set-kopi-bosniaDari Sarajevo, tujuan kami berikutnya adalah Mostar. Salah satu kota besar dan banyak dikunjungi orang di negeri ini. Retno mengundang kami mampir sebentar di Konjic. Satu kota di antara Sarajevo dan Mostar. Dengan senang hati kami penuhi undangan tersebut.

Alam Bosnia-Herzegovina sendiri, secara mengejutkan tak kalah indah dibanding Swiss, menurut Emak. Dimana-mana ada deretan pegunungan. Semua kota-kota yang kami singgahi berada di lembah-lembah yang dikelilingi pegunungan. Kota-kota tersebut berada di tepi sungai atau danau. Sungai-sungai bening berwarna hijau-kebiruan dari kejauhan. Di musim panas, pasti kami tak mau jauh-jauh dari air.

Kami temukan Konjic tanpa kesulitan. Jalanan ke sana mulus. Menjelang Konjic, banyak penjual madu dan minuman dalam botol di tepi jalan. Retno dan Emak janjian di satu-satunya perempatan menuju sebuah jembatan tua.

Memarkir kendaraan dekat sebuah sekolah, kami memotret jantung Konjic dari ketinggian. Orang Romawi kuno sudah lewat kesini di zaman lampau. Sultan Mehmet IV membangunkan sebuah jembatan di atas  Sungai Neretva. Sempat hancur saat perang, jembatan ini dibangun kembali. Neretva sangat bening. Mata airnya tak jauh dari sini, kata Senad, suami Retno. Bisa langsung diminum, lho. Di musim panas, ia jadi spot favorit untuk olah raga rafting.

Di tepian, rumah-rumah berarsitektur mirip dengan Turki Usmani beratap batu alami, yang lantai atasnya menjorok keluar menjadi kafe dan restoran cozy. Menara-menara masjid khas Turki menjulang di banyak tempat. Salah satunya terlihat hancur bagian atasnya. Sebagian puncak pegunungan di sekeliling Konjic tertutup salju. Kabut dan mendung menemani kedatngan kami di sini. Kami memotret jembatan dari atas dan dari bawah.

Keluarga Retno mentraktir kami minum kopi pekat khas Bosnia dan makanannya. Alhamdulillah, benar-benar rizki. Cuaca di luar dingin, dan kami sedang kelaparan. Senad, yang mengalami sendiri perang Bosnia, bahkan kakak lelakinya gugur sebagai syuhada, berbagi cerita. Bagaimana dan apa yang mengawalinya, bagaimana suasana Bosnia saat perang, apa yang terjadi pada keluarganya. Serta bagaimana mereka sekarang hidup pasca perang. Mengingat kubu-kubu yang berperang, penduduk Bosnia-Serbia-Kroasia masih hidup dalam satu negeri, Bosnia-Herzegovina. Banyak penduduk Konjic bersembunyi di gunung-gunung sekitarnya waktu perang.

Makanan dan kopinya enak. Sup Beg jadi favorit banyak orang. Cerita Senad memberikan banyak sekali pelajaran dan membuka wawasan baru bagi kami. Beberapa kilometer ke arah Mostar, kami bertemu pemandangan tak terlupakan dari danau bernama Jablanicko Jezero. Mengesankan!

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>