Rudolfplatz, KolnLama tak menjelajahi kota Cologne atau Koln, hanya mampir aja di stasiunnya, kami menyempatkan diri jalan-jalan di hari libur Idhul Adha. Kami membeli tiket harian setelah pulang dari masjid.

Tujuan pertama kami adalah bandara. Memuaskan rasa kangen Adik akan pesawat terbang. Sebelumnya Emak sudah mencetak sebagian peta pusat kota dan mencatat beberapa tempat yang ingin kami kunjungi hari. Sebab kami pergi agak siangan dan di musim seperti ini hari cepat sekali gelap, tentu tak banyak tempat bisa kami lihat.

Masuk Bandara Koln – Bonn, rasa melankoli langsung muncul. Ingin rasanya mengantri di loket check in dan ikutan terbang ke mana saja. Hari itu tak terlihat terlalu banyak orang di bandara. Tak ada antrian panjang. Berpuluh calon penumpang mengantri di loket-loket di terminal 1, 2 dan 3 bandara. Kami agak berlama di teras pengunjung di atas. Menyaksikan beberapa pesawat tinggal landas atau mendarat. Adik sangat bersemangat.

Sampai di kota Koln hari sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Mendung diselingi gerimis. Dari stasiun pusat, kami naik metro ke Neumarkt. Disambung tram ke arah Weiden West. Tujuan kami : RheinEnergieStadion, markas kesebelasan bundesliga utama FC Koln.

Dari stadion, naik tram kembali ke arah Neumarkt, namun turun di Rudolfplatz, memotret salah satu sisa gerbang batu kota tua Koln. Lapar, serta hari mulai gelap, kami putuskan mengisi perut dulu di sebuah resto Jepang di kota tua. Keinginan lanjut ke daerah Heumarkt dan cincin kota tua tak jadi terlaksana sore itu.

Kami sempatkan melihat suasana pasar natal di samping Dome zu Koln. Ramai sekali di sana. Beda sekali dengan Duren, kota kecil tempat tinggal kami. Warga setempat dan para turis memenuhi pasar natal di malam dingin tak bersalju. Kami lihat ada satu kios penjual makanan Indonesia. Penjualnya juga orang Indonesia. Seorang wanita bule memberi kami seplastik krupuk udang. Orang sini tak ada ynag suka, katanya.

Susah sekali merekam dengan banyak orang begitu. Satu putaran melalui kios-kios cantik berwarna merah di pasar natal, Bapak mengajak kembali ke stasiun. Pulang. Sebelum tambah malam dan dingin.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

7 Responses to “Menikmati Lagi Cologne di Musim Dingin”

  1. freezipe.com says:

    wah…pengen kesana

  2. AD1N says:

    wow… asyik x ya …..

  3. suguh says:

    wah blog ini bikin q ngiri..soalnya q juga semeng jalan2…..wish i can merentas eropa yang eksotis….melintasi afrika yang ganas….mengigil di antartika yang beku…..wish i can do that…

  4. semut says:

    wawww..
    kerennn..
    kapan2 ajak aku meloncong dan keliling dunia dumm..

  5. tempatnya indah sekali, kokoh dan kelihatan teduh

  6. astiti says:

    Kota Koln mempunyai arti yang spesial buat saya, karena kakak saya mengambil master di Universitat zu Koln. Dua kali saya mengunjungi Koln, dan saya bisa bilang Koln adalah kota yang sangat nyaman. Saya paling suka menghabiskan sore di area kota tua sambil mengamati lalu lalang orang yang melintasi pinggir sungai Rhein. Kemudian jika sudah malam, saya akan menyeberang melewati jembatan Hohenzollern dan duduk di tepi sungai menikmati pemandangan bangunan kota tua, Dom, dan jembatannya sendiri yang sangat indah saat malam karena dihiasi kelap-kelip lampu yang mana bayangannya akan terpantul di sungai Rhein. Romantis sekali!

  7. ira says:

    ada teman keluarga kami yg cinta berat ama Köln. Kotanya gede, tapi kemana-mana gampang, transportasi umum bagus. Mau belanja apa saja lengkap. Kota tuanya ad, yg modern jg ada. Kami sendiri tinggal gak jauh dr Köln. jadi lumayan sering lewat sini. Makasih tlah mampir, ya… Salam dr keluarga pelancong.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>