porto-canale-rimini

(Sambungan dari sini)

Letak Castello Sigismondo tak jauh dari Piazza Cavour, yang kami kunjungi setelahnya. Ada beberapa gedung besar dan tampak kuno di daerah ini. Sekilas seperti kompleks benteng. Akan tetapi, temboknya tak terbuat dari batu-batu alam besar. Bapak dan Emak mengambil beberapa foto. Sementara dua krucil berlari-larian di tempat terbuka luas di depan kompleks bangunan tua. Hari Minggu itu, juga tak terlalu banyak orang berlalu lalang. Hanya satu dua pedagang kaki lima, serta sebuah kafe yang terlihat sepi pelanggan.

Kami berjalan cepat melalui banyak toko kecil, lalu masuk ke pemukiman penduduk. Di jalanan sempit, namun bisa dilului mobil, pejalan kaki mesti hati-hati. Kami sering temui pengendara yang cuek memacu mobil dengan kencang mesti jalanan relatif sempit. Beberapa perkampungan Rimini di pusat kota terlihat kumuh. Sesekali tercium bau air buangan dari saluran-saluran yang sebagian besar tertututp. Mirip bau got di tanah air. Gedung-gedung di perkampungan kumuh ini terlihat tua dan tak terawat. Padahal masih ada penghuninya.

Di dekat Museo d. Citta (Museum Kota) di tempat bernama Piazza Ferrari, ada sebuah situs bersejarah di dalam sebuah ruangan kaca. Kami bisa melihat isinya dari luar. Tampak sebuah galian dan artifak-artifak, menandakan ini sebuah situs bersejarah. Kami hanya mengamti sebentar. Tak menemukan informasi memadai tentang situs ini. Sehingga kami tak tertarik. Faktanya ini adalah sebuah bukti sejarah kehebatan manusia di jamannya. Tepatnya di abad kedua masehi.

Situs bersejarah di ruangan kaca ini dinamai Domus del Chirurgo atau Rumah Dokter Bedah. Isinya masih lengkap dan terpelihara dari kehancuran. Ketika terjadi serangan kaum barbar, dingingnya rubuh ke dalam. Situs ini baru digali akhir-akhir ini, tapi dianggap sangat penting sebab bagian-bagiannya terlihat jelas. Lantai, dinding, pintu, meja tulis, botol air panas berbentuk kaki, serta tempat duduk pasien. Selain itu terdapat koleksi terlengkap alat-alat operasi bedah termasuk untuk amputasi dan menambal gigi, yang pernah ditemukan manusia. Sejak tahun 2008, situs ini menjadi bagian Museo d. Citta.

Menyusuri Corso Papa Giovanni XXII, dimana banyak pertokoan asia (terutama india) serta Afrika, kami sempat mencetak bukti check out di sebuah warnet serta belanja sebentar di sebuah toko milik orang Bangladesh muslim. Perjalanan berlanjut ke Via destra del Porto, tepat di sisi Porto Canale. Dimana para nelayan memarkir kapal-kapal ikan milik mereka. Disini juga merupakan tempat parkir kapal-kapal milik pribadi atau kapal sewa. Bau khas air payau tercium. Sempat mampir di kedai kebab halal milik orang Turki, kami bermaksud mampir di sebuah mesjid, yang berada di jalan Via destra der Porto ini. Sayangnya di nomor yang disebutkan di internet, tak terlihat tanda-tanda keberadaan sebuah mesjid. Bangunan tersebut terlihat seperti toko, dan sedang tutup. Sehingga perjalanan berlanjut menuju Delfinarium di pinggir pantai.

Kami ingin mengajak anak-anak menonton atraksi lumba-lumba. Sayangnya kami tak mengecek ulang, dan menemukan bahwa tempat ini tutup di sepanjang musim dingin. Kecewa, perjalanan kaki sore itu dilanjutkan menyusuri sebagian pantai saja. Karena sudah bukan musim orang berjemur dan mandi di laut, masuk ke sana gratis saja. Tempat persewaan keranjang berjemur, resto, kabin ganti baju, semuanya tutup. Tak banyak orang berjalan-jalan di pantai sore itu.

Kami mendekat ke arah laut. Anak-anak ingin menyentuh air. Embak menemukan beberapa kulit kerang unik. Si Adik ikut mengumpulkan kulit kerang, tak mau kalah. Jika tak di-stop, kantong mereka pasti sudah penuh dengan kulit-kulit kerang.

Asyiknya, meski semua sarana tutup, tempat bermain anak masih bisa di pergunakan. Shingga kedua krucil segera melupakan kekecewaan karena batal melihat atraksi lumba-lumba. Mereka menyibukkan diri main pasir putih halus yang tak terhingga jumlahnya, perosotan, naik turun ayunan. Susah sekali mengajak mereka berjalan kaki lagi.

Membiarkan mereka puas bermain, kami berjalan pulang. Melalui jalanan terkenal di Rimini, Viale Amerigo Vespucci. Jalan panjang ini terkenal karena banyaknya hotel-hotel, pertokoan murah serta tempat makan. Benar-benar pusat turis dan terlihat lumayan ramai di hari Minggu sore. Emak perhatikan, informasi mengenai keberadaan hotel, kantor atau tempat usaha sangat bagus di Rimini. Sebelum sampai kembali ke hotel, kami sempat menyetok beberapa jenis makanan dari supermarket setempat.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

2 Responses to “Rimini di Pantai Adriatik (3)”

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>