderung, bersepeda, mengunjungi kota-kota tua. Tempat-tempat wisata alam lainnya. Eifel…. tunggu kami lagi, ya…. Insyaallah.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

3 Responses to “Eifel, We’re in Love”

  1. free phone says:

    weleh, tak kirain eiffel yang itu, tapi kalo namanya eifel pastinya teteeep beautiful kan? wah seneng dong kalo bisa melancong kesana

  2. […] Eifel adalah bekas gunung berapi, terkenal akan kaldera – danau-danau vulkanik yang terbentuk hampir 30 ribu tahun lalu. Eifel sangat ideal untuk pendakian dan perjalanan kaki. Dari sini orang bisa sekalian ke Nuerburgring, salah satu lintasan GP Formula Satu di Jerman. […]

  3. […] Bonn – Koblenz. Kereta tumpangan kami meluncur di sisi Sungai Rhein. Tepatnya di daerah bernama Eifel. Ini bukan nama menara terkenal di Paris. Melainkan sebuah wilayah perbukitan menawan di bagian […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>