Dalam kunjungan ke ibukota Belgia, seperti biasa, kami jadwalkan untuk mengunjungi salah satu mesjid disana. Kali ini, kami ke mesjid tertrua sekaligus terbesar di Brussels.

Sebelum pergi, sudah kami cari berbagai informasi mengenai sejarah dan lokasi mesjid. Syukurlah, letaknya masih di pusat kota. Tepatnya di bagian depan Taman Cinquantenaire.

Menurut Wikipedia, bangunan asli mesjid dibangun oleh arsitek Ernest Van Humbeek. Sebuah gedung bernuansa Arab sebagai Pavilyun Oriental dalam Pameran Nasional di Brussels tahun 1880. Saat itu, bangunan dengan fresco monumental : Panorama Kairo menikmati sukses besar. Akan tetapi, setelah kurang dipelihara di abad kedua puluh, kerusakan mulai terjadi di mana-mana.

Di tahun 1967, Raja Badouin menghadihkan gedung ini ke Raja Saudi Arabia, Raja Faizal bin Abdul Aziz, saat melakukan kunjungan kenegaraan di Belgia. Komunitas muslim di Belgia mengharapkan agar bangunan tersebut dijadikan sebuah tempat ibadah. Setelah rekonstruksi panjang dengan dana dari pemerintah Saudi Arabia dengan arsitek asal Tunisia, Boubaker, mesjid tertua di Brussels dibuka pada tahun 1978. Dihadiri oleh Khalid bin Abdul Aziz dan Baudouin.

Sore hari setelah berkeliling ke pusat keramaian wisata Brussels, kami naik metro ke Schuman. Naik ke atas stasiun metro ini, ada bundaran luas dan membingungkan. Tapi, tak lama kemudian, kami bisa melihat jalanke arah Taman Cinquantenaire. Kami berfoto di di bagian dalam taman, sebelum berjalan ke arah mesjid agung.

Lokasi mesjid sama sekali tak terlihat di peta wisata kota Brussels yang kami peroleh dari kios informasi wisata di Stasiun Brussels Midi. Namun kami mendapatkan alamatnya di google, serta mencatat lokasinya dari googlemaps. Pada saat masuk ke dalam lokasi taman dari arah Schuman, bangunan mesjid sudah kelihatan dari kejauhan.

Dua orang wanita berkerudung dan beberapa anak kecil sedang duduk-duduk dan bermain di belakang areal mesjid. Kami mengucapkan salam sebelum berjalan ke gerbang masuk ke bagian depan. Dari luar, bangunan mesjid terlihat sederhana. Satu bangunan nyaris bundar dengan satu menara tak terlalu tinggi.

Kami tinggalkan kereta dorong Adik di depan mesjid. Seorang penjaga mempersilahkan kami untuk membawanya masuk. Beliau mengucapkan salam ketika kami di dalam. Penjaga berpakaian putih panjang ala lelaki Arab tersebut masuk ke ruangan resepsionis. Kami melihat-lihat sebentar. Lalu masuk ke kompleks dalam mesjid yang luas.

Agak bingung kai berputar-putar di lantai dasar. Beberapa pria berjenggot panjang berdiskusi di satu ruangan. Ruangan-ruangan di lantai dasar tampaknya digunakan sebagai ruang kelas atau ruang pertemuan. Ada ruang sholat wanita, tapi kecil.

Tak lama, kami temukan jalan masuk ke arah ruang utama mesjid. Kami berpisah. Bapak mengajak Adik. Emak dan Embak naik ke atas. Ke ruang wudhu di lantai satu. Sebelum ke ruang sholat utama di lantai dua dan tiga. Saat itu. masih sekitar pukul 8 sore. Hari belum gelap. Sehingga lampu-lampu utama di dalam mesjid belum dinyalakan.

Emak sholat tahiyatul masjid. Berisitirahat di rumah Allah, sungguh damai rasanya. Tak lama lampu-lampu dinyalakan. Membuat bagian dalam terlihat semakin indah. Ada lampu besar berbentuk kaskada tepat di tengah kubah. Tak banyak orang di ruangan utama mesjid. Permadaninya tebal dan empuk. Didominasi warna biru dan coklat muda. Kaca-kaca jendela dihiasi mozaik warna-warni.

Merasa cukup berisitirahat, kami kembali ke lantai dasar. Bapak sudah menunggu. Waktu Maghrib masih sekitar dua jam lagi. Kami putuskan kembali ke penginapan saja. Dan mengucapkan salam perpisahan ke sang penjaga mesjid di ruang resepsionis.

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

One Response to “Ke Mesjid Agung Brussels”

  1. Sungguh nikmat rasanya diberi kesempatan untuk mengunjungi masjid dinegara lain.

    Salam
    Jasa Pasang Partisi kaca

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


nine + 6 =