kotorMau cerita tentang Kota Kotor di Teluk Kotor, Montenegro, kok ndhadhak muter-muter dulu. Jadi begini sodara-sodara, singkat cerita, kami sampai di kota tua Kotor. Ketemu parkiran gratis tak jauh dari sana. Gak sampai 10 menit jalan kaki, sudah sampai di salah satu gerbangnya.

Emak ndhak punya bayangan gimana kondisi tempat ini sebenarnya. Belum sempat baca buku panduan tentang Montenegro pula. Tapi pas baca-baca jauh hari sebelumnya, Emak ingat kalau kota ini masuk dalam daftar warisan budaya-nya Unesco. Artinya, ia punya sesuatu istimewa, dan pastinya jadi tujuan kunjungan turis. Ibu pemilik apartemen bilang, sehr schoen.

Sebelum masuk pusat kota, kami berfoto di tepi teluk. Air lautnya menjadi cermin bagi benda apa saja di atasnya. Perahu, kapal, gunung batu, terpantul jelas di permukaannya.

Datang pagi-pagi, kami sepertinya jadi turis pertama. Rumah-rumah makan masih kosong bangkunya. Hanya di dalam kafe Emak perhatian ada beberapa orang sedang sarapan. Kami membawa peta pemberian ibu pemilik apartemen.

Kota ini kota tua dikelilingi tembok. Mirip kota-kota tua abad pertengahan Eropa lainnya, yang dibangun sebagai satu sistem pertahanan. Temboknya sangat tebal.  Istananya ada di bahu bukit penuh batu. Walau ibu pemilik apartemen sudah mengatakan bahwa satu-satunya cara menengok istana adalah dengan trekking, kami coba mencari jalan mobil. Memang tidak ada.

Kami berkeliling kota. Bagi Emak penampakannya mirip Venesia, minus kanal-kanal. Dulunya ia memang pernah dikuasai oleh Venesia. Bentuk bangunan, jalanan sempit, bentuk jendelanya, gantungan baju-bajunya digantung di antara gedung apartemen, membuat Emak deja vu. Tak butuh waktu lama untuk menyukai Kotor.

Sayang, waktu sempit dan medan terlalu menantang, kami tak naik ke istana. Membayangkan saja sudah sesak nafas. Padahal sudah membayangkan, bagaimana cantiknya Kotor dilihat dari atas sana.

Hiks, kunjungan ke Montengero akan segera berakhir. Ibu pemilik apartemen menyarankan agar kami ke Perast, satu kota kecil lagi di Teluk Kotor. Kami hanya berhenti sebentar untuk memotret. Salah mengambil tempat parkir. Parkir di pinggir jalan tinggi.

Emak dan Lia turun ke arah kota. Perast jauh lebih kecil dibanding Kotor. Tapi ia juga istimewa. Tak jauh dari daratan Perast, ada dua pulau kecil. Pulau ini sering jadi objek foto favorit di kartu pos maupun buku panduan. Langit dan laut biru, cerah dan hangat. Emak memotret keduanya berkali-kali. Kota ini terlihat sangat tenang. Tak terlihat turis. Beberapa orang berjalan kaki di pinggir laut. Beberapa anak lelaki bermain bola basket.

Woaahhhhh, sekali lagi Emak menyesal. Ingin menghabiskan waktu lebih banyak. Menyusuri pantai-pantai Montenegro. Mungkin di musim panas. Sambil kemping. Setelah ngos-ngosan mendaki tangga menuju tempat parkir, kami menuju utara. Memasuki Kroasia. Ke satu bekas negara mini dikelilingi benteng tebal.

Possibly Related Posts:


Tags: ,

2 Responses to “Kotor, Not Dirty at All”

  1. asyiknya, mba. sayangga jadi ke istana ya. aku pikir tadi itu mau bahas ttg kotornya suasana di sana. ternyata nama daerah :D

  2. ira says:

    heheehehe, iya La… Namanya aja yg unik dalam bahasa kita… :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>