Perjalanan jauh dan panjang, dilakoni dengan naik turun kereta api ekonomi bakal menyenangkan jika dijalani berbarengan alias rame-rame. Ke Berlin, ditempuh tujuh jam-an dari Bremerhaven. Pergi pulang, empat belas jam. Bekalnya, cukup satu tiket akhir minggu dari perusahaan kereta api Jerman, Deutsche Bahn. Status harga saat itu, 37 euro. Bisa digunakan maksimal 5 orang dewasa.

Tidak enaknya menggunakan tiket ini, kami mesti berganti kereta berkali-kali sebelum hingga kota tujuan. Contohnya saja, dari Bremerhaven ke Berlin, kami mesti berganti kereta tiga kali di stasiun Hamburg-Neugraben, Hamburg-Hauptbahnhof, dan Schwerin. Selama sekira tujuh jam perjalanan. Enaknya, mata kami akan mendapatkan suguhan pemandangan indah, unik, mengagumkan, dan hal-hal baru lainnya selama perjalanan di dalam kereta.

Rute Bremerhaven – Hamburg, meski baru bagi kami, tak ada yang terlalu istimewa. Pemandangan di dominasi oleh wilayah pertanian, pemukiman, industri dan hutan-hutan. Rute Hamburg – Schwerin lebih menarik bagi saya, yang baru pertama kali ini melakukan perjalanan melalui bekas negara Jerman Timur.

Atmosfer berbeda segera terasa ketika kereta mulai memasuki negara bagian di timur Jerman. Tanah pertanian terlihat lebih kering dan tandus, tak terurus. Rumah-rumah di wilayah pemukiman juga terkesan agak kumuh, jarang, dengan bangunan-bangunan tua berwarna abu-abu. Suram.

Tujuh jam lebih naik turun kereta api tak terlalu menyiksa jika ditanggung bersama. Kami mengobrol, becanda, dan sesekali mengomentari keadaan di luar jendela kereta. Bahkan si Embak yang ketika itu berusia 3,5 tahun tak terlalu bosan berlama-lama di kereta api.

Kami tahu kami tak bakal bisa berlama-lama di Berlin. Tak mungkin menginap. Cuma kira-kira empat jam waktu tinggal kami di sana. Sehingga tak banyak tempat wisata yang bisa kami kunjungi dengan waktu sesingkat itu. Di dalam sebuah kereta, kami putuskan misi kami hari itu : Berfoto di depan Brandenburger Tor. Sebagai tanda kami pernah berada di Berlin. Tempat wisata lain, tak menjadi prioritas kami.

Suasana langsung berubah drastis kala kereta memasuki daerah kekuasaan ibu kota negara Jerman. Pemukiman merapat. Gedung-gedung tinggi bertebaran di mana-mana. Mobil-mobil memenuhi jalanan. Berkali-kali kereta api tumpangan kami berpapasan dengan kereta lainnya. Cukup padat, namun tak terkesan ruwet.

Di Berlin, Sebentar Saja

Kira-kira pukul dua siang kereta sampai juga di Berlin.

Ramai benar di stasiun Zoologischer Garten, Berlin. Entah oleh turis atau warga setempat. Padahal ini bukan stasiun utama. Selain berpenduduk lebih dari tiga juta jiwa, Berlin juga merupakan kota tujuan wisata terpenting di Jerman. Belum lagi posisinya sebagai kota budaya dan pusat pemerintahan. Rumah makan manca negara, seperti Jepang, China, India, dll terlihat di sana-sini. Berlin adalah internasional.

Tak lama berdiskusi, kami pun mulai menghadang bus ke arah kota. Menurut seorang teman, bus ini disebut bus turis karena jalurnya melewati tempat-tempat wisata utama Berlin, seperti Kurfürstendamm (Kudam), Postdamer Platz, Reichstagsgebäude, Brandenburger Tor, dll.

Sebab banyaknya turis di Berlin, setiap kali datang, bus ini langsung penuh sesak. Setiap penumpang mesti masuk lewat pintu depan dekat sopir, menunjukkan tiket yang dimilikinya. Kami tak perlu beli tiket lagi karena tiket akhir minggu kami berlaku untuk naik kendaraan umum di Berlin.

Di halte dekat Reichstagsgebäude (Gedung DPR Jerman), kami bersama rombongan turis lain keluar bus. Gedung Parlemen megah ini telah berusia lebih dari seratus tahun, dan resmi digunakan kembali oleh Republik Jerman bersatu setelah selesai renovasi tahun 1999. Pengunjung bisa naik ke atas gedung atau berada di kubah kaca raksasa di tengah atap.

Di depannya terhampar rerumputan hijau dikelilingi pepohonan dimana banyak orang berjemur, duduk-duduk, bersantai, dan bersepeda. Di seberang lapangan, tampak sebuah gedung yang setengahnya terbuat dari kaca. Dari situlah Bundeskanzler/in (kanselir Jerman) memerintah. Menurut Mbak Anky, gedung itu disebut mesin cuci, karena kemiripannya dengan mesin pencuci pakaian.

Puas berfoto berlatar belakang Gedung Parlemen, kami pun berjalan beriringan menyelesaikan misi hari ini, menuju Brandenburger Tor. Mengapa gedung ini, sedangkan masih banyak obyek wisata lain menjadi ciri khas Berlin? Karena selain posisinya tak terlalu jauh dari stasiun kereta api, gerbang ini memiliki nilai sejarah tinggi dan trade mark terbaik Berlin. Momen-momen penting seperti nonton bareng saat piala dunia, konser tingkat dunia, bahkan Love Parade (parade cinta, momen aksi pamer tubuh) juga berlangsung di sekitar gerbang ini. Menurut kami, gerbang inilah yang paling mewakili dan layak menjadi simbol Berlin.

Brandenburger Tor dapat ditempuh beberapa menit dengan berjalan kaki. Sebagian jalan masih diperbaiki. Lapangan beton di belakang gerbang, dipadati pengunjung. Jauh lebih ramai dibandingkan pengunjung Reichstagsgebäude. Velotaxi, kendaraan kayuh mirip becak berseliweran. Siap mengantarkan turis berkeliling. Ada juga kereta kuda sebagai kendaraan wisata. Kami berfoto berkali-kali berlatar belakang gerbang.

Hingga tahun 1989, Brandenburger Tor merupakan simbol pemisahan kedua Jerman. Namun setelahnya, malah menjadi simbol Jerman bersatu. Bagian atasnya dihiasi quadriga perunggu, sebuah kereta pertempuran dengan empat kuda ditunggangi oleh Dewi Perdamaian setinggi enam meter. Enam pasang pilar batunya dibangun berdasarkan Propylea, sebuah gerbang di Akropolis di Athena oleh Carl Gotthard Langhans tahun 1789 – 1791.

Kawasan sekitar gerbang tak hanya monumenal dan sarat nilai sejarah saja, namun juga merupakan daerah yang indah dan terlihat bersih. Hotel-hotel berbintang, taman indah plus air muncrat, bank-bank, kafe, turut melengkapi keindahannya.

Kelar mengisi perut, pulanglah kami kembali menuju Bremerhaven. Sungguh singkat rasanya. Namun tak apa, semuanya menyenangkan. Kami mengambil rute berbeda saat pulang. Melewati Magdeburg – Braunschweig – Hannover – Bremen. Melewati lebih banyak kota-kota baru, hal-hal baru, teman perjalanan baru. Penambah kekayaan batin.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

5 Responses to “Empat Jam di Berlin, Empat Belas Jam di Kereta Api”

  1. […] dalam kota sendiri. Transportasi dalam kota sangat penting terutama di kota-kota besar seperti Berlin, Paris, Roma, Lisbon, Barcelona, dll, dimana obyek wisata tersebar berjauhan di seantero kota. […]

  2. […] besar di negara-negara Eropa Barat dan Timur. Seperti Paris, Amsterdam, Kopenhagen, Hamburg, Köln, Berlin, Warsawa, Wina, Zurich, Milan, Zagreb, Roma, dan Venezia. Berkendara bersama mereka memungkinkan […]

  3. […] sebab Zurich adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Dibandingkan dengan Berlin, Paris, Hamburg, Amsterdam dan Bruessel, kota terbesar di Swiss berpenduduk sekitar 365 ribu jiwa […]

  4. […] laut negeri ini. Ibukotanya Postdam, mengelilingi negara bagian khusus ibukota Jerman bersatu, Berlin. Bersebelahan dengan Mecklenburg Vorpommern, Brandenburg juga punya banyak sekali danau sebening […]

  5. […] wisata di tempat tujuan. Semakin terkenal suatu kota atau daerah wisata seperti Paris, London, Berlin, dsb, maka pilihan buku pun akan makin beragam. Untuk daerah-daerah kurang terkenal, maka […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>