Di era mahalnya waktu dan kenyamanan dalam berbelanja seperti sekarang ini, orang semakin banyak berbelanja secara daring. Tren belanja dari internet rasanya tak bakal turun beberapa tahun mendatang.

Setiap hal punya dua sisi mata uang. Sisi positif dan negatif. Positifnya, yang diuntungkan dengan kondisi sekarang adalah toko-toko online besar dan jasa pengiriman barang. Hampir semua barang bisa dibeli dengan beberapa kali klik. Bahkan mulai ada bahan makanan segar yang bisa diantar langsung ke rumah-rumah. Jika membeli lewat aplikasi tertentu. Menjelang hari natal apalagi. Jasa pengiriman ramai. Sampai deutsche post, jasa pengiriman besar Jerman membuka lowongan khusus bagi tukang pos pengirim paket. Syaratnya kudu kuat dan punya SIM mobil.

Produk lokal lebih keren

Heimat shoppen

Contoh negatifnya seperti terlihat di kota kami tinggal dahulu, Bremerhaven. Pusat kotanya sepi. Toko-toko baju, toko barang murah, restoran, buka sebentar, trus tutup lagi. Apalagi kalau musim dingin yang malamnya cepat datang. Seperti kota mati saja.

Jika tren ini berlanjut, akibatnya kurang menguntungkan bagi pedagang langsung lokal. Di Jerman, dampak ini mulai terasa beberapa tahun belakangan. Jumlah toko-toko kecil yang tutup karena bangkrut makin banyak. Fenomena ini terutama melanda desa dan kota-kota kecil.

Dalam jangka panjang, hal ini akan mempengaruhi keberlangsungan hidup sebuah kota atau desa. Pengangguran bisa meningkat, infrastruktur berkurang kemanfaatannya, jumlah turis akan merosot. Siapa mau mengunjungi sebuah kota sepi atau mati?

Di dekat tempat tinggal kami di Stockheim, contohnya. Dulu terdapat sebuah toko roti, makanan olahan daging, sekaligus kios koran dan majalah. Ia juga melayani pengiriman paket dan surat. Kalau kehabisan susu di hari Minggu, kami lari ke sana. Sayangnya sudah tutup karena makin sepi pengunjung. Harganya memang agak mahal dibanding belanja di toko lebih besar. Paling sebel, karena kalau kirim surat atau paket, kami harus berkendara jauh lebih jauh dari rumah.

Dari kondisi semacam inilah, Heimat Shoppen digagas. Jika diartikan bebas, artinya belanja lokal. Belanja ke tempat dekat rumah, belanja ke tempat usaha teman atau saudara sendiri. Bukan berarti melarang orang berbelanja daring melalui toko nun jauh di sana. Akan tetapi, lebih pada usaha untuk meningkatkan kesadaran warga untuk bagi-bagi rezeki ke dunia usaha lokal. Agar semuanya seimbang.

Satu negeri yang menurut Emak masih bisa mempertahankan usaha lokalnya menurut Emak adalah negara Singapura. Meski pun ia memiliki banyak pusat perbelanjaan besar dan toko online pastinya, toko-toko serta kios-kios kecil di pinggiran masih bisa bertahan hidup. Ada toko kelontong, rumah makan tradisional, toko buah, toko alat-alat rumah tangga, toko khusus barang plastik, toko khusus alat-alat bengkel, dna masih banyak lagi. Mengagumkan sekali. Salah satu pendukungnya mungkin karena kebanyakan warga di sana memilih untuk tidak memiliki kendaraan sendiri, ya. Jadi mending belanja apa-apa pilih di tempat terdekat dari rumah.

Salah satu usaha meningkatkan kesadaran tersebut di wilayah tempat tinggal kami, adalah dengan membagikan koran edisi khusus. Koran setebal lebih dari seratus halaman tersebut isinya segala informasi menganai program Heimat Shoppen, upaya-upaya menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga infrastruktur lokal, serta kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh dunia usaha lokal. Pun beberapa usaha lokal yang bisa ditemukan di daerah sekitar tempat tinggal kami.

Lalu ada pula program sosialisasi di beberapa kota. Sejak beberapa tahun terakhir sebenarnya usaha yang sama sudha mulai dilakukan di beberapa supermarket di sini. Misalnya saja mereka menjual sayur dan buah lokal yang sedang musim. Memberi label besar-besar: Aus unserer Region (dari wilayah kita).

Setelah membaca sebagian isi koran tersebut, hasilnya Emak rasakan sendiri. Paling tidak, Emak mulai memiliki tekad untuk lebih banyak melihat di sekitar tempat tinggal untuk berbelanja. Khususnya berbelanja kebutuhan pokok. Seperti beli roti di toko terdekat. Agar satu-satunya toko roti terdekat rumah ini tidak tutup juga.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

5 Responses to “Heimat Shoppen, Belanja Lokal Ala Jerman”

  1. Emakmbolang says:

    Idenya bagus banget banget.

    Kalau di India masih mempertahankan pasar, karena dari sinilah ekonomi India hidup. Justru supermarket besar banyak yang gulung tikar, karena pajak.

    Supermarket hanya didatangin kalangan kelas atas saja. itupun hanya sedikit. kebanyakan belanja di market, memang asyikk juga belanja di pasar pasar India, meski kumuh tapi intresting. hehehe

  2. ira says:

    @Zulfa: sip banget. Di maroko aku liat pasar2 tradisional juga masih sangat ramai. Jarang ada supermarket. Kalau di kampungku banyak toko kecil mati. Orang maunya belanja di minimarket. Adem.

  3. Dedew says:

    wah ternyata dampak toko online besar banget ya mba sampai pada tutup toko beneran, sedih juga…

  4. Ima says:

    Kalau di jogja, toko modernnya dipegang 2 brand besar, tapi untunglah pasar2 tradisional masih ada dan semakin bersih.

  5. ira says:

    @Mbak Dew: banget, Ma. Kalau keduanya bisa balance, lebih bagus, ya..

    @Ima: syukurlah. Jadi tambah nyaman belanjanya.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>