Cuaca Amsterdam sangat garang akhir minggu itu. Hampir tak memberi kami kesempatan untuk keluar tenda. Udara lumayan dingin di musim panas itu. Kami ke tempat persewaan kayak. Harus kecewa sebab alasan cuaca, si Embak penjaga tak memperkenankan kami untuk bermain air Sabtu itu. Padahal kami sudah semi memohon. Mengatakan bahwa tujuan kami ke Amsterdam adalah untuk bisa memegang dayung. Si Embak cuma bilang sori.

Lewat tengah hari, mendung masih tebal. Namun hujan mulai menipis. Angin pun masih berhembus. Tak sekuat malam dan pagi harinya. Bosan di dalam tenda sempit, kami putuskan pergi ke pusat Amsterdam. Adik belum pernah kesana. Tak bawa kendaraan pribadi. Khawatir susah parkir kendaraan. Dapat pun, di pusat kota, bakal sangat mahal.

Hampir tak ada hal murah di Amsterdam. Kami mau meminta peta kota di resepsionis tempat kemah. Gratisan tak ada. Dua setengah euro harganya. Biasa dapat gratis, sayang sekali duit buat beli peta. Ah, mungkin di informasi turis ada, pikir kami.

Ada dua halte di sekitar Camping Zeeburg. Kami pilih naik tram dekat Park & Ride. Sekitar sekilometer berjalan dari tempat kemah. Tiket langsung dibeli di dalam kendaraan. Ada loket khusus di badan tram. Anak empat tahun seperti Adik sudah bayar penuh. Dua koma tujuh euro per orang. Sepuluh koma delapan euro kami bayar. Sekitar 140 ribu rupiah untuk perjalanan tram tak sampai lima belas menit. Amsterdam memang keterlaluan. Tak ramah bagi keluarga dengan anak-anak, komentar Emak dengan sangat bete.

Di kantor informasi turis seberang stasiun Amsterdam Centraal, satu peta kota berharga 4,30 euro. Jauh lebih mahal dibanding peta di tempat kemah. Bersungut-sungut kami berjalan menuju pusat kota. Tanpa peta. Biarlah. Toh kami tak berniat menjelajah isi kota. Hari itu hari tim nasional Belanda akan bertarung melawan Denmark. Damrak dihiasi asesoris serba oranye. Warna kebangsaan Belanda. Ratusan suporter memakai bermacam asesoris berwarna sama. Sebuah toko menjual asesoris sangat murah. Sempat hati kami tertarik untuk membeli sebuah topi badut berwarna oranye. Ujungnya, kami beli bibit tulip buat ditanam di rumah.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

One Response to “Grachtenfahrt Amsterdam (1)”

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>