Kesampaian juga keinginan kami untuk mengunjungi Malta, negara kecil terdiri dari gugusan tiga pulau : Malta, Gozo, Comino. Kami berangkat kesana dengan setengah hati. Bagaiman tidak. Hanya selang sehari sebelum berangkat, Adik demam. Tak terlalu tinggi, 38°C. Namun tetap saja membuat kami was-was. Persiapan informasi mengenai negara kecil ini pun kurang. Emak hanya membaca sekilas satu buku panduan wisata untuk mengetahui beberapa hal penting sepeti sistem transportasi, harga tiket, suasana di sekitar penginapan, dsb.

Dalam kereta api, satu masalah besar timbul. Kami salah memasukkan tanggal saat membeli tiket kereta api cepat. Mestinya tanggal 12, ternyata kami pesan untuk tanggal 11 Februari. Tentu saja, karena membeli harga diskon, tiket kami jadi tak berlaku di kereta tersebut pada tanggal 12. Emak panik. Pak petugas meninggalkan kami sebentar. Bapak dan Emak sepakat untuk membayar jika memang diharuskan. Tak lama bapak pemeriksa karcis datang sambil membawa tiga kue buat anak-anak. Ok, saat ini anda boleh terus tanpa membayar biaya tambahan. Tapi lain kali harus berhati-hati saat memesan tiket. Syukurlah, satu pelajaran agar kami berhati-hati di kemudian hari.

Di Frankfurt, suasana ramai seperti biasa. Sebagai bandara teramai kedua di Eropa, di sini berseliweran manusia dari berbagai bangsa dengan berbagai tujuan. Kami rehat sebentar, mempersiapkan diri sebelum check in. Antrian check in, meski panjang, tapi pelayanannya sangat baik. Tak sampai lima menit kemudian. Kami sudah berdiri di depan konter petugas. Semuanya lancar sampai di sini.

Saat pemeriksaan keamanan, antrian kembali mengular. Kali ini kami menunggu sangat lama. Kira-kira setengah jam. Padahal kami sudah mengantri di loket khusus. Sebab kami membawa dua anak kecil. Pemeriksaan dilakukan dengan seksama. Kami mesti mengulang pemeriksaan laptop dua kali.

Di dalam, gerbang tempat keberangkatan masih disibukkan oleh penerbangan menuju Brussels. Saat kami tanyakan, penerbangan ke Malta adalah penerbangan berikutnya. Para penumpang mulai terlihat gelisah. Waktu boarding telah berlalu. Tapi tetap saja mereka melayani penerbangan sebelumnya. Ketika boarding ke Brussels kelar, baru para petugas mengumumkan bahwa pesawat ditunda dua jam keberangkatannya. Penumpang terlihat sangat kecewa. Apalagi pemberitahuan tersebut dibuat dengan sangat mendadak.

Kami memilih menunggu di tempat bermain anak. Tak lama sebelum berangkat, sebuah pengumuman tiba. memberitahu bahwa gerbang keberangkatan dipindah. Tak lama, kami telah berada dalam pesawat. Pak Pilot memberitahukan bahwa pesawat berangkat dari Berlin. Sebab buruknya cuaca, suhu minus, pesawat perlu penanganan ekstra. Makanya telat dua jam. memang di musim dingin seperti ini, kami sering dengar berita mengenai bandara mesti ditutup, banyak penerbangan ditunda. Atau bahkan dibatalkan. Mau tak mau kami mesti maklum akan hal tersebut.

Kembali ke Jerman, sekali lagi pesawat ditunda sekitar 40 menit. Kami sempat cemas. Sebab memesan tiket kereta api dengan jam yang agak mepet dengan jam kedatangan (tepat waktu). Meski Pak Pilot berusaha mempercepat laju pesawat, tak urung ijin mendarat di Frankfurt susah didapat. Walhasil, pesawat telat hampir sejam dari jadwal semula. Kami berlari dari pintu keluar pesawat, sepanjang belalai. Seorang polisi sempat memeriksa paspor, namun semuanya lancar diperiksa. Bagasi pun syukurnya cepat keluar. Tak sampai sepuluh menit sejak kami tiba, bagasi sudah muncul. Sehingga kami pun masih punya waktu beberapa menit menunggu kereta api kembali menuju rumah.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

2 Responses to “Ke Malta Dengan Lufthansa”

  1. Pauliana Agustin says:

    can’t wait to read your story in Malta….pasti seru!

  2. Wah,..turut senang baca blog teman lama se-smu yang suka berbagi cerita tentang travelling. Biarpun belum pernah ke eropa, paling tidak sudah dapat oleh-oleh cerita….

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>