Setelah mempertimbangkan beberapa hal, keluarga pelancong akhirnya pilih sewa mobil buat keliling Yordania.

Pertimbangannya antara lain karena:

- Waktu lebih fleksibel; kami bisa pergi sesuka kami. Kapan saja.

- Hemat waktu; kalau ada mobil sewaan, kami bisa langsung pergi ke tujuan dengan mudah. Tak perlu meluangkan waktu pergi ke stasiun atau temrinal bus. Apalagi kalau ke tempat tertentu, jadwal bus tidak bisa diprediksi.

- Hemat tenaga; kami berempat membawa satu kopor besar, koper kecil serta backpack masing-masing. Ribet juga kalau mau naik turun kendaraan umum bawa barang segambreng.

- Menjangkau tempat-tempat jauh dan sulit dijangkau kendaraan umum. Transportasi publik di Yordania relatif jarang dan tidak bisa menjangkau tempat-tepat tertentu.

- Lebih murah; karena kendaraan umum tak bisa menjangkau tempat tertentu, orang kudu nyewa taksi kalau mau ke sana. Di kota besar seperti Aqaba dan Amman, banyak sekali taksi menawarkan tur harian. Ke destinasi wisata utama negeri ini. Tapi kalau diitung, mahal juga jatuhnya. Apalagi harga bensin di sini masih relatif murah.

***

Menyewa Mobil

Mobil kami sewa langsung on the spot. Waktu itu mau nyewa visa daring. Karena tarsok-tarsok mulu, malah akhirnya mutusin sewa langsung di Aqaba saja.

Mulanya kami menanyakan kepada resepsionis hotel tempat kami tinggal. Katanya, dia tak punya rekomendasi khusus. Katanya di Jalan An Nahdah terdapat beberapa persewaan mobil. Kami langsung jalan kaki ke sana. Memang ada beberapa. Sebuah persewaan yang kami datangi katanya tidak punya stok. Di tempat kedua, Alamo dan National, ada. Seorang Mbak menerangkan kepada kami tentang harga dan syarat-syarat peminjaman.

Di highway 15, Yordania

Di highway 15, Yordania

Harga sewa mobil per hari 20 JD. Sudah termasuk asuransi full cover dan dua driver. Jaminannya sebesar 300 JD. Bisa dibayar cash atau pakai kartu kredit. Kondisi mobilnya lumayan lah. Citroen C4, kira-kira dari tahun 2013-an. Berbahan bakar bensin. Posisinya sudah 120 ribu km. Kalau di internet, harga sewanya bisa sekitar 25 – 30 JD per hari. Mungkin kondisi mobil lebih baru.

Proses persewaannya pun cepat. Petugasnya mengkopi SIM kami berdua. Mencatat di formulir, menerima pembayaran, lalu mengecek kondisi mobil. Kami berdua menggunakan SIM Jerman. Tak pakai SIM Internasional. Kami juga memotret kondisi luar mobil. Mobilnya otomatis. Cocok buat kondisi jalanan dan gaya menyetir di negeri ini.

Kami tak perlu mengisi bensin hingga penuh saat mengembalikan. Tapi yang gini malah gak enak. kayak kami yang kebat-kebit nyari pom bensin ketika baru minjem. Posisi bensinya sudah mau kosong, dan alarmnya dah bunyi. Pas negmbaliin, kami isi agak banyakan, agar orang setelahnya gak deg-degan kayak kami.

Pengalaman Menyetir

Mengetahui mobilnya otomatis, Emak mulai keder. Apalagi ketika memperhatikan gaya orang Yordania di jalan raya. Bikin Emak mati gaya. Serem, euy. Serta kondisi jalannya yang bergunung-gunung dan berbukit-bukit, Emak pun memutuskan gak ikut nyetir. Jadi ini ceritanya tentang pengalaman Bapak menyetir di Yordania. Emak cuma jadi pengamat jalan dan pengamat Pak Sopir aja. hihihi.

Driving around dead sea, jordan

Jalanan di Tepi Laut Mati

Kata teman Emak, Mbak Ellys, dibanding di Mesir, menyetir di Yordania termasuk tertib. Jalannya pakai jalur kanan. Meski begitu, awal-awal, kerjaan Emak teriak-teriak mulu. Emak rajin mengingatkan Bapak.

“Awas itu orang mau nyebrang!” kalau melihat orang yang suka tiba-tiba melintas aja tanpa terlalu peduli kendaraan yang mau lewat. Atau mobil-mobil yang pindah jalur seenaknya, tanpa pakai lampu sign. Klakson mudah sekali berbunyai di sini. Baru ajah lampu lalu lintas ijo, teeeettt, udah bunyi klakson mobil di belakang kita. Selain itu, sering tiba-tiba kami diserobot jalannya oleh pengemudi lainnya. Kudu ekstra sabar dan hati-hati. untungnya di sini jarang sekali ada pengendara motor.

Jalanan di Yordania relatif bagus. Meski tak semulus jalanan Eropa. Rambu-rambu pun memadai. Jalannya menjangkau hingga pelosok-pelosok pedesaan. Kami pernah kesasar di suatu tempat di pegunungan. Eh jalannya juga masih bagus. Ada semacam jalan tol antara Aqaba – Amman. Jalannya lebar. Banyak truk besar lewat dengan muatan buanyak. Di negeri ini pengemudi bebas, boleh menyalip dari kanan maupun kiri.

Kami lewat bermacam jalan. Menikmati aneka lanscape Yordania. Dari pegunungan tandus, padang pasir, sungai, hingga pegunungan berlahan subur di permukaannya. Keluarga pelancong melewati king’s highway jalan kuno yang sudah ada sejak puluhan abad lalu. Membelah tengah Yordania dari selatan menuju utara di Amman.

Selama menyetir di sana, kami menggunakan GPS di hape sebagai pembantu penunjuk arah. Di persewaan, tak tersedia peta Yordania. Tapi GPS di hape sering ngaco. beberapa kali kami kesasar, hingga harus bolak-balik nanya ke penduduk setempat. Jadi bisa berinteraksi dnegan mereka, seh. Kesulitan lainnya, adalah di beberapa daerah, alamat rumah atau hotel tidak dilengkapi dengan nomor. Seperti pada saat kami mencari hotel di Wadi Musa Spring. Nama jalannya hanya ditulis Wadi Musa. Gak tau nomor berapa. Jadi kudu nyari jalan utama Wadi Musa, setelah itu, kami susui jalannya hingga ke ujung, sebelum akhirnya ketemu hotel tersebut.

Saat keluarga pelancong berada di negeri ini, harga bensin sekitar 70 Euro sen. Atau sekitar sepuluh ribu rupiah per liter. Solar lebih murah lagi. Satu lagi enaknya di sini, tak ada petugas parkir. Jadi kita bisa parkir gratis di mana-mana. Kecuali mungkin di park house, yah. Kami tak pernah parkir di park house selama di sana. Kondisi di sana pun aman. Kami sering meninggalkan mobil parkir saat menjelajah suatu tempat. Alhamdulillah gak pernah ada yang ngisengin.

Amman

Menyetir di ibukota Yordania, tantangan lebih berat lagi. Banyak alasannya. Salah satunya adalah kendaraan lebih ramai. Kemacetan sering terjadi. Hindari lewat daerah pasar di old town. Gak pagi, siang sore, beberapa kali lewat, selalu saja kami kena macet. Karena pemakai jalan lebih banyak, selain macet, banyak sekali yang gak tertib. Baik pengendara mobil maupun pejalan kaki.

Driving in Jordan, Middle East

Di highway 40, dari Amman ke Qusayr Amra

Ditambah lagi kontur Amman yang bergunung-gunung. Banyak jalanan yang kemiringannya bikin sakit perut. Tanjakan atau turunan terjal. Bikin serem. Apalagi pas kami di Amman, cuaca sering hujan. Beuh, Emak banyak-banyak doa di jalan. Meski demikian, banyak mobil tua berkeliaran di Amman, terlihat tenang-tenang saja berkendara dengan kondisi seperti itu.

Mencari alamat pun bukan hal mudah di Amman, kudu sering berinteraksi dengan penduduk lokal. Alhamdulillah kami sering ketemu orang-orang baik. Pernah kami diantar ke tempat ketika mencari Makam Nabi Yusha. Padahal tempatnya lumayan jauh. Kadang arah yang ditunjuk orang sudha tepat, eh ketika diikuti, sedang ada perbaikan jalan. Sehingga kami harus mencari jalan baru. Kadang kudu pakai feeling juga, seh, mau ngikutin jalan yang mana. Tapi alhamdulillah sekali lagi, perjalanan mobil kami selama di Yordania terbilang aman dan lancar.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , ,

11 Responses to “Menyetir di Yordania”

  1. cumilebay says:

    Gw sering banget kalo rental mobil dapat bensin yang udah mau habis dan ini bikin stress nyari pom bensin

  2. Nah itu asyik kalau nggak ada tukang parkir, jadi ingat Langkawi. Mau berhenti dimanapun boleh aja, nggak stres mikirin parkir hehe.

  3. Emakmbolang says:

    Berasa di India hobi teet teet toot tin tan ton, hadeh.

    Enak memang mbak jalan jalan bawa kendaraan sendiri meski sewa gini, nggak naik turun koper dan itu loo… berhenti sesuka hati.

  4. ira says:

    @Mas Cumi: Yoi, mas… Lebih enak yg aturannya dapat full, ngembaliin full bensin. Lebih fair menurutku.

    @Cek Yan: Iyah betul… gak enaknya seh di kota besar dan di pasar2. jadi macet. Karena gak ada yg ngatur. :)

    @Zulfa: Nang indonesia pisan, yo. Tet tot tet tot terus mulai isuk sampek bengi.

  5. Dieng says:

    wah kapan ya punya pengalaman menarik seperti ini, hehe.. kenapa nggak sewa driver sekalian nih tan :)

  6. Lestarie says:

    Kirain mba Ira yang nyetir sendiri. Hihi. Horor mana Yordania sama Indonesia, Mbak?

  7. ira says:

    @Taro: horor nang Indonesia, Tar… Yordania jarang onok sepeda motor. hehe

    @Dieng: gak kuwat mbayar sopirnya… hehe

  8. Katerina says:

    Bapak yang nyetir, mbak Ira yang teriak-teriak :D
    Enaknya di sana bebas parkir. Duh kalo di Jakarta ini, pernah seharian bayar sampe ratusan ribu :(

  9. ira says:

    Iya…. enak banget, meski kalau di kota besar jadi kacau dan bikn macet. Sama, Mbak. Di sini parkir juga mahal. Kadang kami milih naik kendaraan umum ajah.

  10. Dewi Nielsen says:

    Kece banget ke Yordania…daerah2 kek gini aku belum ada nyali maaak..pengen sih satu hari nanti, biar makin kekinian :D Traveling sewa mobil itu rekomended banget ya ..apalagi bawa rombongan …

  11. ira says:

    @Dewi: iyah… kalau daerahnya kayak Yordania yang public transportnya kurang bisa diandalkan, lebih enak sewa moil sendiri. Apalagi kalau berangkatnya rame2.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>