Zurich, kota di tepi danau Zurich termasuk kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia. Tak heran, sebab Zurich adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Dibandingkan dengan Berlin, Paris, Hamburg, Amsterdam dan Bruessel, kota terbesar di Swiss berpenduduk sekitar 365 ribu jiwa ini tak terlalu besar, namun dia memiliki keunikan a la mediteran. Max Frisch (1911-1991), arsitek terkenal kelahiran Zurich menyebutnya sebagai kleintropolis atau metropolis kecil.

Di luar negeri kota ini sangat terkenal karena bank-bank besarnya. Sebagai kota wisata Zurich menawarkan banyak hal. Gedung-gedung bersejarah, museum, gereja-gereja berarsitektur unik, tempat-tempat belanja nan eksklusif, taman-taman kota, serta kawasan perairan yang ditata dengan apik. Tak kurang dua puluh lima juta turis harian mengunjungi Zurich setiap tahunnya.

Kota di jantung Eropa ini sangat mudah dijangkau dari negara-negara sekitarnya baik dengan pesawat, bus, mobil, dan kereta api. Kami memilih pergi kesana dengan kereta api malam Swiss bernama City Night Line. Kereta malam ini mengangkut penumpang dari kota-kota besar di Eropa, seperti Amsterdam, Cologne, Hamburg, Berlin, Wina menuju Zurich. Penumpang bisa memilih mau membeli tiket tempat duduk ataupun di kabin berisi tempat tidur berbagai kelas. Tempat duduknya berada dalam gerbong khusus dengan kursi yang bisa distel hingga posisi berbaring. Cukup nyaman dan menyenangkan berada di dalamnya. Kebetulan saat itu mereka juga sedang memberi diskon. Dengan 29 euro per orang sekali jalan, kami bisa sampai ke Swiss. Perjalanan malam juga bisa membuat kami beristirahat selama perjalanan.

Menjelang masuk Swiss, polisi perbatasan mengontrol passport dan visa para penumpang. Waktu itu, penduduk Swiss belum melkukan referendum untuk masuk menjadi bagian negara Schengen. Pak polisi memastikan kami semua memiliki dokumen yang lengkap dan menanyakan tujuan kunjungan ke Swiss kepada beberapa penumpang. Polisi wanita yang memeriksa dokumen kami hanya melihatnya sebentar tanpa berkata apa-apa.

Zurich adalah kota semua musim, menurut sebuah buku panduan wisata. Artinya, kota ini asyik dikunjungi kapan saja. Saat temperatur udara menghangat di musim semi, kafe-kafe di pinggir jalanan akan mulai menggelar kursi di luar. Mengundang para tamu menikmati segarnya udara musim semi. Di musim panas, gang-gang kecil Zurich akan dipenuhi wisatawan lokal maupun manca negara. Danau akan menjadi pemandian raksasa, dengan tempat berjemur di sekelilingnya. Konser terbuka, parade jalanan, pasar malam dan acara olah raga menjadi pusat keramaian kota.

Musim gugur adalah sesi budaya. Pertunjukan teater yang heboh dan parade mode musim gugur menyemarakkan isi kota. Di musim dingin, pegunungan di sekitar akan ramai dikunjungi pecinta olah raga musim dingin.

Kereta malam yang kami tumpangi tiba di Zurich sekitar pukul 9 pagi. Segarnya udara musim semi menyapa kami bertiga. Meski sedikit mendung, cuaca cukup hangat dan nyaman untuk berjalan-jalan. Setelah menyempatkan diri sarapan dan minum kopi, kami pun siap menjelajahi Zurich.

Hal pertama yang kami lakukan adalah menukar mata uang dan mencari informasi di pusat informasi wisata di hauptbahnhof atau stasiun kereta. Zurich berada di wilayah Swiss yang menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar resmi. Jadi kami tak terlalu kesulitan membaca petunjuk dan berkomunikasi dengan orang-orang di sana. Petugas pria di pusat informasi wisata yang kami temui ternyata mahir berbahasa jerman, inggris dan perancis. Dia dengan ramah menerangkan tentang beberapa obyek wisata di Zurich, memberikan kami sebuah peta kota, serta mempersilakan kami mengambil brosur-brosur panduan di rak bagian depan. Lucunya, tanpa sadar saya mencampur bahasa inggris dan jerman saya berbicara dengannya.

Berkeliling Zurich dengan kendaraan umum adalah cara yang paling banyak digunakan wisatawan. Jaringan angkutan umum di dalam dan di sekitar Zurich memiliki sistem yang sangat baik. Tiketnya dapat dibeli di mesin otomat yang terdapat di hampir setiap halte serta loket-loket tertentu di kota. Selain nyaman dan aman, kendaraan umum seperti bus dan tram datang setiap beberapa menit sekali. Para penumpang tak perlu khawatir bakal lama menunggu. Di bulan April hingga September kapal boat juga berfungsi sebagai kendaraan umum. Kendaraan air ini sangat bermanfaat karena selain danau, dua sungai yakni Limmat dan Sihl membelah kota Zurich. Dan jika ingin keliling kota dan mengunjungi galeri seni, membeli Zurich card sangat menguntungkan. Dengan kartu yang berlaku sehari atau tiga hari ini, seseorang akan bisa menggunakan angkutan umum sekaligus masuk ke lebih dari 40 museum di Zurich dengan gratis. Harganya antara 15 hingga 30 franc Swiss.

Kami memutuskan berjalan-jalan di jantung kota yang merupakan altstadt atau kota tua Zurich terlebih dahulu. Altstadt Zurich terbagi menjadi dua bagian, dengan Sungai Limmat sebagai pembaginya.

Di sebelah kiri Limmat diantara hauptbahnhof (stasiun pusat) dan danau adalah kawasan pusat bisnis dengan banyak bank, kantor pengacara ternama, pusat perbelanjaan, toko-toko eksklusif, dan restauran. Bagian ini sangat sibuk di siang hari. Bagian kanan Limmat, dikenal sebagai Ober- dan Niederdorf, merupakan area pemukiman lengkap dengan bioskop, toko-toko kecil, dan kafe-kafe yang ramai di sore dan malam hari.

Semakin jauh menyusuri Bahnhofstrasse makin banyak terlihat toko-toko pakaian terkenal seperti H&M, pusat perbelanjaan, hotel, serta toko aksesoris, jam tangan, sepatu, coklat serta perhiasan. Emak menahan napas setiap kali melihat harga yang dipajang di etalase toko. Jelas-jelas tak terjangkau dengan kantong keluarga mahasiswa seperti kami. Selain toko, kami juga melihat beberapa bangunan dengan arsitektur menarik seperti Lindenhof, dan gereja St. Peter dekat Bahnhostrasse. Bangunan-bangunan tua Eropa berpadu selaras dengan bangunan kaca modern.

Warga Zurich menyebut Ober- dan Niederdorf sebagai doerfli. Wilayah ini letaknya lebih tingi dibanding altstadt di sebelah kanan Limmat. Terdiri dari gang-gang sempit, toko dan kafe kecil tersembunyi menyajikan pemandangan dan pengalaman yang unik saat menjelajahinya. Di sini, orang bisa berbelanja dengan harga lebih miring dibanding kawasan kota tua lainnya. Mirip gang senggol, komentar seorang teman yang pernah juga ke doerfli. Tempat ini mengingatkan saya akan kawasan St. Michel di Paris. Sama-sama merupakan pusat makanan, namun gang-gang di doerfli lebih sempit. Rumah makan berbagai bangsa bertebaran. Kami mendengar orang-orang berbicara dalam banyak bahasa, menandakan bahwa doerfli adalah salah satu tempat favorit para turis.

Sama dengan wilayah pejalan kaki di Bahnhofstrasse dan sekitarnya, disini banyak sekali disediakan bangku-bangku jalanan. Di beberapa tempat tersedia pancuran air minum. Jadi, jangan takut kehausan saat jalan-jalan di kota. Banyak orang duduk sambil mengobrol. Di salah satu bangku disudut jalan, terlihat sesorang yang sedang tiduran sambil menikmati hangat mentari. Saat itu menjelang jam makan siang. Tak heran kedai-kedai makan mulai ramai pengunjungnya.

Puas berjalan-jalan keliling kota tua Zurich, kami memutuskan berkeliling kota dengan kendaraan umum. Peta kota yang kami dapatkan dari pusat informasi wisata sangat membantu. Apalagi warga Zurich yang kami temui selalu memberi informasi yang kami butuhkan dengan ramah. Saat itu masih sekitar tengah hari. Cuaca sering berubah. Kadang cerah, kadang berangin. Namun masih cukup enak dinikmati sambil berjalan-jalan.

Kami berjalan menuju Bellevue, daerah di tepi danau yang menjadi tempat persinggahan angkutan kota seperti tram dan bus. Daerah ini sangat ramai. Hampir semua bus dan tram di Zurich melewatinya. Beberapa kafe khas Eropa dengan kursi-kursi di luar tampak berjajar di seberang. Di Bellevue juga terdapat loket pembelian tiket, sehingga kami bisa menggali informasi lebih banyak mengenai obyek-obyek wisata yang ingin dikunjungi. Harga tiket harian zone dalam kota untuk satu orang dewasa adalah 7,60 franc. Tiket ini dapat digunakan selama dua puluh empat jam di semua kendaraan umum di Zurich, yakni bus, tram, bergbahn, polybahn dan seilbahn (ketiganya adalah gerbong khusus yang mengangkut penumpang ke atas bukit), serta boat (hanya selama bulan April hingga September).

Sungguh beruntung, Zurich tak hancur saat Perang Dunia II seperti kota-kota besar lain di Eropa. Kota ini tak terlalu berubah sejak jaman pertengahan. Bahkan selama perang dunia, Zurich diuntungkan karena menjadi tempat pelarian seniman, bintang film dan kaum intelektual.

Kami merasa, Zurich adalah kota yang sangat nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Kendaraan umumnya nyaman dan aman, warga kota yang ramah, air minum gratis tersedia di banyak tempat bagi mereka yang kehausan, toilet umum yang bersih dan gratis pun gampang ditemukan. Benar-benar kota yang nyaman bagi semua orang. Juga mahal. Kami puas berjalan-jalan dan mengabadikan semuanya dalam kamera, tanpa membeli apapun kecuali tiket harian kami itu.

Possibly Related Posts:


Tags:

7 Responses to “Mengunjungi Zurich, Salah Satu Kota Termahal Di Dunia”

  1. sherly carolina says:

    Swiss is a Great country..
    :)

  2. ira says:

    and expensive, too….:)—-> for us…

  3. pengalamannya sungguh luar biasa, wah jika saya mempunyai budget besar sayapun ingin mengunjungi tempat tersebut, thank bro

  4. sari says:

    saya suka gaya penulisannya, enak dibaca (bagi saya) terima kasih untuk semua ceritanya…

  5. Nella says:

    Zürich menjadi salah satu kota termahal sedunia karena pendapatan hidup (gaji) warga di sana juga tertinggi sedunia :D

    contohnya Pendapatan dan gaji rata-rata yang diperoleh warga Zurich, Sebut saja misalnya gaji guru sekolah dasar sebesar US$84 ribu atau Rp750 juta per tahun.

  6. Naya says:

    Saya sampai ke website ini karena di November akan trip ke sana.. senang mendapat informasi yang mudah dicerna :)

  7. [...] Sekali kami kesana sekitar tahun 2006. Naik kereta malam dengan tiket murah meriah. Ke kota Zürich tujuan kami. Dua malam menginap dalam kereta api duduk berdua dengan Bapak, bergantian memangku [...]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


+ 6 = fourteen