(dari sini)

ski-grindelwaldDesa kecil nan ramai. Itu kesan kami akan Grindelwald. Hari sudah mulai gelap. Orang-orang sedang bubaran main ski. Bus-bus berdatangan mengangkut mereka yang akan pulang. Kereta api pun penuh sesak. Di kereta, deretan peralatan ski memiliki tempat khusus.

Kami masih berkutat dengan kebingungan untuk menemukan tempat parkir. Berbelok ke arah Endweg, ada tempat mobil berdiri berderet-deret. Tak ada satu celah kosong. Ban mobil sedikit tergelincir. Salju sangat tebal dan tak dibersihkan. Sedikit panik sebab ada mobil lain hendak lewat, Bapak akhirnya bisa menguasai kemudi. Keputusan kembali diambil cepat. Tanpa rantai ban khusus musim dingin, tak mungkin kami lanjutkan perjalanan di jalanan bersalju tebal. Untunglah tak jauh dari stasiun, kami temukan satu tempat parkir. Kami booking dua jam. bergegas, kami pakai kostum olah raga musim dingin tebal. Celana main ski, sarung tangan tebal. Orang-orang sudah mulai kembali menuju mobil masing-masing. Bus-bus dan kereta api hilir mudik.

Hari bertambah gelap. Jelang matahari terbenam. kami tak kehilangan semangat. Membawa dua seluncuran salju, kami mencari jalan menuju suatu tempat di bawah sana. Dimana kami lihat ratusan mobil diparkir dan satu kompleks ski luas. Seorang lelaki meluncur bersama alat skinya lewat satu gang. Kami ikuti dari belakang. Gang tersebut berakhir di sebuah lapangan luas dengan salju setebal kira-kira satu meter. Ada pagar di ujung bawah pembatas lapangan.

Bapak dan anak-anak berteriak kegirangan melihat salju setebal. Mari kita meluncur ke bawah sana, kata Bapak sambil menarik Adik yang sudah duduk di seluncuran. Emak berdiri, ragu. Yah, daripada mengambil jalan memutar yang tidak jelas, Emak ikut turun membawa seluncuran. Seluncuran tak bisa meluncur deras. Salju terlalu tebal dan tak padat. Hanya beberapa meter ditunggangi, langsung jeblos ke bawah. Berjalan pun mesti hati-hati. Terkaget-kaget kami berjalan, terperosok berkali-kali, lalu tertawa senang. Saling mengejek satu sama lain jika ada yang jatuh.

Meloncat pagar pembatas, kami sampai jalanan mobil lagi, sepasang anak muda meluncur dengan senang. Emak tak berani membiarkan Bapak dan anak-anak meniru mereka. Sesekali ada mobil lewat situ. Sementara di trotoar, salju lebih licin. Bapak meluncur, dengan kedua kaki siap-siap mengerem. Emak dan Embak berjalan pelan berhati-hati. Sepatu musim dingin kami dengan sol kasar tetap meluncur di turunan jika kami tak berjalan dengan berpegangan pagar pembatas jalan. Tak jauh dari sana, kami lihat jelas ratusan mobil parkir di bawah sana. Tempat tersebut kami ketahui kemudian bernama Gerindelwald Grund. Turunannya penuh salju dan bisa digunakan main seluncuran. Sekali lagi mesti hati-hati sebab jalan kecil ini juga digunakan pejalan kaki dan ujung dibawahnya tepat di mulut parkiran ynag masih dipenuhi kendaran para pemain ski.

Bapak meluncur senang. Emak agak takut, tapi ingin turut memacu adrenalin, mengajak Embak meluncur berdua. Orang-orang ramai di tempat parkir. Siap-siap meninggalkan pusat ski. Kami melewati stasiun Grund, mencari celah untuk dapat sejenak naik turun dengan seluncuran. Kami temukan satu jalanan kecil. Dekat jalanan utama dimana orang baru selesai bermain ski dekat sekali dengan sungai kecil. Adik lebih suka memperhatikan aliran sungai. Sementara kami main bergantian. Ketika hari semakin gelap, dan khawatir waktu parkir terlewati, kami naik melewati tempat dimana kami datang. Tertatih-tatih, napas tersengal-sengal dan kembali jatuh bangun di atas lapangan luas bersalju tebal. Dan sampai di mobil seperempat jam sebelum waktu habis. Kami menarik napas lega. Kaki Emak agak kram karena acara buru-buru dan adegan jatuh berulang kali.

Kami membuka kostum tebal dengan santai, sholat, dan ngemil sebelum kembali ke Zurich. Menempuh perjalanan yang diawali macet panjang antara Grindelwald-Interlaken. Kabut tebal sepanjang Interlaken- Luzern dengan medan menegangkan meliuk-liuk di bahu pegunungan dan salju tebal di kedua sisi jalan. Emak komat-kamit berdoa sambil ikut memperhatikan alat navigasi dan jalanan. Memperingatkan Bapak jika ada tikungan jalan, turunan atau tanjakan ekstrem.

Hari itu sungguh melelahkan. Dari ibukota yang suram, ke Interlaken, lalu ke resort ski menawan. Tapi kami sedang sangat antusias. Sehingga semua jadi terlihat menyenangkan. Bapak bilang, insyaallah kami akan kembali ke Grindelwald. Seharian kalau perlu. Mau main salju sepuasnya. Amin…:)

(tamat)

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

2 Responses to “Interlaken dan Grindelwald (3)”

  1. […] Grindelwald menggantungkan sebagian besar hidupnya dari sektor pariwisata. Lebih separuh penghasilan berasal dari sini. Di musim dingin, berdatangan penghobi atau olahragawan musim dingin, terutama ski. Di musim lebih hangat, berdatangan para turis biasa atau penyuka olah raga mendaki gunung. Jika mau ke Jungfraujoch, puncak dengan salju abadi, orang suka mampir kemari. (bersambung) […]

  2. […] Seluncuran babak kedua kami lakukan di Grindelwald. […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>