Tak lama berada di Merkez Moschee, Duisburg, rombongan kembali bergerak menuju Duesseldorf. Kami berniat ke Immermannstrasse, suatu jalan di pusat kota Duesseldorf dimana ada dua toko Jepang besar.

Dari Duisburg, perjalanan dengan kereta api menuju ibukota negara bagian Nordrhein-Westfalen memakan waktu tak sampai setengah jam. Kami manfaatkan untuk memakan bekal dari rumah selama dalam kereta api.

Cuaca lumayan cerah sesampai kami di Duesseldorf. Kami masuk sebentar di kantor informasi turis. Ada beberapa magnet pajangan lucu penarik perhatian. Ternyata Immermannstrasse, berada pas di samping kantor informasi tersebut.

Usai membeli cinderamata kota, kami langsung berbelok ke Immermannstrasse. Pertama tak terlihat tanda-tanda komunitas Jepang. Namun makin jauh kami berjalan semakin terbukti bahwa Duesseldorf punya banyak ekspat Jepang. Gadis-gadis berpakaian ala Harajuku. Dengan sepatu, baju serta rambut warna-warni. Toko-toko serta kantor-kantor bertuliskan huruf Jepang. Satu toko buku nampaknya menjual komik-komik, pernak-pernik dari negeri Sakura. Highlight jalan ini adalah Hotel Nikko, latar belakang foto bersama kami. Disini ada salon rambut Jepang dengan tarif sangat mahal bagi kantong kami. Kata salah satu teman, untuk potong rambut saja, bis akena 45 euro.

Di seberang ada kedai makan, beberapa toko termasuk toko roti khas Jepang. Perusahaan-perusahaan negeri sakura punya banyak perwakilan di sini. Kami tak tahu mengapa, banyak sekali orang Jepang di negeri ini. Konon, jumlahnya lebih dari 50 ribu orang. Ekspat Jepang terbesar di Eropa setelah London dan Paris.

Tak lama, kami sampai di Dae Yang, satu dari dua supermarket Jepang disini. Tokonya lumayan padat dna agak sempit lorong-lorongnya. Bagian kanan dekat pintu masuk, ada penjual makanan jadi : bento serta aneka macam sushi. Toko ini cukup ramai. Tak hanya orang-orang Jepang. Namun juga wajah-wajah bule. Harga barang-barang di sini lebih mahal dibanding toko oriental biasa. namun memang banyak sekali bahan makanan Jepang yang tak kami temui di toko Asia biasa.

Para ibu (Emak dan teman-teman) sebenarnya berniat mencari pernak-pernik bento disini. Sayang hanya nemu sedikit : cetakan sushi, cetakan onigiri, dan pembatas makanan. Sedangkan kotak bento idaman tak kami temukan. Kami berempat membeli kue mochi dan manu mini dalam kemasan sangat cantik. Sebab mahal, kami patungan membelinya.

Pun di Sochiko, toko Jepang lainnya. Menurut Maki di website JustHungry, Sochiko dimiliki oleh orang jepang asli. Sedang Dae Yang milik orang Korea. Di sini ada tukang ikan segar. Outlet bento juga ada. Karena sudah berbelanja di Dae Yang, kami hanya melihat-lihat. Untunglah harga barang-barang di Dae Yang lebih murah. jadi kami tak menyesal berbelanja lebih dulu di sana.

Possibly Related Posts:


Tags:

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>