Melancong sudah jadi passion. Menulisnya juga demikian. Tak enak rasanya jika sehari tak menyalurkan ide lewat sebuah tulisan. Baik lewat catatan pribadi maupun lewat blog. Tulisan sudah mengalir deras saat mulai menghadapi draft naskah baru. ‘Suara’ tulisan sudah bisa didengar oleh banyak orang. Kini waktunya untuk coba-coba menulis untuk konsumsi media massa.

Menulis untuk media cetak, tentu berbeda dengan menulis di buka harian atau blog pribadi. Kalau menulis untuk diri sendiri, bodo amat gw mo pake bahasa alay atau kagak. Suka-suka gw mo nyingkat kata ato suka salah ejaannya. Nyang pentng tulisan mengalir, gw demen, temen2 gw pun kagak ada yg protes.

Di media massa, tak bisa demikian. Mungkin ada juga media cetak mau menerima tulisan gaul. Tapi sebagian besar masih menggunakan bahasa indonesia baku. Yang baik dan benar. Nah, biar terbiasa menulis dengan bahasa indonesia semacam ini, ada baiknya membiasakan diri menggunakannya saat menulis catatan pribadi. Di blog pribadi saya, www.keluargapelancong.net pun demikian. Saya usahakan agar selalu menggunakan bahasa yang baik. Walau sesekali penggunaan jargon dan bahasa tak baku tak bisa saya hindari. Agar mendapatkan ‘rasa’ yang saya inginkan.

Sebelum mencoba ‘berperang’ dengan media cetak di tanah air, disarankan untuk mengetahui medan terlebih dahulu. Lakukan riset sedikit saja tentang media yang ingin kita tembus. Majalah lifestyle remaja tentu berbeda gya bahasa dengan majalah lifestyle emak-emak. Gaya bahasa majalah beda dengan koran. Media muslim beda dengan media umum, dst. Apakah media tersebut cenderung memuat tulisan wisata berjenis panduan, ataukah traveloge. Apakah mereka suka menggunakan sub judul? Perlukan menulis di info box?

Di koran, tulisan perjalanan biasanya muncul di koran Minggu. Sesekali belilah satu koran minggu untuk riset. Majalah bisa dibeli yang bekas. Pinjam ke teman yang berlangganan. Atau bersahabat dengan pemilik kios koran dan majalah, jika tak ingin beli. Pemilik smartphone berbasis android atau Ipad bisa menggunakan aplikasi newsstand. Di sana kita bisa mendownload beberapa majalah secara gratis. Atau membelinya dengan harga lebih murah dibanding harga majalah kertasnya.

Selain gaya bahasa, penting pula mengetahui jumlah foto yang harus dikirimkan, berapa halaman atau berapa jumlah karakter naskah yang kita tulis. Ke alamat email mana naskah tersebut harus kita kirim. Ada media tertentu yang mensyaratkan batas waktu. Seperti Femina (tulisan ditulis maksimal setahun setelah melakukan perjalanan), dan koran Kompas minggu (6 bulan).

Jika semua sudah siap, naskah sudah ditulis sebaik mungkin sesuai aturan, tunggu apa lagi. Ayo langsung gempur media cetak!!!

Possibly Related Posts:


Tags:

3 Responses to “Kenali Media, Kenali Medan”

  1. […] ini berhubungan dengan artikel sebelumnya berjudul Kenali Media, Kenali Medan. Yakni tentang riset pasar. Tapi satu ini lebih pada pencarian contact person suatu media. Mencari […]

  2. syukur says:

    Apa sih tips nya bisa menulis seperti ini?sepertinya asyik sekali melancong sambil menulis.hasilnya bisa dobel-bobel.

  3. Katerina says:

    Terima kasih tipsnya mbak. Saya terus menyimak nih :D

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>