kapal-pesiar-monacoHal paling tak enak ketika menjelajah suatu tempat atau kota adalah ketika hujan. Kita harus membawa payung, mengenakan mantel hujan. Pandangan mata terganggu, memotret sulit. Jalanan menjadi becek, berjalan kaki menjadi masalah. Apalagi jika disertai angin kencang. Semuanya kami alami saat berkunjung ke salah satu negara kurcaci dunia, Monaco.

Kami parkir mobil gratis di dekat kompleks pertokoan Galeries Lafayette dekat stasiun kereta api St. Laurent du Var. Katanya ada bus murah bertarif hanya 1 euro dari Nice ke Monaco. Tapi kami tak tahu dari mana naiknya. Di buku panduan berbahsa Jerman tak kami temukan informasi tersebut. Maka kami putuskan naik kereta api ynag tarifnya lebih mahal. Kereta telat datang sejam lebih. Bete rasanya. Mau membatalkan perjalan, telanjur membeli tiket.

Hujan deras menemani perjalanan menuju Monaco. Memang beda sensasi perjalanan dengan mobil dan kereta api. Sesekali matahari menyapa. Kami melewati pantai-pantai, bukit-bukit karang, tebing terjal, vila-vila tepi laut. Indah? Tak diragukan lagi.

Di stasiun pusat Monaco Monte Carlo, kami kebingungan mencari pintu keluar. Ada tempat mirip balkon dan ada tangga menu bagian bawah. Dari sini tampak sebagian pelabuhan Monaco beserta kapal-kapal pesiar eksklusifnya. Kami naik menuju pintu keluar utama. Ternyata Monaco ini bentuknya bertingkat-tingkat. Padat sekali. Lahannya sempit sementara banyak sekali orang-orang kaya ingin tinggal di sini. Setiap jengkal dimanfaatkan. Kami perhatikan, parkir di sini tak semahal dugaan. Menyesal juga tak membawa kendaraan pribadi. Apalagi Bapak ingin menjajal kemulusan jalanan sirkuitnya.

Kehilangan orientasi, kami sempat tak tahu hendak kemana. Alat GPS pun tak bersahabat. Sementara angin berhembus kencang, membuat orang menggigil saja. Ingin melihat istana kerajaan Monaco, kami putuskan melongok kasinonya dulu. Inilah yang membuat Monaco yang hampir bangkrut menjadi sekaya sekarang. Taman di depan kasino tak boleh dilewatkan. Air mancurnya spektakuler. Bunga-bunga tulip bermekaran.

Kembali ke stasiun, kami mendaki, mencari jalan menuju jardin Exotique. Konon tanaman aneh dan unik bisa ditemukan beberapa di sini. Hujan deras menerpa. Disertai angin kencang, mantel hujan kami terasa sangat tipis. Sesekali berhenti untuk berteduh, senja hampir tiba saat sampai di depan Taman. Dari atas sini, terlihat istana kerajaan. Dikelilingi tembok batu, terlihat sepi di istana. Karena hampir tutup dan hari gelap, kami urungkan masuk ke taman. Sayang sekali, kunjungan ke Monaco sangat singkat dan kurang menyenangkan.

Possibly Related Posts:


Tags: ,

One Response to “Monaco Kala Hujan”

  1. syukur says:

    Semoga suatu saat bisa berkunjung lagi,,saya ikut juga boleh hehe…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>