Podgorica

Sebagai sebuah ibukota, Podgorica kelihatan sepi dan kecil. Atraksi wisata utama berada di dalam kota, berdekatan. Tiga-empat jam saja, kami sudah berkeliling sekaligus berwisata kuliner di kota ini. Sore itu kami mengunjungi Nova Varos dan Stara Varos, kota baru dan kota tua Podgorica. Keduanya dipisahkan oleh sungai kecil, Ribnica. Ribnica bermuara ke Sungai Moraca, yang juga membelah pusat ibukota Montenegro.

Kota baru Podgorica dibangun ketika Montenegro menjadi bagian Yugoslavia. Ketika Joseph Broz Tito berkuasa setelah perang dunia kedua.

Jalan-jalan di Montenegro

Jembatan Turki

Menyusuri jalan  Bul. Sv. Petra Cetinjskog, Emak menemukan taman di tepi Sungai Ribnica di bawahnya. Satu dua pasang remaja duduk-duduk di pagar tembok di tepian. Ada jalan batu ke arah sungai. Sebuah Jembatan Turki menghubungkan dua bantaran Ribnica dekat muara.

Emak turun ke arah sungai, berjalan sebentar ke arah jembatan. Sebentar lagi maghrib. Di seberang sana, ada sisa-sisa benteng atau bangunan batu tua. Satu menara masjid menjulang di kejauhan. Tak terdengar suara azan.

Emak kembali ke arah kota baru. Mendatangi jembatan khusus pejalan kaki untuk memotret Jembatan Milenium, salah satu kebanggaan Podgorica. Jembatan yang saya lalui seperti bergoyang. Apalagi kalau sedang banyak orang menyeberang.

Jembatan Milenium terlihat seperti sebuah harpa. Tiang penyangganya miring. Dua sisi tali-tali penahan dibuat asimetris. Emak kembali ke kota baru, lewat sebuah taman gelap, masuk ke jalan Vucedolska. Perut mulai lapar, apalagi melihat deretan rumah makan, di antaranya kedai makan Jepang dan China.

Tapi kaki Emak paksa untuk melangkah ke  Trg Republike, sebuah lapangan terbuka luas dengan air muncrat di tengahnya. Air muncratnya berhias lampu warna-warni. Ini tempat agak ramai. Keluarga, pasangan muda-mudi berkumpul. Anak-anak berlari-lari di sekitar air muncrat. Daerah sekitar plaza merupakan pusat perbelanjaan dan keramaian kota. Tak terlalu spektakuler dibanding pusat perbelanjaan kota besar Indonesia.

Kami makan malam di sebuah rumah makan di Sahat Kula, atau menara jam di kota tua. Pod Volat, nama restoran tersebut, direkomendasikan oleh buku panduan yang Emak pegang. Tempatnya cozy. Bekas bangunan tua dari zaman Turki Usmani. Sayangnya tak ada ruang khusus buat yang tak merokok. Kami pilih menu vegetarian. Terdiri dari omelet, aneka sayuran  jamur bakar dan roti.

Sihir Keelokan Teluk Kotor

Sebuah kejutan menanti di pagi hari. Bangun tidur, Bapak langsung mengajak ke lantai atas vila tempat kami menginap di Desa Dobrota.

„Pemandangan seperti ini tak bisa kita nikmati setiap hari,“ katanya sambil membuka jendela.

Benar saja. Di bawah sana terhampar laut tersembunyi. Dikelilingi oleh pegunungan. Sebagian permukaan masih tertutup kabut. Sepintas mirip danau-danau di Swiss.

Teluk Kotor di Montenegro

Pulau mini Perast

Teluk Kotor atau Boka Kotorska terbagi dua bagian: luar dan dalam. Bagian luarnya berada di tepian Laut Adriatik. Bagian dalam lebih tersembunyi. Masuknya lewat sebuah selat sempit diapit gunung yang mirip seperti tembok pelindung. Daratan di dalam teluk punya kota-kota kecil cantik yang dikuasai dan dibangun oleh Bangsa Venesia. Kota Kotor dan Perast di antaranya.

Agak siang kami sudah berada di pusat Kotor. Memarkir mobil, lewat pelabuhan penuh dengan perahu nelayan dan yacht kecil berlabuh. Dua lelaki sedang membersihkan kerang. Daerah ini kerang laut bercangkang hitam dibudidayakan.

Permukaan jernih air laut membentuk sebuah cermin. Memantulkan apa saja di atasnya. Perahu, desa-desa, langit, dan gunung. Terpantul sempurna di atasnya.

Kota tua  berada dalam sebuah tembok tebal. Tembok sepanjang tersebut dibangun hingga punggung gunung di ketinggian 260 m. Di mana sebuah istana tua berdiri. Bastion-bastion dan menara dibangun untuk melindungi isi kota dari serangan musuh. Yang datang dari laut atau dari gunung. Konstruksi di dalam kota berasal dari abad 12 hingga 20. Dan seluruh bagian kota tua ini masuk dalam daftar warisan Unesco.

Tak banyak turis berkunjung kemari hari itu. Mungkin karena musim dingin. Vila tempat kami menginap juga sepi. Menurut pemiliknya, di musim panas, isi vila sebanyak 17 kamar selalu penuh. Kami suka. Tak perlu berebut dan berdesak-desakan dengan turis lainnya.

Didirikan oleh Bangsa Yunani, dan dalam pengaruh Byzantium di abad 7-8 masehi, Kotor mengalami zaman keemasan di bawah Venesia. Tembok kota tuanya tinggi dan tebal. Emak masuk kota tua dari Gerbang Laut (Morska vrata).

Berada dalam kota tua ini, Emak langsung deja vu. Kok seperti berada di Venesia minus kanal-kanal dan gondola, yah? Wajah bangunannya, bentuk jendelanya, jalan-jalannya, gang-gang sempitnya, membangkitkan kenangan akan kota romantis Italia tersebut. Tapi Kotor terlihat lebih bagus kondisinya. Fasad bangunan Venesia sudah banyak yang cuil, rusak sana-sini. Emak langsung menyukai kota ini.

Berjalan terus ke arah sungai, Emak naik ke Citadel, bastion terkuat Kotor. Tembok kota dibangun di tepian sungai. Emak terus menyusuri tembok, ke arah bastion lainnya, Bembo. Turun ke sebuah taman kecil, dimana seorang pemabuk mengoceh tak keruan ditemani kucing-kucing liar.

Ada tanjakan menuju istana. Orang harus membayar jika ingin naik. Tak punya banyak waktu, kami urungkan keinginan untuk trekking singkat ke atas sana. Kami akhirnya masuk ke perkampungan. Memotret suasana perkampungan dalam Kotor, gereja-gereja tua, balai kota, sampai jemuran orang. Tinggal di sini harus rela tak punya pekarangan. Bangunan-bangunan sambung menyambung, jarang punya halaman.

Pemilik vila yang kami inapi berpesan agar kami juga mengunjungi Perast, kota kecil di tepi Teluk Kotor. Sekira 15 km dari Kotor. Ia lebih mirip desa. Tenang dan sepi. Dua pulau kecil menyendiri di kejauhan. Foto kedua pulau Emak lihat di kartu pos dan buku panduan. Keduanya sangat mini. Ada bangunan dia atasnya. Satu merupakan bangunan biara, satunya lagi gereja Katolik. Mereka jadi tempat ziarah. Sesekali terlihat perahu mendekati pulau-pulau kecil tersebut.

Keindahan Teluk Kotor sungguh menyihir. Ingin rasanya berlama-lama menikmati semua keindahan ini.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , , ,

7 Responses to “Podgorica dan Teluk Kotor”

  1. Dewi Rieka says:

    ternyata namanya Kotor a mba, kirain beneran kotor…pemandangannya indah…

  2. anotherorion says:

    kirain beneran teluknya kotor, jebule bersih :D

  3. ira says:

    @Mbak Dedew: namanya kalau dalam bahasa Indonesia emang unik, ya..

    @Mas Priyo: yoi, mas. Apik, bersih banget..

  4. Tertipu namanya teluk kotor, hehehehehe..

  5. Pulaunya bagus yah. Apalagi pulau mininya itu

  6. ira says:

    @Ima: hehehehe…

    @Anggraini: yap… pulau itu cantik dan eye catching banget.

  7. Dian Radiata says:

    Kotor dalam bahasan sana artinya apa sih? Jadi kepo.. hehehehe…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>