Bertahun mengeker harga tiket pesawat di aneka situs, dengan mengejutkan, Emak menemukan tiket murah ke Siprus. Waktunya pas dnegan liburan sekolah Embak di musim gugur. Berdiskusi sejenak dengan Bapak soal cuti beliau, tak lama dan tanpa berpikir terlalu panjang, kami beli tiket Ryanair tersebut. Terbang dari satu bandara di Belgia, Charleroi.

Sebenarnya beberapa bandara Ryanair di Jerman juga punya destinasi ke negeri di Laut Tengah ini. Baik ke Larnaka, maupun Pafos. Akan tetapi, harganya tak ada yang bisa mengalahkan harga tiket dari Charleroi. tentu saja kami memperhitungkan ongkos dan biaya parkir kendaraan selama seminggu perjalanan. Eh, ternyata tak hanya kami berminat ke sana. Beberapa teman menyatakan diri ikut serta. Total, kami pergi berdelapan.

Jauh hari sebelum membeli tiket, Emak sudah mengecek tentang perlu tidaknya kami mengurus visa kunjungan. Informasi umum mengatakan bahwa kami butuh visa. Namun ada satu situs resmi dari pemerintah Siprus, berbahasa inggris, mengatakan warga negara “third nations” pemilik visa Schengen tak butuh visa untuk masuk ke sana.

Mulanya Emak tenang-tenang saja, sebab merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sampai kemudian Mas Riza mengatakan bahwa kami butuh visa. Memang ada beberapa kalimat membingungkan tentang peraturan tersebut. Ada negara-negara tertentu tak butuh visa. Mas Riza menganggap negara-negara tersebut termasuk “third nations”. Dan Indonesia tak termasuk.

Emak terpengaruh juga dengan asumsi beliau tersebut. Sehingga perlu menanyakan pada sebuah grup backpaker. Emak bertanya, siapa tahu ada WNI pemegang visa Schengen masuk ke Siprus tanpa visa. Jawabannya, kami butuh visa.

Akhirnya kami sepakat untuk menanyakan langsung ke konjen Siprus di Jerman. Emak menelpon konjen di Bonn. Eh, mbak penerima telpon, mengatakan tak tahu menahu soal visa. Beliau kemudian menghubungkan dengan kedutaan Republik Siprus. Langsung dari Berlin. Seorang Bapak menjawab. Emak utarakan maksud menelpon. Mengatakan bahwa kami sudah membeli tiket untuk berlibur ke Siprus. Akan berangkat dari Belgia. Beliau menjawab, pemilik visa Schengen residen tetap, tak perlu visa. Tapi yang belum tetap butuh visa. Print saja peraturannya. Kadang ada petugas bandara tak tahu peraturan tersebut, pesan si Bapak.

Aihhh, ini lebih membingungkan lagi. Di peraturan bahasa inggris tersebut tak ada bedanya antara residen permanen atau bukan. ia cuma mengatakan pemegang visa Schengen. Jadi kami artikan, pemiliki visa turis Schengen pun boleh masuk tanpa visa.

Keesokan harinya, Mas Riza kembali menelpon. Kali itu penjawabnya ibu-ibu. Beliau memberi informasi berbeda lagi. Katanya semua pemegang visa Schengen bisa masuk Siprus tanpa urus visa masuk lagi. Ketika Mas Riza bilang kenapa bapak-bapak kemarin infonya berbeda, eh si ibu marah-marah. Kalau udah nelpon kenapa nelpon lagi. Akan tetapi kami sudah mendapat konfirmasi mengenai ketidakbutuhan visa. Walau tak meyakinkan seratus persen.

Diskusi lagi dengan semua peserta perjalanan, kami sepakat untuk kompak tidak mengurus visa. Kami siapkan semua dokumen yang dibutuhkan.

Di bandara, kami terpisah menjadi dua rombongan. Rombongan Mas Riza, tak ditanya apa-apa. Eh, kami sekeluarga sempat ditanya apakah kami tak butuh visa masuk Siprus. Emak bilang sudah menelpon kedutaan dan menunjukkan peraturannya. Si ibu petugas check in menelpon sebentar. Sebelum mengatakan bahwa kami bisa masuk Siprus tanpa visa. Alhamdulillah. Lega sekali rasanya.

Sampai di bandara Larnaka, petugas imigrasi menanyai bukti reservasi hotel kami selama di Siprus. Setelah dokumen yang dibutuhkan kami tunjukkan, stempel Siprus pun ‘nangkring’ di paspor kami.

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>