Belum lama berselang, saya membaca satu status teman di jejaring sosial, yang mengatakan jika ada temannya ketakutan bakal gak bisa mendapatkan makanan halal di Bali. Berbalas komentar beberapa kali, satu pernyataan teman, saya anggap sangat menarik. Komentarnya, “Masak gak jadi melihat dunia hanya gara-gara takut makanannya?”

Bingo, pernyataan tepat sasaran. Bagi keluarga kami malang melintang di dunia jalan-jalan Eropa, jika memutuskan bepergian, kami memang selalu memikirkan soal makanan. Informasi mengenai keberadaan makanan halal hampir pasti kami cari melalui internet, atau informasi teman. Akan tetapi, soal makanan tak pernah menjadikan kendala untuk jalan-jalan. Apalagi sampai memutuskan untuk tidak jadi pergi.

Jika informasi menunjukkan bahwa di daerah tujuan makanan halal susah didapatkan, maka kami sudah mempersiapkan beberapa jurus penangkis agar masalah makanan teratasi. Pertama adalah mencari informasi tentang makanan alternatif. Menu ikan atau vegetarian. Jika menemukan, tinggal konfirmasi apakah makanan tersebut mengandung bahan tak halal lain seperti alkohol, dll. Cara lainnya adalah dengan membeli makanan di supermarket. Supermarket-supermarket Eropa biasanya menjual sandwich, salat, serta banyak jenis makanan yang aman dikonsumsi oleh para muslim. Untungnya kami tak rewel soal makanan. Asal ketemu roti, ikan tuna, salat sayuran, buah-buahan, sereal, susu di supermarket, maka amanlah soal makan-memakan.

Jika di penginapan tersedia dapur, maka kami biasanya pilih masak sendiri. Kami bawa alat masak khusus kemping, sehingga tak perlu menggunakan alat masak bersama. Kalau tidak berat dan perjalanan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, kami bahkan sengaja membawa pemasak nasi (rice cooker) sendiri. Paling aman tapi agak berat adalah membawa makanan sendiri dari rumah sebagai bekal jalan-jalan. Ini jarang sekali kami lakukan kecuali untuk perjalanan singkat yang memakan waktu maksimal sehari.

Di Eropa sendiri ketersediaan makanan berlabel halal sangat bervariasi. Di Eropa barat yang persentase muslimnya lumayan tinggi, menemukan makanan halal menurut kami bukanlah masalah besar. Banyak restauran atau tempat makan sudah tak segan-segan memajang label halal di jendela mereka. Di Paris, masakan asia, afrika, eropa halal banyak tersedia. Di Brussel pun mulai demikian. Di Belanda, beberapa restauran asal Afrika, India, dan Indonesia punya label halal. Di Jerman, makanan halal memang masih di dominasi masakan Turki dan Timur Tengah.

Di negara-negara Baltik dan Eropa Timur, makanan halal ini lebih sulit dicari. Maka kami menggunakan alternatif lain, beralih ke menu sari laut dan vegetarian. Sesuai pengalaman, belum pernah masalah makanan menjadi kendala besar bagi keluarga pelancong. Bagi kami, yang penting adalah jalan-jalannya, bukan makan-makannya.

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

One Response to “Makanan Halal di Eropa”

  1. yoan says:

    untuk roti san seral apa juga sudah ada label halalnya Mak?

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>