(Sambungan dari Menonton Marathon Köln 2015)

 Acara After Party di Neumarkt, Köln

Sementara sebagian penonton marathon sudah memegang peta rute hari itu, Emak gak kepikiran untuk mencetaknya. Cuma mencatat dalam kepala, bahwa setelah start usai, kami mau ke Neumarkt. Di mana letak Neumarkt? Embuh. Ikuti saja rombongan penonton lainnya. Plus ceki-ceki penunjuk jalan.

Untungnya hal itu tidak susah dilakukan. Emak ingat, bahwa jalan ke arah Neumarkt, bisa mengikuti rute lari. Menyeberangi Jembatan Kennedy yang membentang di atas Sungai Rhein. Jalan raya masih tertutup buat mobil. banyak orang berjalan di atasnya.

Tiba di Heumarkt (ini beda ama Neumarkt), udah mulai kelaparan. makan bekal waffel dulu. Mayan buat ganjel. Ketemu wanita berwajah Asia. Dari Filipina. Ngobrol-ngobrol bentar. Mulanya pakai bahasa inggris. Disambung Jerman.

Di Hohe Strasse, ternyata sudah banyak peserta halbmarathon yang mau finish. Peserta terbanyak lomba lari ini adalah halbmarathon. Sebab mulainya pukul setengah sembilan. Tentu hampir pukul sebelas sudah finish. Waktu terbaik halbmarathon diraih oleh pelari Jerman, Hendrik Pfeiffer. Dalam waktu sejam lebih sedikit.

Televisi LED televisi LCD

Nonton di televisi layar lebar

Waktu pelari sepi, kami menyeberang. Kalau tidak, harus mau jalan memutar. Neumarkt kelihatan ramai. Ada suara musik lagi. Walau tak seceria di tempat start tadi. Emak berjalan ke arah para pemberi minum. Pengen melihat lebih dekat. Sebelumnya cuma nonton di tivi bagaimana para pelari atau pebalap sepeda mengambil minuman dari petugas pinggir jalan.

Sepertinya yang diminum air putih biasa. Wadahnya plastik. Tak jauh dari situ, terbentuk gunung-gunung kecil sampah gelas plastik. Ternyata kotor juga, yah.

Tak lama, kami pun bergerak menuju tempat after party. Masih sepi. Sebab pelari dan penontonnya pada ngumpul di pinggir track lomba lari. Tenda-tenda dipasang di tempat acara. Ada yang pameran produk. Ada pula penjual makanan minuman. Di satu tempat dipasang televisi tipis layar lebar. Menayangkan pelari elit sedang bertarung di jalanan.

Jika ada event besar yang jumlah pengunjungnya banyak, Emak sering melihat televisi layar super lebar semacam ini. Seperti di acara Japan Tag lalu. Memudahkan orang untuk bisa lebih jelas mengikuti jalannya acara.

Di acara itu, kami liat ada seorang anak sedang melakukan panjat-memanjat. Semacam panjat dinding, tapi temboknya tipis. Terbuat dari bahan apa, ya? Sepertinya fiber yang lumayan kuat. Seorang anak perempuan sedang mengantri.

“Bayar, gak?” tanya Emak. “Biasanya main ginian kan, mahal.”

“Kayaknya gratis,” jawab Bapak.

Memang gratis. Emak bersemangat menyuruh Adik ikut mengantri. Mumpung masih sepi. Tinggi tempat panjatnya sekitar 8-10 m. Dua orang petugas lelaki berjaga. Satu orang memesangkan sabuk pengaman yang dikaitkan dengan tali panjat. Satu lagi memegang tali dan mengomando anak-anak dari bawah. memberitahu dia harus mengambil tumpuan mana agar bisa sampai ke atas. Dua kait pengaman dipasang di sabuk pengaman. Emak merasa aman.

Adik bisa memanjat sampai atas. Dia senang sekali. Biasanya paling panjat-panjatan tembok di Globetrotter. Tidak terlalu tinggi dindingnya. Emak senang karena bisa membuat Adik hepi tanpa ngeluarin duit. *ngikik pelit*

Garis Finish 

Tak lama di Neumarkt, kami berjalan ke arah garis finish. Lokasinya tak jauh dari Dome Cologne, landmark utama kota ini. Di jalan, kami ketemu para pelari yang sudah finish. Pelari-pelari halbmarathon. Mereka memaki ponco sederhana dari plastik. Lumayan untuk menahan dingin. Banyak pelari memakai baju tipis dan terbuka. Setelah berkeringat, pasti dingin juga. Masih mau jalan-jalan pula.

Lomba lari marathon

Suasana di garis finish

Para finisher terlihat menyantap pisang, yoghurt atau minuman. Sampah bungkusnya memenuhi tempat sampah. Sampai meluber keluar. Waktu ngintip di belakang garis finish, ada pembagian makanan dan minuman. Pun medali bagi setiap peserta finish.

Kami nemu spot kosong di tribun penonton terdekat dengan garis finis. Sempat liat-liat peserta halbmarathon yang finish terakhir-terakhir. Wajah-wajah kuyu berkeringat. Lemes tapi masih bisa senyum. Apalagi disoraki dan disemengati ribuan penonton. Duh, nonton para peserta  bersusah payah hingga mencapai garis akhir kayak gini, bikin mata Emak ngembun.

Seorang Bapak tua berjalan tertatih-tatih. Berhenti. Tangannya mencengkeram pagar pembatas. Penonton bersorak. Tapi sepertinya tenaga beliau sudah habis. Seorang panitia. Menghampiri. Menggandeng lengan sang Bapak. Menuntunnya sampai garis finish. Diantara tepuk tangan dan teriakan penonton yang membahana. Emak ikut bersorai sambil sesekali mengusap air mata. *kanebo mana kanebo?*

Aih, menonton secara langsung seperti ini, tak hanya bisa menikmati keceriaan dan kegembiraan para penonton serta pemenang. Namun juga mangalami dan melihat langsung hal-hal tak tertangkap kamera televisi. Emak bersyukur kami datang kemari dan mengalami secara langsung.

Tak lama menunggu, ada pemberiatahuan bahwa pelari marathon utama akan segera memasuki garis finish. Penonton di podium makin ramai. Emak naik ke atas bangku. Ngikut ulah penonton lainnya. Biar bisa memotret dengan lebih leluasa.

Tubuh mungil Waweru Benson dari Kenya, berkaos kutung kuning, berlari sambil mengangkat kedua tangannya. Mendekati garis finish. Seorang embak bersiap dengan pistol berisi confetti. Langsung ditembakkan ketika Waweru resmi menjadi kampiun Köln Marathon 2015. Ia menang dalam waktu: 2:16:01. Disusul Zewde Wubishet dari Ethiopia (+19 detik) dan Lablaq Khalid asal Maroko (+35 detik).

Bagi Emak, karena bukan pengamat olah raga lari, siapa pemenangnya, tak terlalu penting. Menikmati atmosfir acara secara langung, mulai garis start sampai finish saja sudah membangkitkan semangat dan banyak himah bisa dipetik karenanya.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , ,

7 Responses to “Lomba Lari Marathon Cologne”

  1. omnduut says:

    Atlet asal Afrika emang femes banget di olahraga lari ya mbak

  2. ira says:

    @Cek Yan: ho-oh.. Badannya ceking tapi kuat lari. Kalau udah femes, kayaknya mereka suka diundang marathon dari satu negara ke negara lainnya.

  3. anotherorion says:

    disana lagi musim apa mbak sekarang? wah klo lari begitu aku bisa menggeh2 thok mbab, ababe thok sik playon :v

  4. ira says:

    @Mas Priyo: podho, mas… aku yo gak seneng mlayu2. enakan sepedaan. Saiki masuk musim gugur, Mas…

  5. Emakmbolang says:

    Kenya, Afrika, pokonya asal Afrika selalu menang lomba lari marathon, kuat kuat. Aku luwih seneng jaln jalan cantik ketimbang jogging, loro boyokkku mbak :))

  6. Yayah says:

    Maaf Mbak, agak bingung..Koln dan Cologne itu sama ya?

  7. ira says:

    @Mbak Yayah: Betul, Mbak Yayah. Sama saja. Cologne itu sebutan Köln dalam bahasa Inggris.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>