Kepergian kami ke Antwerpen termasuk mendadak. Hanya sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan. Untuk perjalanan disertai waktu menginap, dua minggu merupakan waktu yang agak singkat untuk merencanakan semuanya. Walau sebelumnya kami sudah berencana kesana, namun kepastiannya baru kami dapatkan setelahnya. Padahal sebelum sebelum keberangkatan saja, saat mengcek harga hostel di kota ini, kami lihat harganya sudah mendekati angka 100 euro per kamar semalam. Bukan harga murah bagi kami sekeluarga.

Mas Riza sekeluarga, teman seperjalanan ke Antwerpen berencana menginap di Hotel Ibis. Lumayan, tak terlalu mahal. sekitar 65 euro-an per malam, kata beliau. Kami cek ke Hotel Ibis, lokasinya ternyata tak di dalam kota. Untuk Hotel Ibis dalam kota, tarifnya lebih mahal lagi. Hampir sama dengan hotel lain yang kami lihat dari situs booking hotel langganan keluarga pelancong. Eh, tiba-tiba Emak teringat bahwa di Eropa Barat ada jaringan hostel yang lumayan terjangkau harganya, yakni Etap Hotel. Hanya dengan tarif 50,50 euro per malam kami bisa menginap di sana. Jauh lebih murah dibanding yang lainnya. Langsung kami pesan.

Etap ini adalah jaringan hotel, satu induk dengan Accor, tapi untuk segmen murah. Cocok bagi keluarga pelancong.

Teman kami, mas Riza ternyata memutuskan menginap di hotel yang sama. Tarifnya lebih murah dan lokasinya pun tak jauh dari stasiun pusat Antwerpen. Saat check-in kami agak deg-deg-an. Sebab ada sedikit kerancuan dalam peraturan hotel. Saat memesan, ada aturan bahwa satu kamar maksimal bisa diisi tiga orang baik dewasa maupun anak-anak. Tapi ketika dibaca lebih lanjut, boleh membawa hingga dua anak. Namun semuanya berjalan lancar di meja resepsionis. Walau kami mesti menunggu lama. Sebab salah seorang diantara kedua Bapak resepsionis tersebut baru mulai hari pertama kerjanya di hari kedatangan kami. Sehingga Bapak lainnya mengajari sambil melayani tetamu.

Hari itu, semua kamar hotel berjumlah hampir 150 penuh dipesan orang. Sampai seorang Bapak berkulit hitam yang tak kebagian kamar bilang, bahwa kami mengambil jatah kamar terakhir yang seharusnya jadi milik mereka. Emak terangkan bahwa kami sudah memesan jauh-jauh hari lewat internet.

Tarif tersebut diatas tak termasuk sarapan. Jika mau sarapan, mesti menambah 6 euro per orang. Jatuhnya jauh lebih mahal dengan jika kita membeli atau membawa makanan sendiri.

Setelah check in dan membayar tarif bermalam satu malam, kami tak mendapat kunci atau kartu. Melainkan suatu bukti pembayaran dengan suatu nomor khusus. Nah nomor tersebut dipergunakan untuk membuka kamar.

Kesan pertama, hotel ini bersih. Mulai dari ruang resepsionis, lobi, lift, koridor. Pintu kamar terbuka tanpa masalah. Kamarnya juga relatif bersih. Kamar mandinya sangat kecil, mirip sebuah kotak dengan pintu plastik, terpisah dengan WC. Perlengkapan standar seperti sabun dan gelas tersedia di wastafel persis dekat kamar mandi. Selain satu tempat tidur dobel, ada satu lagi tempat tidur tinggu pas di atasnya. Anak-anak langsung berebutan memanjat ke atas. Satu televisi model lama 14 inchi terletak di satu pojok. Acaranya dalam bahasa Belanda dan Perancis. Tak banyak pilihan, tapi ada stasiun khusus anak.

Dengan standar harga sedemikian, menurut kami hotel ini lumayan nyaman. Jika harganya tetap rendah, tentu kami mau menginap lagi di jaringan hotel ini.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>