Berabad-abad telah berlalu, dan telah digantikan berbagai jaman. Renaissance, Baroque, hingga jaman modern sekarang. Namun orang belum melupakan jaman pertengahan hingga kini. Di keseluruhan Eropa, termasuk Jerman.

Abad pertengahan Eropa dimulai sejak keruntuhan Kekaisaran Romawi di abad 5 masehi hingga dimulainya Renaissance pada awal abad 15 masehi. Di jaman ini hampir  tak ada hukum berlaku, kecuali hukum rimba dan barbarisme, serta terjadi kemerosotan ekonomi, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai jaman kegelapan. Jaman pertengahan Jerman ditandai dengan berdirinya kota-kota dan kerajaan kecil seperti Bayern, Schwaben, Franken, Lothringen dan Sachsen. Mereka saling berperang untuk memperluas wilayah dan pengaruh masing-masing.

Di Inggris, orang menyelenggarakan festival besar seperti The Loreley Medieval Festival setiap tahun. Di sana ada pertandingan a la ksatria seperti memanah, menjatuhkan lawan berbaju besi dari kuda dengan tongkat kayu, dan perang-perangan. Di Lunigiana, Italia, sebuah kontes memanah a la abad pertengahan diselenggarakan sepanjang tahun. Orang juga mengadakan festival lain di Slovenia, Republik Ceko, Jerman dan hampir seluruh daratan Eropa.

Pantas rasanya jika sebagian warga Eropa masih merasakan abad pertengahan sebagai bagian hidup mereka. Jaman ini berlangsung selama lebih dari sepuluh abad. Jauh lebih panjang dibanding baroque dan renaissance. Orang masih dapat menyaksikan peninggalan-peninggalannya hingga kini. Dua perang dunia tak menghancurkan semua bangunan peninggalan jaman lampau di Eropa.

Demikian pula di Jerman. Gereja antik dan bangunan-bangunan kuno dengan rangka kayu bersilangan masih sering terlihat di kota-kota tua. Jika  mengunjungi kota-kota tua seperti Rothenburg ob der Tauber, Bacharach, Nordlingen, atau Bad Mergentheim, kita akan merasa berada di masa lampau tanpa mesin waktu.

Pecinta abad pertengahan Jerman bergabung dalam setidaknya 118 yayasan (tahun 2007). Masing-masing yayasan biasanya menekankan pada tema abad pertengahan tertentu. Yayasan Bauer & Bonde dari Hamburg misalnya, mengkhususkan diri pada tahun-tahun terakhir abad pertengahan. Communitas Monacensis e.V. dari Munich memainkan alat musik jaman pertengahan dan memperkenalkan seni kerajinan tangan mereka. Communitas-Milites dari wilayah segitiga Rhein-Neckar menampilkan serdadu berpindah abad 12 di jaman Raja Barbarossa.

Banyak yayasan melakukan kajian mendetail mengenai tema pilihan mereka. Mereka juga melakukan banyak kegiatan seperti pameran, penjualan pernik-pernik serta mengorganisasi suatu festival. Meski ada festival bertema barock dan renaissance, festival abad pertengahan lebih sering diselenggarakan di negara ini. Ada kota tertentu yang menyelenggarakannya rutin setiap tahun. Ada juga yang tidak.

Bremerhaven, kota tempat tinggal keluarga pelancong dulu, menyelenggarakan festival ini setiap tahun di musim panas. Animo masyarakat kota kecil berpenduduk 120 ribu jiwa ini cukup besar. Sehingga pemerintah kota merasa perlu untuk mengadakannya setiap tahun. Biasanya festival berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu, di bulan Mei.

Setiap kali festival, tak terlalu banyak peserta terlibat. Hanya diikuti sekira 15 tenda. Tema festival di kota ini adalah pasar pelabuhan abad pertengahan. Bremerhaven adalah kota maritim, makanya dipilih tema tersebut. Suasana festival diusahakan semirip mungkin dengan suasana pasar jaman dahulu. Bertempat di pelabuhan, lima belasan tenda menampilkan para pedagang dan kegiatan pasar kuno. Hadir juga lima kapal kayu kuno replika kapal jaman dahulu.

Di tenda nelayan, pengunjung bisa menyaksikan peralatan nelayan kuno, cara mereka membuat jala, membumbui dan memasak ikan. Kios baju menawarkan pakaian lama berbahan wol dan penutup kepala. Harganya bisa mencapai 200 euro per baju. Stan pembuat senjata menampilkan bagaimana menempa besi dann mengubahnya menjadi mata panah atau pisau. Juga ada tenda pembuat alat makan dan minum dari logam maupun kayu serta menjualnya kepada para pengunjung yang berminat. Ada pula penjual bumbu masak serta wewangian jaman lampau.

Semua pedagang mengenakan pakaian sesuai jaman dan profesi mereka. Tak hanya itu, beberapa orang berpakaian mirip serdadu berkeliling lokasi festival seolah-olah sedang melakukan patroli. Dua pengamen memainkan harpa dan menyanyikan lagu yang tak saya mengerti bahasanya.

Mengunjungi festival ini serasa memutar ulang sejarah. Menambah pengetahuan tentang masa lampau. Sehingga, manusia jaman kini tak lupa akan beratnya kehidupan di masa lalu. Selalu ingat akan sejarah bangsanya.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

One Response to “Perjalanan Tanpa Mesin Waktu di Festival Abad Pertengahan”

  1. Brahm says:

    Keren! Biasanya ginian lihatnya di film2 epik.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>