Selesai menyisir Jalan Bergstrasse, dan puas menilik gantungan lukisan cantik di depan kantor informasi turis, sekarang waktunya masuk hutan. Yap, sebagian galeri seni dan karya arsitektur indah Worpswede berada di tengah rerimbunan pohon.

Ada rute trekking atau wanderung untuk mengunjungi tempat-tempat ini. Sesi pertama, untuk tempat yang relatif dekat, kami cukup berjalan kaki saja. Untuk rute yang agak jauh, kami naik mobil.

Lewat tempat parkir mobil, kami mulai masuk jalan setapak ke dalam hutan. Tak hanya kami trekking hari itu. Pengunjung tua muda berjalan melalui jalanan ini. Kami bergerak di belakang Museum Grosse Kunstschau. Emak memotret atap kayunya yang unik. Adem masuk ke hutan. Kami ditemani suara musik alam. Serangga berdengung dan berdenging. Burung-burung bersenandung riang.

Rumah Tinggal Para Seniman

Tak sampai lima menit kemudian, kami sampai di Käseglocke. Semua rumah unik berbentuk bundar. Mirip sebuah Iglu. Emak membaca papan informasi di depan pagar. Setiap tempat bersejarah dan penting di Worpswede selalu memiliki papan informasi. Kadang Emak baca. Kalau waktu sempit, Emak potret papan tersebut. Agar bisa dibaca kemudian. Kami membuka pintu pagar, masuk lewat sebelah pepohonan perdu berduri.

Cagar budaya Jerman

Käseglocke, Worpswede

Bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya ini pertama dibangun tahun 1926 oleh penulis Edwin Koenemann. Koenemann menyebut rumahnya Glockenhaus atau rumah lonceng. Cagar budaya ini sudah direnovasi dan menjadi ruang pamer karya Koenemann serta beberapa karya seni milik seniman lainnya. Akan tetapi barang-barang di dalamnya bukan barang asli Koenemann.

“Rumah ini dari luar tampak kecil, namun setelah masuk ke dalam terlihat lebih luas,” demikian komentar salah satu pengunjung ketika Emak menguping pembicaraan mereka. Emak tak masuk. Pilih memotret dan merekam bagian luarnya dari taman di depan rumah. Beberapa bangku dipasang di taman. Di antara bunga-bunga. Dekorasi terbuat dari potongan batu dan kaca dibuat unik. Kaak pagar, tapi kok bentuknya gak keruan menurut Emak.

Trekking pun berlanjut. Naik turun jalan setapak hutan. Menuju Barkenhoff dan Haus Hans am Ende. Sayangnya taman di sekitar Barkenhoff sedang direnovasi. Padahal dari taman ini, foto ikonik Barkenhoff biasa diambil. Menampakkan bangunan berwarna putih yang menurut Emak bentuknya seperti mulut bertaring panjang. Museum ini antara tahun 1895 – 1923 jadi tempat tinggal sekaligus tempat kerja dari Heinrich Vogeler. Pelukis, desainer,  arsitek, penulis, sekaligus sosialis. Vogeler dikenal dengan karya-karya bergaya art nouveau.

Tamannya luas dan hijau. Tak banyak tanaman bunga. Jauh di ujung sana terdapat gazebo hijau. Sekali lagi, sayang sungguh sayang, sedang tutup. Kafenya lumayan ramai. Nama Barkenhoff. Berasal dari bahasa Jerman rendah yang berarti Birkenhof. Atau halaman birch. Sebab Vogeler banyak sekali menanam pohon birch di taman rumahnya tersebut. Barkenhoff baru berfungsi sebagai museum tahun 2004. Di sini pengunjung bisa mengagumi lukisan-lukisan karya Vogeler.

Jual Lukisan

Lukisan yang dijual

Keluar kompleks Barkenhoff, kami tidak lewat jalan sebelumnya. Melainkan keluar ke arah jalan besar, Lindenallee. Jalannya adem, karena tepinya pohon tinggi. Di seberang jalan, lahan pertanian. Di kejauhan, terlihat Weyerberg, titik teringgi Worpswede, setinggi 54,4 m. Karena panas, Emak tak ingin mendaki Weyerberg.

Rumah di Lindenallee halamannya luas-luas banget. Rumahnya juga gede-gede. Sebagian jadi kantor atau tempat usaha. Di ujung jalan, kami ketemu lagi sama Grosse Kunstschau. Emak hanya memotret beberapa patung karya Bernhard Hoetger. Serta kafe di sebelah gedung museum yang dindingnya terbuat dari batu bata tanpa plester. Susunan batu batanya seperti tak beraturan.

Sebelum meninggalkan pusat Worpswede, Emak masih sempat melihat-lihat kembali beberapa lukisan yang dijual di sebuah galeri. Seorang wanita tua memajang dan menjual lukisan di sebuah meja. Oh, boleh juga rupanya langsung buka lapak seperti ini.

Perjalan belum usai. Kami masih berkeliling dengan mobil ke bagian lain Worpswede.

(Bersambung)

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , ,

8 Responses to “Jelajah Alam Worpswede”

  1. Dee An says:

    Asik banget sih desa para seniman ini, mbak.. Lukisan-lukisan yang dijual mahal gak mbak?

  2. ira says:

    @Mbak Dee An: aku gak tahu harga pasaran lukisan seh, Mbak. Kalau menurut yg awam kayak aku, mahal juga, seh… hehehe.

  3. ya ampun asri banget. aku sangat suka pedesaan di eropa

  4. ira says:

    @Zahra: he-eh… emang nyaman banget desanya, Zahra.

  5. pedesaannya berasa di hutan tropis ya mba ira.. lukisannya ada khasnya nggak disini? misal tinta atau bahan kanvasnya?

  6. ira says:

    @Ima: he-eh, asri dan adem desanya, Ma. Kalau lukisannya, aku gak tahu, khasnya apa… :)

  7. […] pertahanan bundar dan bangunan lain ditambahkan di pelataran kompleks istana. Sebuah kapel dengan lukisan dekoratif dari abad 12 dan sebuah gerbang tahun 1581 melengkapi ansambel […]

  8. […] dari lampu-lampu gantung bersinar kuning. Koridor lebar dengan kubah-kubah mini berhias lukisan warna keemasan berada di depan ruangan utama […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>