Mudik kemarin, Emak pilih naik pesawat dari Berlin. Agak jauh dari rumah kami. Akan tetapi, memanfaatkan fasilitas Rail & Fly dari maskapai yang Emak tumpangi, sehingga naik kereta apinya bisa dibilang gratis.

Rail & Fly ini fasilitas naik kereta dari stasiun terdekat dari tempat asal ke stasiun terdekat atau bahkan sampai bandara dimana pesawat kita akan berangkat. Harganya sudah inklusif dalam harga tiket pesawat. Emak sudah memanfaatkan fasilitas ini dari maskapai Emirates dan Qatar.

Belanja di stasiun

Stasiun pusat Berlin

Tidak semua maskapai dan penerbangan menawarkan fasilitas seperti ini. Jadi kalau mau rail & fly, ya kudu nyari penerbangan dengan fasilitas ini. Kalau di biro wisata, ya kudu bilang ke petugasnya mau beli tiket rail & fly. Kalau sependek pengetahuan Emak, yang ada fasilitas seperti adalah bukan maskapai LCC serta terbangnya long haul.

Emak ke Berlin juga karena ada ‘pekerjaan’. Jadi sekalian saja kerjanya disempilin saat mudik. Lumayan, sekali dayung, dua tiga hari capek gak ilang-ilang. hehe.

Selama ini, meski sudah mengunjungi Berlin untuk ketiga kalinya, tidak pernah lama berada di kota ini. Apalagi sampai menginap. Kunjungan terakhir pun demikian. Tak sampai sehari Emak berada di sini. Syukurlah, walau keberadaan Emak di sana relatif singkat, pekerjaan pun selesai.

Tiga kali ke ibukota Jerman, kami selalu naik kereta api. Dua kunjungan pertama, karena naik kereta api ekonomi, turun di stasiun Berlin Zoologischer Garten. Yang ketiga ini, Emak naik ICE, kereta api cepat Jerman. Turunnya di stasiun pesat. Atau dikenal sebagai Berlin Hauptbahnhof.

Berangkatnya, Emak naik kereta dari Düren. Transit sebentar di Cologne / Köln. Sebelum ngejos langsung ke stasiun Berlin. Sebenarnya ada banyak pilihan kereta dari Köln ke Berlin akan tetapi, Emak pilih yang tanpa transit. Biar enak bobok di kereta. Subuh-subuh berangkat, penumpang sepi saja. Baru di Horrem agak ramai. Didominasi para pekerja shift pagi, tampaknya.

Di ICE, ketemu beberapa pekerja atau pengusaha.Entahlah. Mereka mengenakan hem dan jas rapi. Memilih tempat duduk bermeja. Baru masuk kereta, ambil laptop, simpan tas slempang di tempat penyimpangan barang di atas, lalu menyalakan komputer jinjing. Sepertinya semua sudah terhubung dengan internet. Sesekali mereka menelfon atau mengecek sesuatu di smartphone miliknya. Emak lebih suka mengamati suasana, melihat pemandangan luar, atau tidur di kereta.

Jarak Düren – Berlin yang sekitar 700 km itu kalau ditempuh dengan kereta api cepat memakan waktu hampir 5 jam. Sudah termasuk waktu pindah kereta. Emak intip, kecepatan ICE tumpangan, sempat menyentuh angka 300 kmh beberapa kali. Di dalam kereta, tak terasa kecepatan atau getarannya. Peredam membuat kita tak harus menutup telinga agar tak berisik.

Stasiun Kereta Api Pusat Berlin (Berlin Hbf)

Stasiun ini merupakan salah satu yang terpenting di Jerman. Digunakan kira-kira 300 ribu penumpang setiap harinya. Ia punya 14 platform, 5 level, beda ketinggian antara dasar hingga level teratas 25 meter. Selain itu, ia juga memiliki satu stasiun U-Bahn (metro) mengubungkan Hbf dengan Brandenburger Tor.

Bangunan stasiun ini, mulai berdiri sejak tahun 1868. Dulunya bernama Lehrter Bahnhof. Setelah direnovasi, Berlin Hauptbahnhof mulai beroperasi pada tahun 2006. Ia merupakan satu one stop point. Tak hanya naik kereta, di kompleks luas stasiun orang bisa jalan-jalan, cuci, mata sambil nongrong di kafe hingga belanja.

Emak turun di sebuah platform di lantai teratas. Sempat kebingungan waktu baru pertama dateng. Sepertinya ini stasiun kereta api terbesar di Jerman yang pernah Emak singgahi. Sebab mau menyimpang koper segede gaban di tempat penyimpanan bagasi sementara, Emak harus turun dan mencari tempat penitipan tersebut.

Hari itu, stasiun terlihat relatif sepi. Tersedia lift besar-besar di beberapa titik. Pun eskalator dan tangga. Mengikuti papan petunjuk, Emak sampai ke arah penitipan bagasi. Tempatnya kecil, dan harus naik tangga pula. Menggotong koper seberat hampir 30 kg, Emak agak keder. Alhamdulillah, selalu saja ada penolong. Tanpa banyak biacara, seorang Bapak ikut menggotong koper Emak ke level lebih tinggi.

Ada satu penitipan bagasi yang lebih luas dan gak perlu naik-naik tangga ternyata. Yah…. Tarif penitipan buat koper besar seharga 6 euro per 24 jam (Rp. 90.000,-). Emak suka akan ide tempat penitipan seperti ini. Jadi gak ribet ama barang dan koper kalau kita akan menjelajah suatu kota.

Kata Wikipedia, ukuran stasiun Berlin 430 x 430 meter persegi. Kali lima lantai kebayang luasnya seberapa. Jelasnya, Emak tidak sempat mengeskplor satu per satu. Sempat menyusuri beberapa lantai pusat belanja, serta memotretnya dari luar.

Bagian depan stasiun adalah lapangan terbuka nan luas. Seperti alun-alun tapi berplester. Saat Emak di sana sedang ada pameran patung. Beberapa orang sedang nongkrong. Anak muda main skate board.

Konstruksi stasiun Berlin didominasi kaca dan baja. Dari dalam dan luar berkesan modern. Bagian dalamnya bersih dan rapi. Terlihat snagat luas. Dari hall utama, kita bisa melihat ke hampir semua bagian. Mulai level bawah tanah sampai paling tinggi.

Karena selalu datang tidak saat jam sibuk, Emak menikmati acara jalan-jalan di dalamnya. Termasuk saat salah jalan menuju metro gegara tidak teliti. Kalau untuk transit lama atau bermalam kira-kira stasiun ini nyaman, tidak? Ah Emak tidak tahu. Sepertinya kalau musim dingin ya adem juga kalau gak pakai pakaian tebal. Kalau transit lama di siang hari dan cuaca di luar sedang bagus, mending seperti Emak. Titipin koper di penitipan. Jelajahi Berlin sepuasnya!

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

9 Responses to “Megahnya Stasiun Pusat Berlin”

  1. Emakmbolang says:

    enaknya, 700 KM hanya 5 Jam. ada peredan nggak berisik. Kalau di India kebalikan, jadi kerasa goyang goyang aduhainya. Apalagi klo naik kreta yg sampe 24 Jam, keluar dari kereta, badan masih goyang.

  2. ira says:

    @Zulfa: gak cumak orangnya yang suka goyang, yah. Keretanya juga… :)

  3. Ellys says:

    Apik endi karo stasiun Djember & Banyuwangi Baru Mbak Ira? Hahahaha….
    Mbak Zulfa, sepur India iku ono bolone jenenge sepur Blagador jurusan Jember Banyuwangi. Tapi sepertinya sekarang sudah punah dari peradaban perkeretaapian Indonesia hihihihi…

  4. ira says:

    @Mbak Ellys: Apikan Berlin, Mbak Ellys… hehehe. Tapi aku luwih seneng dijak nang stasiun Jember karo Banyuwangi.

    hahahaha, Mbak Ellys sek eling Blagador. Aku mbiyen gak rezeki numpak Blagador.

  5. Udah kebayang pasti bagus dan serba tech. Jerman gitu lho…

  6. ira says:

    @Zahra: yoi… :) Yang ini termasuk yang modelnya modern. Aku juga suka, stasiun yang kesannya kuno.

  7. […] hauptbahnhof. Tinggal mengikuti tanda U besar di papan petunjuk. Koper besar sudah dititipkan di stasiun. Emak hanya menggembol ransel biru kesayangan. Berisi kamera, makanan dan minuman […]

  8. Iya itu keberadaan loker nitip koper sangat membantu. Jadi inget geret koper kesana-sini ketika di Singapura karena bingung nitip di mana. Kalo di KL enak, banyak tempat titip koper.

  9. ira says:

    @Cek Yan: betulll, membantu banget. Biar gak perlu geret2 koper kemana-mana. Apa lagi klo kopernya berat.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>