Dalam usahanya merebut Galia sejak tahun 58 sebelum masehi, bala tentara Romawi kuno di bawah Julius Caesar melewati bagian selatan Jerman. Termasuk daerah antara Sungai Rhein dan Sungai Maas yang disebut Treverer.

Sebagai ibukota wilayah ini, Kaisar Augustus membangun kota Trier tahun 17 sebelum masehi. Dalam bahasa latin, namanya adalah #AugustaTreverorum, kota tertua di Jerman. Panjangnya kekuasaan Romawi kuno hingga akhir abad 5 menyebabkan Trier mengalami Romanisasi.

Rumah kuno di Trier, Jerman

Rumah kuno di Trier, Jerman

Walau banyak dihuni oleh bangsa Jerman dan Galia, Latin menjadi bahasa pengantar resmi di Treverer. Kota Trier dibangun berdasarkan prinsip pembangunan kota Romawi kuno. Jaringan jalanan dibangun dari utara ke selatan dan barat ke timur. Sehingga membentuk blok-blok berbentuk persegi panjang. Di sumbu persilangan jalan, berdiri forum lengkap dengan pasar dan gedung para penguasa kota.

Areal kota seluas kira-kira 285 ha dikelilingi tembok sepanjang 6,5 km. Pintu gerbang utara, Porta Nigra, dibangun abad 2 masehi, masih berdiri tegar hingga kini. Sebagai pelengkap, mereka membangun sebuah jembatan di atas sungai Mosel, serta sebuah Amfiteater.

Pemandian umum sebagai sarana kebersihan warga didirikan. Bangunan saluran air (aquaduct) untuk memenuhi kebutuhan air warga nyaris tak tersisa. Pun sisa-sisa tempat pemujaan (Kapitol), tersisa hanya pondasinya.

Untuk menyaksikan dan mengenal bekas-bekas peninggalan Romawi di kota tertua Jerman ini, pengunjung bisa mengikuti tur khusus yang diadakan oleh pusat informasi turis setempat. Kantornya ada di belakang Porta Nigra. Tur juga bisa dilakukan sendiri. Berbekal buku dan peta yang bisa dibeli di pusat informasi turis.

Petunjuk jalan menuju atraksi wisata utama  sudah jelas. Tak perlu khawatir tersesat. Untuk bisa memasuki tempat-tempat bersejarah Romawi kuno, ada tarif masuk. Jika ingin masuk ke beberapa situs sekaligus, pengunjung bisa membeli AntikenCard Basic atau AntikenCard Premium. Sehari penuh cukup untuk mengelilingi objek-objek ini.

Porta Nigra

Banyak misteri menyelimuti kota #Trier pada abad kedua masehi. Yang belum berhasil dipecahkan oleh para sejarahwan dan arkeolog. Di abad kedua masehi, kota Trier mengalami pertumbuhan pembangunan pesat. Namun tak ada catatan khusus dalam sejarah menyebutkan hal itu.

Porta Nigra, Trier

Porta Nigra, Trier

Mengapa areal kota luasnya bertambah dua kali lipat? Darimana datangnya kekayaan untuk membangunnya? Apakah ada kepentingan politik di balik itu? Belum ditemukan jawaban pasti.

Tembok kota Augusta Treverorum diperkirakan dibangun sejak 140-150 masehi. Sepanjang 6418 m. Ia memiliki setidaknya 5 gerbang. #PortaNigra  di utara, Porta Inclyta di dekat Sungai Mosel, satu dekat Amphitheater, Porta Media di selatan, dan satu lagi di antara Amphitheater dan Porta Media, Porta Alba.

Porta Nigra seringkali dijadikan acuan oleh para pengunjung Trier untuk memulai pejelajahan di kota tua. Jika datang dari stasiun pusat Trier, ikuti saja Jalan Theodor-Heuss-Allee. Jalan kaki kira-kira sepuluh menit sampai Porta Nigra.

Seperti namanya (Porta Nigra = Gerbang Hitam), konstruksi batu itu terlihat berwarna gelap. Ia satu-satunya gerbang yang tersisa. Sebab di abad pertengahan sebagain besar tembok kota tua Romawi kuno dihancurkan.

Gerbang ini dibangun di bekas areal pekuburan. Pondasinya selebar 4 m menyangga tembok selebar 3,2 m. Ia merupakan salah satu gerbang terbaik yang masih tersisa dari zaman antik. Panjang konstruksi 36 meter, dengan ketinggian 21,50 m. Paling jangkung, menara barat, tingginya 29,30 m.

Porta Nigra memiliki dua pintu yang bagian atasnya melengkung setengah lingkaran terbuat dari batu putih. Perekat antar batu tak menggunakan plester. Melainkan disambung dengan pengait besi. Lubang-lubang di tembok batu itu akibat dicabutnya pengait besi di abad pertengahan. Dua pintu tersebut masing-masing terdiri dari dua bagian. Bagian ke arah pusat kota, dan satu lagi pintu menuju ke luar kota. Di antaranya ada ruangan beratap terbuka.

Tak seperti gerbang lain yang dihancurkan di abad pertengahan, Porta Nigra diselamatkan oleh biarawan Simeon. Setelah beliau pulang dari tanah suci Palestina, beliau kemudian tinggal di Porta Nigra. Yang kemudian dijadikan gereja setelah kematian Simeon.

Saat ini, Porta Nigra seperti sebuah gerbang pembatas antara bangunan modern di luar tembok kota tua Trier dan bangunan di dalamnya yang berusia beberapa abad. Ia jadi objek foto favorit para turis.

Basilika Konstantin

Memasuki daerah khusus pejalan kaki Simeonstrasse, kita akan bertemu Hauptmarkt. Salah satu square paling menarik di Jerman. Setidaknya pada tahun 958 setelah berdirinya kolom salib, tempat ini berfungsi sebagai pasar. Daerah keramaian baru setelah kekuasaan Romawi kuno berakhir. Sampai kini, ia jadi tempat berjualan sayur dan buah segar.

Hauptmarkt dikelilingi gedung-gedung tua dari berbagai zaman. Ada bangunan dengan balok-balok kayu bersilangan bagai kerangka khas abad pertengahan. Dalam bahasa Jerman disebut fachwerkhaus. Toko-toko pakaian serta rumah makan waralaba menempati bangunan kuno dari abad 17-18. Dua objek menarik di tengah square adalah kolom salib dan air muncrat Marktbrunnen.

Dari Hauptmarkt, ada setidaknya enam jalan keluar. Basilika Konstanstin bisa dicapai dari Jalan Grabenstrasse disambung Palaststrasse. Atau dari Jalan Sternstrasse, dari Dome dan Gereja Liebfrauen belok kanan menyusuri Jalan Liebfrauenstrasse. Dari kejauhan telah nampak bangunan berdimensi besar ini. Warna merah batu bata segera menarik perhatian kita.

Di bawah pemerintahan #KaisarDiokletian (284-305), Trier mengalami reformasi. Ia berfungsi sebagai salah satu pusat pemerintahan Romawi barat sekaligus menjadi residen kaisar hingga akhir abad keempat. Dibangunlah kompleks pemandian serta istana kaisar.

Di zaman Romawi kuno, konstruksi ini dimanfaatkan para kaisar untuk menerima tamu. Bentuknya mirip aula. Panjang keseluruhan 71,50 m, lebarnya 36,20 m. Dengan ketinggian sekitar 30 m, gedung ini hanya terdiri dari satu lantai. Sekarang ia berfungsi sebagai gereja protestan.

Pemandian Kaisar

Seperti istana #Konstanstin, kompleks pemandian ini dibangun karena adanya residen kaisar di Trier. Kota kuno ini sudah memiliki pemandian lain, Pemandian Barbara, tak jauh dari #SungaiMosel. Pembangunan pemandian kaisar tak pernah tuntas.

Pemandian Kaisar Romawi

Pemandian Kaisar Romawi

Kompleks ini sekitar lima menit berjalan kaki dari Basilika Konstantin. Melewati taman dengan banyak patung di pinggirnya dan istana bergaya Rokoko warna merah muda. Pemandian ini menempati areal berdimensi 250 m x 145 m. Pintu masuknya di sebuah gedung kaca. Dekat pintu masuknya kita bisa melihat patung kolosal Kaki Konstantin. Sebuah kopi dari kaki patung besar Konstantin yang dipajang di Museum Kapitol, Roma.

Hanya sedikit tembok tinggi tersisa di sini. Akan tetapi masih terlihat denah bangunan asli pemandian. Termasuk kolam air dingin (Frigidarium) dan air hangat (Tepidarium).

Pemandian ini di kemudian dibangun kembali menjadi sebuah barak tentara. Di abad pertengahan, ketika tembok kota tua berubah tatanannya, tembok tua Romawi kuno yang tersisa berfungsi sebagai bastion. Dengan satu jendela menjadi gerbang kota.

Amfiteater

Rakyat Romawi kuno tak melupakan kebutuhan akan hiburan. Amfiteater utamanya digunakan sebagai arena bertarung para gladiator dan binatang buas. Ia juga digunakan dalam pertunjukan teater, tempat pertandingan olah raga, serta tempat pelaksanaan hukuman mati. Sekarang, ia dimanfaatkan sebagai tempat konser musik dan aneka pertunjukan lainnya.

Amfiteater Trier terletak di tanjakan Jalan Olewigerstrasse. Dari Pemandian Kaisar kita bisa berjalan menuju sebuah bundaran, lalu berbelok ke Jalan Olewigerstrasse.

Di zaman Romawi kuno, amfiteater ini dibangun sebagai bagian dari tembok kota. Ada dua pintu masuk utama, di bagian utara dan selatan. Koridor lebarnya akan membawa pengunjung menuju arena utama berbentuk oval (70 x 49 m). Dua pintu masuk lagi ada di bagian barat. Tempat parkir dan loket pembelian karcis berada di gerbang selatan.

Dari pintu masuk, pengunjung bisa langsung berjalan lurus ke arah arena atau naik menuju tribun barat. Kedua tribun bisa menampung hingga 20 ribu pirsawan. Tempat duduk dalam amfiteater ini tertutup rerumputan hijau. Sedangkan keseluruhan arena tertutup beton.

Di samping tembok arena, terdapat pintu-pintu menuju ruangan samping. Dimana para gladiator menunggu giliran bertanding. Di bawah arena terdapat ruangan bawah tanah luas yang bisa diakses dari arena. Ia menjadi tempat persiapan ketika di amfitetaer akan diadakan pertunjukan.

Jembatan Romawi

Bersamaan dengan dibangunnya kota Trier, dibangun juga sebuah jembatan kayu di atas Sungai Mosel. Antara tahun 144 – 157 orang Romawi kuno mendirikan sebuah jembatan baru yang lebih permanen.

Untuk membangun pondasi jembatan, mereka menggunakan dinding kedap air, memompa air di dalamnya, lalu mengisinya dengan batu basalt dan batu biru. Jadilah pilar-pilar jembatan yang bertahan hingga berabad lamanya. Pilar jembatan yang menghadap ke hulu sungai berbentuk runcing. Agar dapat menahan banjir dan sebagai penghancur es di musim dingin. Sembilan pilarnya masih bertahan hingga saat ini.

Jembatan Romawi terletak di ujung Jalan Karl-Marx-Strasse. Tak jauh dari Pemandian Barbara. Di antara pilar terdapat busur-busur penyangga dari batu merah. Tahun 1716-18 ketika direnovasi, ditambahkan sebuah patung di atas pilar kelima.

*Tabloid Rumah*

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , ,

4 Responses to “Jejak Romawi Kuno di Kota Tertua Jerman”

  1. Tatat says:

    Wah..menarik banget nih mbaa..jadi pengen kesana. Ini berarti masuknya Rheinland-Pfalz ya mba? *blom pernah ke daerah situ

  2. ira says:

    @Tatat: betul, udah masuk Rheinland Pfalz. Dah deket ke Luxemburg, nih…

  3. Cumilebay says:

    Cakep2 bangunan peninggalan nya, meskipun masih misteri kenapa jd makin maju dan berkembang

  4. ira says:

    @kak Cumi: Trier ini salah satu kota favoritku di Jerman, Kak. Suka banget ama kecantikan arsitekturnya..

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>