Setelah mengunjungi seorang teman di Aachen di negara bagian Nordrhein-Westfalen, keluarga pelancong berkesempatan mengunjungi kota Düsseldorf, ibukota negara bagian ini bertahun lalu. Karena hanya mampir beberapa jam, kami tak dikenakan biaya tambahan oleh Deutsche Bahn, perusahaan kereta api Jerman yang kami tumpangi. Baru sekali itu kami sempatkan diri menyaksikan Düsseldorf secara langsung. Padahal berkali kami melewati ketika berkendara dengan kereta api.

Sama seperti Cologne, Düsseldorf adalah kota ditepi Sungai Rhein. Selain dikenal sebagai pusat salah satu perusahaan baja terbesar di Jerman, kota ini banyak dihuni oleh pendatang asal Jepang dan bangsa-bangsa lain. Makanya dia dianggap sebagai kota internasional di negara ini. Beberapa jam di pusat Düsseldorf, memang tak banyak kami saksikan. Cukup untuk sekedar sedikit mengenalnya.

Tujuan utama kami hari itu adalah kota tua Düsseldorf. Lokasinya masih lebih dari sekilo meter dari stasiun utamanya. Sebenarnya angkutan umum seperti bus kota dan tram bawah tanah tersedia. Ingin menghemat, kami memilih jalan kaki saja menuju jantung kota tua. Kami lewat gedung-gedung modern, bank-bank besar, bentuk-bentuk arsitektur modern unik. Hari itu hari Minggu. Lalu lintas tak terlihat ramai.

Kami berjalan mengikuti rambu petunjuk lewat sebuah jalan di seberang stasiun. Berjalan lurus hingga beratus meter, sampailah kami di Königsallee. Rupanya sedang ada bursa buku-buku bekas di sini. Königallee sendiri merupakan sebuah boulevard, punya sungai kecil di tengahnya, dan berkesan sangat rindang. Di sisinya berdiri toko besar, galeri, restauran dan kafe mewah, mahal, eksklusif. Karena tutup, kami hanya melihat sekilas lewat jendela toko.

Memasuki daerah kota tua, pemandangan pun makin beragam dan menarik. Gedung-gedung tua berbaur dengan gedung modern, air mancur berhias baja-baja menjulang, patung-patung logam unik, rumah-rumah tua berarsitektur khas Eropa abad pertengahan. Lebih 700 tahun umur Düsseldorf. Dulu sekali hanya ada satu jalan utama, beberapa pasang rumah, dan satu gereja, Gereja Lambertus.

Tak lama berjalan dari kota, kami telah sampai di Rheinüferpromenade, jalanan di tepian Sungai Rhein. Selain Königallee, inilah selebritis tempat pelesiran di sini. Jalanan sepanjang hampir 2 kilometer ini konon merupakan yang terindah di sepanjang Rhein. Ada pohon-pohon, jalan khusus bagi pejalan kaki, bangku-bangku taman tempat orang memandang keindahan sungai. Menyaksikan jembatan, kapal-kapal barang, perahu, orang bermain kanu, kapal pesiar mini lewat. hari itu ada acara olah raga di sebuah lapangan persisi di tepi sungai. Ramai orang berkumpul di sana. Kami turun menuju jalanan tepi sungai. Dimana kafe-kafe berdiri.Semua bangkunya terletak di luar. Sebagian menggunakan payung-payung besar atau tenda sebagai pelindung. Sepertinya selain sebagai tempat makan, juga berfungsi sebagai tempat mejeng warga dan pengunjung kota. Sebab masih belum masuk tengah hari, belum terlalu ramai orang makan di kompleks ini.

Kami terus berjalan hingga Burgplatz. Mantan kompleks bangunan benteng ini hanya menyisakan satu menara istana tinggi setelah terbakar habis di abad 18 masehi. Menara bernama der Alte Schlossturm ini menadi salah satu lambang kota Düssesldorf, menjadi motif di jutaan karto pos. Naik mendekati menara, kami langsung mengikuti jalan menuju salah satu gedung terindah kota, yakni gedung balai kota.

Bagian tertua balai kota berasal dar tahun 1570-73. Patung berkuda bangsawan Johann Wilhelm alias Jan Wellem menjadi maskot di depannya. Ruang terbuka depan balai kota tak terlalu luas. Kami kesusahan memotret keseluruhan gedung elok ini.

Jalanan membawa kami ke pusat kehdiupan di kota tua. Berbeda dengan pusat kota besar lain yang dipenuhi toko dan butik dan galeri, pusat Düsseldorf dipenuhi oleh kafe, restauran dan tempat makan lainnya. Konon, ada lebih dari 200 tempat makan mangkal disini. Hampir semua jenis makanan dari banyak negara ada disini. Dari masakan Arab hingga Korea. Dari hidangan laut, pizza, steak, dll. Hampir semua ada. Sayang kami tak melihat restauran Indonesia. Penjual bir dan minuman keras juga tak kalah banyak. Di siang hari, pengunjung tempat makan mulai berdatangan. Kami jadi berpikir, apakah warga disini gemar sekali makan di luar. Hingga ada kota penuh rumah makan seperti ini. Di malam hari, tempat-tempat berdisko kabarnya menjadi tempat warga kota mencari hiburan. Sepertinya, jika ingin berwisata kuliner, di Düsseldorf-lah tempatnya. Cukup di satu tempat, berbagai macam hidangan dari mancanegara bisa dicicipi.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , ,

8 Responses to “Kota Baja Düsseldorf”

  1. cc says:

    ngebayangin ada di tempat yg digambarkan…….hmmm..kapan ya

  2. ira says:

    moga2 suatu saat kesampaian, yah….

  3. senangnya bisa jalan2

  4. ira says:

    alhamdulillah….

  5. […] pengunjung), Cannstatter Volkfest di Stuttgart (4,5 juta pengunjung), Groesste Kirmes am Rhein di Dusseldorf (4,2 juta pengunjung), Ischaa Freimaarkt di Bremen (4 juta pengunjung, terbesar di utara Jerman). […]

  6. […] minggu. Rutenya dari Jerman menuju kota-kota besar lain di Eropa. Seperti dari Frankfurt, Munich, Düsseldorf, Hamburg, menuju Paris, Madrid, Barcelona, Roma, Lisbon, dan masih banyak lagi. Harganya 99 euro […]

  7. […] lalu lalu, saat mengantar seorang kawan ke bandara Duesseldorf, kami tak ingin melewatkan kesempatan untuk naik ke teras pengunjung. Letaknya dilantai teratas. […]

  8. […] adalah ketika berlibur ke Yunani. Kali ini rutenya adalah Düsseldorf – Thessaloniki. Di saat teman kami mesti membayar 150 euro per orang untuk rute Düsseldorf […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>