Resto halal BulgariaDi antara beberapa informasi mengenai rumah makan halal di kota Sofia Bulgaria di zabihah.com, kami temukan beberapa restoran. Yakni resto masakan Turki, Lebanon, dan India. Kami hanya sempat mampir di Soup House, sebuah rumah makan Turki dan Phoenicia, masakan Lebanon.

Kalau masakan Turki, kami sudah sering makan. Nah, sesekali pengen nyoba resto masakan Lebanon. Maka mampirlah kami ke resto Phoenicia. Menurut info di internet, merupakan resto mediterania terbaik di kota Sofia.

Awalnya, agak-agak keder kami mampir kemari. Kayaknya bakal mahal neh makan di sini. Tapi ya sudahlah. Jarang-jarang kami ke resto Lebanon. Apalagi dah ada info tentang kehalalannya. Sesekali jadi turis dan makan di resto agak mahal dikit, lah. hehehe.

Kami ke Phoenicia setelah mengunjungi biara Rila. Kami tak yakin benar, kudu naik apa ke sana. Sepertinya bisa naik bus, tapi entahlah. Dari ujung Jalan Vitosha, agak jauh ke sana. Lebih dari setengah jam jalan kaki. Kami pakai aplikasi googlemaps di hape. Lewat jalan-jalan gak biasa. Serta permukiman penduduk. Bahkan lewat jalanan tanah agak becek. Sempat gak yakin, benar gak nih jalannya.

Pas udah ketemu, restonya sepi. Pintu masuknya berada di bawah permukaan tanah. Kami menuruni tangga. Seorang pramusaji berseragam, sempat hendak mengusir kami. Mungkin dikiranya kami salah jalan.

“Ah you want to eat?”

“Yes.”

Kami masuk ke dalam ruangan luas. Banyak sekali meja dan kursi tertata rapi. Piring, gelas, tertata rapi bersama serbet, di atas meja. Di sebelah ada runagan lebih cozy. Dengan sofa-sofa empuk di dalamnya.

 Nama Phoenicia

Emak mau cerita sedikit tentang nama Phoenicia. Emak kenal nama Phoenicia dari sebuah acara televisi. Lalu Emak sambung dengan membaca beberapa referensi di internet. Yang tak Emak sangka, Phoenician ini dulunya sebuah bangsa besar. Tepatnya sebuah bangsa maritim besar. Berjaya pada tahun 1500 SM – 300 SM. Mendiami wilayah Lebanon, sebagian Syria dan Israel modern.

Mereka dikenal sebagai pembuat kapal layar hebat dan berlayar hingga Eropa dan Afrika. Karthago, di Tunisia sekarang juga merupakan wilayah kekuasaan bangsa Phoenician. Emak ingat pernah membaca keberanian Hannibal dari Karthago waktu masih SD. Bangsa Phoenicia kemudian dikalahkan oleh bangsa Romawi kuno. Di dalam reportasi yang Emak tonton di televisi, melalui tes DNA diketahui bahwa bangsa Lebanon sekarang merupakan keturunan bangsa ini.

Resto Phoenicia

 “Assalamualaikum,” seorang bapak tua berbadan tinggi besar menyapa kami. Berjas rapi. Mungkin pemilik resto.

“Selamat datang di restaurant kami. Anda dari mana?”

“Indonesia.”

“Mashaa Allah.”

Masakan khas mediterania

Iga kambing bakar

Beliau menerangkan beberapa menu di resto ini. Di dalam daftar sudah terdapat bahasa Inggris. Jadi kami tidak terlalu kesulitan memilih. Emak pilih filet ayam saus jamur, Bapak sebagai penggemar daging garis keras, pilih steak. Jarang-jarang bisa pesan steak dengan harga terjangkau seperti ini. Anak-anak juga maunya ayam. Setiap menu, katanya bakal dihidangkan dengan kentang goreng dan roti. Jadi kami nambah pesan seporsi nasi.

Resto ini lumayan luas. Ada televisi layar lebar di bagian tengah. Di sebelah, terdapat ruang khusus merokok dengan sofa empuk. Juga dilengkapi televisi layar lebar. Foto-foto destinasi wisata di Lebanon dipajang dinding. Emak kudu ke sana in shaa Allah, bisik Emak dalam hati. Wadah-wadah shisa disusun di atas meja dekat tembok. Dan di satu ujung, terdapat bar. Menjual minuman keras juga.

Di Eropa, berkali kami menjumpai kondisi semacam ini. Makanan yang dijual berlabel halal. Minumannya, belum tentu.

Pramusaji mengisi gelas-gelas kami dengan air putih. Kemudian minuman pesanan kami juga datang. Disusul makanan utama setelah masa tunggu agak lama.

Makanan kami disajikan di atas sebuah piring oval. Porsinya buat Emak cukup. Tapi buat Bapak, kurang. Untungnya ada tambahan roti dan nasi. Ayam saus jamur disusun cantik di sebelah daun salad dan yoghurt rasa bawang putih. Perpaduannya rasanya menggoyang lidah. Steak Bapak juga sangat enak.

Masakan khas Lebanon

Ikan bakar Phoenicia

Walau harganya agak mahal, tapi masih murah dibanding harga makanan resto di Jerman. Emak lupa berapa tepatnya kisaran harga di resto ini. Untuk steak ayam dan daging harganya kira-kira Rp. 120.000,- hingga Rp. 150.000,-. Nasinya mirip nasi Turki. Dari beras basmati. Enak juga.

Karena puas dengan pelayanan dan cita rasa makanannya, kami putuskan kembali sekali lagi sebelum meninggalkan Sofia. Kali ini Emak pesan ikan bakar. Bapak pesan iga kambing bakar. Embak ayam saus jamur dan Adik mau steak kayak Bapak sebelumnya. Hari itu suasana resto lumayan ramai. Sekitar 6 meja terisi. Semuanya datang rombongan. Para lelaki mengobrol sambil bergantian menghisap shisha.

Ikan bakarnya enak. Tapi keringnya gak sampai ke dalam. Sebab Emak suka yang dibakar kering. Iga kambing bakarnya bagian tulang dibungkus pakai aluminium foil biar gampang megang. Enak. Yang lainnya gak perlu ditanya. Enak-enak. Puas dah makan di sini.

Setelah makan di sini, kami selalu jalan kaki pulang ke arah penginapan. Jaraknya kira-kira 2 km saja. Hemat, sambil nurunin makanan di perut, dan bisa menikmati suasana malam kota Sofia.

***

Phoenicia Restaurant

Kompleks Zona B5, ulitsa Osogovo, blok 5,  1000 Sofia,
Bulgaria
Telefon: +359 2 929 3641

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , , , , , ,

7 Responses to “Makanan Halal di Sofia, Phoenicia”

  1. Emakmbolang says:

    Makan daging garis keras, kayak Shah jahan. Tiap hari mask daging Sekilo. Aku ngelihatnya sampe lelah.

    Lebanon maem e memang karo kentang ta mabk ? opo soale menjualnya di Yurop, jadi disesuaikan ?

  2. ira says:

    @Zulfa: awakmu masak dhewe opo wes onok sing masakno? Wuih yen sedino sekilo, ekstrem kuwi… hehehe. Sing masak melu eneg dhisik..

  3. Emakmbolang says:

    Masak Dhewe mbak. Nek daging Shah jahan seneng masak an omah. Nek Ayam, doyan tuku nang njobo.

    kadang ngelu mbak nontok daging. murah sekilo saiki Rp. 30.000

  4. Katerina says:

    Ikan bakarnya terlihat menggiurkan mbak. Walau aku sendiri sedikit ga bisa makan ikan pake kentang :D

  5. ira says:

    @Zulfa: wuih pancen murah banget regane, Zulfa. Nang kene 100 – 200 ewu sakkilo.

    @Mbak Rien: Paling mantep makan ikan bakar pakai nasi anget dan sambal, Mbak..

  6. Gleg, harganya lumayan hwhwhw. *ya kalo diukur sama rupiah sih ya* itu situs zabihah bagus banget, sayang nggak update

  7. ira says:

    @Cek Yan: Yup, selain zabihah, kudu nyari info lain juga di internet. Sesekali bisa nemu di blog orang. Makanya nulis kayak ginian, sapa tahu ada yang butuh juga. :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>