Ini cerita jalan-jalan jaman dahulu kala. Kejadiannya berlangsung di suatu musim panas di tahun 2004. Saat Bapak kerja liburan di Nuernberg, dan kami berdua membeli tiket liburan musim panas untuk siswa dan mahasiswa yang berlaku di negara bagian Bayern selama liburan musim panas. Tiket ini berlaku di semua kereta ekonomi di Bayern. Kami memanfaatkannya setiap akhir minggu, saat Bapak libur kerja. 

Hari Sabtu itu kami pergi tanpa rencana pasti. Pokoknya kita pergi jalan deh. Setelah bengong di stasiun kereta Nuernberg, akhirnya secara spontanitas kami memutuskan ke Garmisch Partenkirchen, kota tertinggi Jerman di lereng Alpen, ujung selatan Bayern.

Kami harus berpindah kereta api sekali di Muenchen atau lebih dikenal dengan sebutan Munich. Kereta ke Garmisch baru datang kira-kira sejam kemudian. Waktu menunggu kami pakai untuk jalan-jalan sebentar di pusat kota. Entah mengapa kami tak terlalu tertarik untuk jalan-jalan di sini. Sehingga kami hanya duduk-duduk dan berfoto sebentar di depan balai kota megah Munich.

Di dalam kereta menuju Garmisch-Partenkirchen, kami bertemu teman Bapak bernama Yose. Dia bertujuan sama dengan kami. Di tangannya tampak sebuah kantong tidur. Untuk jaga-jaga, siapa tahu menginap, katanya.

Hari ini langit berawan agak tebal. Gerimis sempat membasahi kereta api tumpangan kami. Hari tetap kelabu di Garmisch-Partenkirchen. Kami sempat mendekam beberapa lama di stasiun kereta menunggu hujan reda. Hujan membuat temperatur udara di kota ini semakin rendah saja.

Pegunungan Alpen

Daerah Garmisch dan sekitarnya terkenal sebagai tempat wisata olah raga musim dingin. Di kejauhan tampak puncak-puncak putih pegunungan Alpen. Tak jauh dari sini, ada tempat tertinggi di Jerman bernama Zugspitze. Sayang sekali ongkos kendaraan khusus ke atas sana tak terjangkau oleh kami. Akhirnya kami hanya jalan-jalan di daerah dekat stasiun saja.

Saat kami jalan-jalan, Yose sempat mendapatkan informasi mengenai beberapa obyek wisata di sekitar Garmisch-Partenkirchen. Karena tak punya tujuan khusus, akhirnya kami ikut bergabung dengannya melaju dalam bus menuju Oberammergau.

Bus melaju melewati daratan tinggi. Melewati hutan-hutan cemara, daerah pedesaan di lereng pegunungan, gereja-gereja tua, dan sebuah biara sangat besar di desa bernama Ettal.

Gerimis pun menghadang jalan kami di Oberammergau. Wow, desa ini kecil sekali. Sepi. Tak jauh keliahatan bukit-bukit yang sebagian diselimuti kabut atau bahkan salju. Jarang terlihat orang atau kendaraan lewat. Kami menuju daerah keramaian berdasarkan petunjuk jalan.

Rumah-rumah peristirahatan mungil berjajar di jalan. Melihat keadaannya, daerah ini sangat cocok untuk tetirah. Sejuk, sepi, tak banyak polusi kendaraan bermotor. Dan di musim Desember-Maret menjadi obyek menarik bagi pencinta olah raga musim dingin.

Di pusat keramaian Oberammergau, keadaannya lebih hidup. Cukup banyak terlihat orang berseliweran berjalan kaki, berbelanja, atau sekedar menghangatkan diri dalam kafe. Toko-toko souvenir banyak menawarkan mainan kayu kecil lucu. Emak membeli pensil warna kayu besar berdiameter sekira 2 sentimeter buat Embak. Sebagian dinding luar toko atau rumah-rumah Oberammergau berhiaskan lukisan-lukisan. Sepertinya tema lukisannya berdasarkan pada Injil. Menurut Yose, desa ini cukup terkenal karena lukisan dinding tersebut.

Tak lama kami menjelajahi Oberammergau. Sebab tak banyak pula penarik perhatian kami di sana. Dari halte bus sebelumnya, kami bertolak ke bagian lain Ettal, ke sebuah istana peristirahatan mungil milik almarhum Raja Bayern, Ludwig, bernama Linderhof. Perjalanan bus kemari hanya menempuh waktu kurang dari setengah jam. Hutan-hutan cemaran yang cukup rapat, daerah pertanian dan pedesaan kembali menjadi pemandangan indah kami selama perjalanan. Banyak rumah terbuat dari kayu. Beberapa orang tampak sedang memotong dan menyusun kayu perapian di depan rumah mereka.

Kompleks puri Linderhof letaknya tersembunyi di antara hutan rimbun cemara. Benar-benar di pedalaman. Emak lupa bagaimana bentuk halte bus di sana. Yang diingatnya disana ada rumah kayu cantik sebagai latar belakang foto bersama Embak. Gedung itu juga berfungsi sebagai penginapan dan toko penjual souvenir. Kami membeli beberapa kartu pos cantik. Untunglah saat itu hujan telah reda.

Jalan kaki masih diperlukan sebelum benar-benar sampai di puri Linderhof, satu dari beberapa puri cantik yang dibangun saat Ludwig von Bayern bertahta. Di bagian paling luar kompleks puri kami temukan sebuah mesjid kecil. Kata Yose, mesjid itu dibangun bagi seorang sahabat muslim Ludwig. Teman Bapak ini sangat well-informed ternyata.

Kami terus berjalan di jalan batu khusus bagi pejalan kaki. Di antara padang rumput, taman, dan pohon cemara. Jalanan menanjak. Terkadang kami mesti mendaki beberapa undakan. Meski berada di pedalaman, obyek wisata ini lumayan banyak dikunjungi wisatawan. Sekali lagi, aku melihat banyak turis Jepang berseliweran di kompleks Linderhof.

Kami sangat kecewa sesampai di depan puri persis. Linderhof sedang direnovasi. Yang kami temui adalah selembar kain lebar bergambar Linderhof. Hiks, perjalanan jauh kali ini agak melenceng dari harapan.

Puri Linderhof sendiri ukurannya jauh lebih kecil dari bayangan kami semula. Luasnya mungkin hanya seperlima Neuschwanstein. Sayang sekali. Sebenarnya, meski kecil, Linderhof keliatan cantik. Taman di depannya, sangat luar biasa. Dari depan puri di bagian bawah, taman terlihat membentuk sebuah kaskada. Dari bawah, terlihat undakan menuju ke bagian paling atas taman.

Undakan pertama membawa kita ke sebuah kolam segi empat dengan bentuk setengah lingkaran di ujungnya. Sekeliling kolam adalah pohon-pohon cemara kecil. Tepat di tengah kolam, air muncrat besar menambah spektakuler suasana kolam.

Naik ke satu tingkat lebih atas taman, akan kita temui sebuah taman kecil lainnya. Tanaman disini dipangkas sedemikian rupa. Sebagian dibentuk menyerupai gundukan-gundukan dengan bunga berwarna merah dan putih di antaranya.

Di bagian paling atas taman terdapat sebuah patung wanita. Dari tingkat paling atas, terlihat hampir seluruh bagian taman dan puri. Taman ini, ternyata masih bersambung dengan taman lain di bagian belakang puri Linderhof.

Taman di belakang puri juga membentuk sebuh kaskada, namun tak setinggi bagian depan. Bagian bawah taman terdapat sebuah taman bunga warna-warni berbentuk unik. Kami tak tahu pasti apa, sepertinya sebuah bentuk bunga juga. Di dekatnya dibangun air mancur Dewa Neptunus dan sebuh paviliun musik di bagian paling atas. Cantik sekali. Ludwig pasti punya seorang arsitek hebat di jamannya, perancang taman indah ini.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

2 Responses to “Petualangan Singkat di Lereng Pegunungan Alpen : Garmisch-Partenkirchen, Oberammergau, Linderhof”

  1. ghea setiana says:

    mau kesanaaa!! *__*

  2. ira says:

    Yukkkkk!

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>