Jalanan sempit berkelok-kelok. Melewati desa-desa kecil dengan beberapa rumah penduduk serta naik turun perbukitan. Sepanjang jalan sangat sepi. Sesekali saja mobil lewat atau saling berpapasan. Kota Hum di wilayah Istria, Kroasia, tak hanya layak mendapat julukan kota terkecil di dunia. Lokasinya pun sungguh terpencil di atas Lembah Mirna.

Kota paling kecil dunia

Kota terkecil di dunia

Sejak konflik dengan Serbia mereda bertahun lalu, negara Kroasia banyak berbenah. Ia telah resmi masuk dalam jajaran negara Uni Eropa tahun ini. Salah satu negara di tepi Mediterania ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan. Dia bisa diakses lewat jalur darat dari Wina di Austria atau Budapest di Hungaria. Juga dari Slovenia yang juga berbatasan langsung dengan Kroasia. Atau lewat udara dari bandara-bandara besar Eropa.

Selain punya kota-kota tua peninggalan Romawi kuno, desa-desa cantik tepi laut bernuansa Mediterania, serta pemandangan alam spektakuler, Kroasia punya satu hal unik, kota paling mini sedunia.

Kota Hum terletak di wilayah bernama Istria. Tak jauh dari perbatasan dengan Slovenia. Sekitar 14 km dari kota bernama Buzet. Jika lewat pesisir Teluk Kvarner, ia bisa dicapai dari kota Opatija. Buzet sendiri adalah daerah yang terkenal akan truffle-nya. Jamur mahal yang dipuja pecinta kuliner. Setiap tahun diadakan festival truffle di Buzet. Selain demo dan lomba masak, ribuan orang dan anjingnya berlomba mendapatkan truffle terbanyak. Jalan beraspal ke arah Hum memiliki lebar sekitar 3 meter saja. Jika mobil tumpangan berpapasan dengan mobil lain, salah satu harus minggir ke arah semak-semak di tepi jalan.

Bukan hanya kecil dan terpencil, Hum atau Colmo dalam bahasa Italia adalah kota tua berumur lebih dari sepuluh abad. Penampilan kota tuanya tak berubah sejak abad sebelas masehi. Menjadikannya salah satu permata sejarah dan budaya di Kroasia. Menurut Wikipedia, penduduknya sekitar 30 orang sahaja. Di dalam tembok kota, ada sekitar 20 bangunan. Sedangkan di luar tembok mulai dibangun satu dua bangunan baru.

Sebuah tempat parkir luas berada luar tembok kota. Di sebelah kompleks pekuburan dan sebuah kapel kecil. Dari sini, kita bisa menyaksikan hutan, perbukitan, dan daerah pertanian di sekitarnya. Predikat unik sebagai kota paling mini di jagat raya, serta arsitektur kuno menarik perhatian banyak orang untuk bertandang. Biasanya orang langsung berfoto di sekitar papan nama Hum.

Menjelajahi Hum adalah pengalaman berkesan. Serasa memasuki masa silam tanpa mesin waktu. Dari parkiran, berjalan saja ke arah kanan tembok kota. Akan kita temui sebuah gerbang berwarna hijau. Luas kota Hum kira-kira 100 x 35 meter persegi. Sepuluh menit satu berjalan seluruh bagian kota akan bisa kita lihat. Untuk menikmati isi kota dengan baik, tentu saja butuh lebih dari sepuluh menit.

Suvenir Kroasia

Oleh-oleh dari Hum

Jika berjalan terus di luar tembok, sebuah Konoba, rumah makan menjual hidangan tradisional setempat. Buku panduan wisata menyarankan para pengunjung Hum agar tak melewatkan Konoba. Ia menghidangkan menu lengkap mulai makanan pembuka hingga kue-kue manis selera lokal. Pemandangan dari Konoba ke arah lembah dan perbukitan sekitarnya tak kalah spektakuler.

Gerbang masuk Hum berada di bawah sebuah menara. Ada ruang kosong di belakang gerbang. Gerbang tersebut terdiri dari dua daun pintu yang bagian atasnya  berhias 12 ornamen medalion. Gambar-gambar medalion menunjukkan corak kehidupan penduduk lokal. Tepat di samping menara berdiri sebuah gereja.

Baik tembok kota dan sebagian perumahan penduduk terbuat dari bebatuan alam berwarna terang. Demikian pula jalanan sempit di antara rumah-rumah penduduk. Sebagian ditumbuhi lumut. Jalanannya naik turun. Hum terlihat sangat kuno. Namun bersih, rapi dan terawat. Sesekali kesan modern muncul dari lampu-lampu penerang kota.

Hum jatuh ke bawah kekuasaan Venezia tahun 1412. Dan sempat terbakar di awal abad 17. Ia dibangun kembali di abad yang sama. Hingga abad 19, tulisan kuno Glagoliza masih dipergunakan di sini. Tulisan ini adalah tulisan tertua bangsa Slavia. Monumen-monumen untuk mengenang budaya Glagoliza (Aleja Glagoljasa) bisa kita temukan antara kota Roc dan Hum, berjarak 6 km.

Penduduk Hum juga ramah. Sering menyapa pengunjung kota mereka. Rumah-rumah penduduk saling berdekatan, halaman mereka sempit, namun sering terlihat pepohonan. Di depan rumah penduduk  tumbuh bunga-bunga cantik.

Suasana turisme tetap terasa di Hum. Ia punya satu penginapan dan toko-toko penjual cinderamata. Madu, aneka selai, minyak zaitun, dan produk olahan truffle si jamur istimewa kerap diburu para wisawatan.

Sebelum meninggalkan Hum, tak ada salahnya menyempatkan diri mengunjungi kompleks pekuburan di samping tempat parkir. Makam-makamnya terbuat dari batu marmer. Di dalam kapel kecil, masih bisa kita saksikan sisa-sisa fresko menggambarkan cerita-cerita religius bagi umat Kristiani.

*Anakku*

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , ,

4 Responses to “Hum, Kota Terkecil di Dunia”

  1. Katerina says:

    Penduduknya cuma 30 orang? Di RT ku saja lebih dari 30 orang mbak. Pantesan disebut kota termini ya :D

  2. ira says:

    @Mbak Rien: Iyah, kecil dan sedikit sekali penduduknya..

  3. Jadi jalan kaki aja udah keliling satu kota ya mbak :D cakeeppp

  4. ira says:

    @Cek Yan: ho-oh. jalan kakinya bentar banget…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>