Niat untuk serius terjun di dunia penulisan sama saja dengan menekuni profesi lainnya. Butuh kesabaran dan fokus. Beristiqomah menulis susahnya minta ampun. Target menulis yang sudah ditentukan sendiri, acap kali lewat tanpa kita bisa memberikan hukuman pada diri sendiri.

Setelah mengirim karya ke media massa, massa tunggu dimulai. Muncul perasaan tak menentu, harap-harap cemas. Dimuat gak, ya? Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Kok belum ada jawaban juga nih dari jajaran redaktur? Cek di epaper atau beli langsung medianya, juga belum ada tanda-tanda dimuat. Harus bagaimana?

Empat bulan adalah batas waktu yang biasa saya berikan kepada media yang saya kirimi tulisan. Setelah lewat empat bulan, biasanya saya kembali mengirim surel. Menanyakan nasib artikel tersebut. Kalau beruntung, dapat balasan dari redaktur bersangkutan. Tapi beberapa media sama sekali tak mau membalas email. Nah media seperti ini pembuat bete tingkat tinggi. Lebih baik ada kabar ditolak dari pada gak jelas. Kalau jelas ditolak, kita bisa daur ulang untuk kemudian dikirim ke media lainnya.

Kadang tak sampai empat bulan, sudah ada surel balasan berupa penolakan. Kecewa? Jelas, dong. Perasaan sudah menulis sepenuh jiwa raga. Apa kurangnya naskah ini?

Dulu saya sering kali kecewa berlebihan. Hulunya adalah harapan yang terlalu besar dan overconfident. Tulisanku bagus, pasti mereka dengan senang hati memuatnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Saya masih harus banyak belajar. Di antaranya belajar menerima penolakan.

Sekarang, saya sudah mulai terbiasa ditolak. Kecewa selalu ada. Tapi tak selebay dulu. Saya berusaha disiplin memenuhi target menulis. Setelah mengirim satu artikel ke satu media massa, saya langsung menyibukkan diri menggarap artikel berikutnya. Membaca-baca materi riset, buku panduan atau mencari informasi tentang destinasi berikutnya yang ingin saya dan keluarga kunjungi, lumayan mengalihkan perhatian. Kadang kala mengecek daftar artikel saya baru sadar, oh, tulisan ini dah lama tak ada kabarnya.

Benar kata Louise Purwin Zobel, menulis ini bukan profesi bagi mereka yang menganggap setiap penolakan sebagai kesalahan dan penghinaan bagi diri pribadi mereka. Juga bukan buat mereka yang hilang semangat ketika menerima kritik atau mudah menyalahkan orang lain jika tulisannya dianggap tidak bagus.

Ada banyak alasan redaksi untuk menolak satu naskah : mungkin artikelnya tak terlalu bagus, lain kali harus menulis yang lebih bagus. Mungkin juga tema yang serupa sudah pernah ditulis penulis lain. Atau juga karena salah sasaran. Mengirim tulisan bertema emak-emak ke majalah remaja.

Jika dengan kerja kontinyu, hasilnya belum juga signifikan, jangan mudah menyerah. Setiap orang punya titik awal. Belajar dan terus menulis sebisa kita. Perhatikan setiap kritik yang membawa kemajuan bagi kemampuan menulis kita. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Lakukan yang terbaik bagi diri sendiri! Dan teruslah menulis, menulis dan menulis!

Possibly Related Posts:


Tags: ,

13 Responses to “Menyikapi Penolakan”

  1. Aku sedang menyusun keberanian untuk ditolak nih mbak hehehe…..

  2. Kalau aku juga sudah biasa Mbak.
    Malah kebal sendiri.
    Ikutan lomba berkali-kali kalah juga biasa saja.
    Tapi yang pasti Semangat tambah terus!!!

  3. ira says:

    Mbak Ellys, semangat, Mbak! Tulisane sampeyan apik, lho…

  4. ira says:

    Sip, semangat itu yang paling penting, Mbak Ika.

  5. cputriarty says:

    terus maju yaa mbaak, kaya aku ga dinyana2 akhirnya tembus juga di JApos :)

  6. ira says:

    Terima kasih, Mbak. In shaa Allah terus maju pantang mundur… :)

  7. Dee An says:

    Aku pernah mbak, udah pasrah gak bakal dimuat, eh ternyata dimuat juga… di harian Pikiran Rakyat. Lah biasanya kirim tulisan di PR itu dimuatnya cepet bgt, gak sampe seminggu biasanya langsung dimuat… Jadi begitu ada tulisan yang lebih dari sebulan gak dimuat, aku udah pasrah… Eh taunya dimuat juga setelah lewat 2 bulan :D

  8. ira says:

    Bener, Mbak Dee An, kalau medianya terkenal, antrian tulisan juga biasanya makin panjang. Yg paling sebel itu kalau yg gak ngasih kabar apakah tulisannya dimuat atau gak.. :)

  9. Fatah says:

    Saya belum serajin Mbak nulis kisah perjalanan ke majalah. Saya masih concern ke lomba-lomba dan buku plus nulis hal-hal di luar traveling.
    Tiap kali lihat postingan link Mbak di FB, saya acap tergugah, tapi tidak sampai mem-follow up untuk menulis. Hehehe…

    Senang mengenal dan berteman dengan keluarga pelancong :)

  10. ira says:

    Nulis apa saja asal berguna bagi diri sendiri dan orang lain tentu jg penting, Tah. Tapi media di tanah air sekarang lagi asyik2nya. Lowongan buat travel writer di mana-mana. Honornya lumayan buat modal jalan2 berikutnya. hehe…

  11. dini says:

    Dan perlu keberanian untuk mengakui kekurangan kita, bangkit memperbaiki diri, serta men-share-nya kepada orang lain… ;p
    Ini seperti blog motivasi mbak, terima kasih :)

  12. ira says:

    Terima kasih sudah mengapresiasi, Mbak Dini ..:)

  13. terimakasih artikelnya sangat bermanfaat sekali

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>