Musim panas telah berlalu. Berganti dengan musim gugur. Angin bertiup kencang. Perlahan tapi pasti, temperatur udara mulai bergerak mendekati titik beku. Hujan semakin sering menyapa bumi Eropa. Kadang deras. Kadang rintik-rintik. Kadang kabut.

Hidup di sini, kami selalu berusaha menikmati semua musim yang kami alami. Menganggap siklus alam ini sebagai bagian hidup kami sehari-hari.

Memang tak enak jika suhu udara mulai dingin. Mesti pakai baju tebal, sering kehujanan, bertoleransi dengan kencangnya angin, dan banyak hal tidak enak lainnya. Namun bukan berarti musim gugur tak punya nilai positif atau tak bisa dinikmati. Banyak juga hal-hal yang mampu membuat kami merindukan musim ini saat dia tlah berlalu.

Seorang teman kami, Mbak Anky, bilang bahwa dia suka musim gugur karena kesannya jadi romantis. Di musim ini, langit sering berwarna kelabu, dan malam datang lebih cepat. Melihat warna-warna kelabu suka menjadikan orang berubah melankolis dan sok romantis. ceilee. Belum lagi ditambah warna-warna natural daun di musim gugur. Merah, coklat, kuning, menambah keindahan alam di musim rontok ini.

Ada beberapa jenis makanan yang cuma bisa didapatkan di musim gugur dan dingin yang membuat kami menyambutnya dengan suka cita. Yang palingĀ  kami nanti, adalah musim marone alias esskatanien alias edelkastanien. Wah, kami suka sekali sama makanan ini. Orang Inggris menyebutnya chestnut. Di pasar-natal atau pasar malam, makanan ini dijual dengan harga mahal. Dua hingga tiga euro untuk beberapa biji marone. Hueaks. Padahal, jika memanggang sendiri, harganya jauh lebih murah.

Buah-buah musim gugur tak kalah mengundang selera. Contohnya saja jeruk clementine dan buah khaki. Keduanya bisa membuat lupa diri saat memakannya. Saat pertama muncul biasanya akan kita temui clementine dengan rasa asam, setelahnya baru ada yang berasa sangat manis. Rasa buah khaki mirip sawo, tapi daging buahnya lebih keras, dan warnanya kuning dan oranye. Kata seorang teman, buah khaki ini tak lain dan tak bukan adalah buah kesemek yang telah dilap bedaknya. Karena kami sudah lupa rasa buah kesemek dari tanah air, kami iyakan saja.

Di awal musim gugur, saat anak-anak sekolah libur, ada yang namanya Freimarkt atau Pasar Malam selama dua minggu di berbagai daerah Terutama di Jerman utara dan selatan. Dulu waktu masih tinggal di ujung atas Jerman, EmbakĀ  yang paling bersemangat. Disana dia paling seneng naik kuda. Jika kita ke pasar malam, dia rela nggak naik karusel atau maianan lainnya, asal diijinkan naik kuda. Pasar malam terbesar di utara Jerman adalah Ischaa Freimaak di Bremen, yang dikunjungi tak kurang 4 juta pengunjung setiap tahunnya. Sayangnya di daerah sini (barat) musim pasar malam sudah berlalu di musim gugur.

Satu hal lagi yang kami sukai di musim gugur adalah perpindahan waktu musim dingin atau Zeitumstellung. Di hari Minggu terakhir bulan Oktober, waktu diputar ulang satu jam, pukul tiga pagi diputar kembali menjadi pukul dua dini hari. Pemutaran waktu ini menurut kami sangat tepat dilakukan, mengingat malam hari lebih panjang dibanding siang hari. Dengan waktu musim dingin, Embak menjadi bangun lebih cepat, sehingga tak perlu terburu-buru ketika bersiap pergi ke sekolah.

Hmmm, siapa bilang musim gugur tidak enak dan membosankan? :)

Possibly Related Posts:


Tags:

3 Responses to “Hal-Hal Yang Kami Sukai Tentang Musim Gugur”

  1. Shin-kun says:

    hiks…hiks… kapan daku bisa ke luar negeri… :(, pengennn…

  2. ira says:

    semoga suatu saat….

  3. […] kecil biasanya tak mampu menahan kencangnya angin di Eropa. Apalagi di awal musim semi dan di musim gugur. Jika cuaca sangat panas, nantinya bisa diantisipasi dengan banyak membawa air putih dan […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>