Sungai Saar, SaarbrückenJalan-jalan musim dingin itu gak enaknya, waktu jalan terasa sangat pendek. Apalagi di bulan Desember – Januari. Matahari mulai muncul sekitar jam 8 pagi. Setengah lima sore sudah terbenam. Belum lagi ditambah suhu udara luar yang serasa kulkas raksasa. Menyebabkan kita lebih malas untuk melewatkan waktu di luar rumah.

Demikian pula waktu kami mengunjungi negara bagian Saarland, awal Januari lalu. Saarland sepertinya lebih tinggi dibanding kota tempat kami tinggal. Salju masih banyak menutupi sebagian kota Saarbrücken, dimana kami menginap selama dua malam.

Walau siang hari sudah sampai di penginapan, dan langsung istirahat sholat, makan, kami masih bermalas-malasan. Baru selepas Asar, langsung mau jalan ke pusat kota. Anak-anak sebenarnya males ikut jalan. Apalagi awalnya kami bingung apakah mau jalan kaki ke pusat Saarbrücken yang berjarak kira-kira 2 km sekali jalan atau mau naik mobil saja. Hari itu hari libur, pastinya tak ada toko buka. Kalau mau bawa mobil pun parkir bakal gratis.

Akhirnya kami bawa mobil. Gradak-gruduk siap-siap ambil jaket musim dingin. langsung berangkat. Memasukkan St. Johanner Markt sebagai tujuan di GPS.

Hari sudah remang-remang ketika kami menemukan satu spot parkir depan sebuah toko sepatu. Sepatunya keren-keren. Untung tokonya tutup. hehehehe. Sore itu Saarbrücken sedang mendung. Dua hari berikutnya pun cuaca tetap dihiasi mendung dan hujan deras. Alhamdulillah.

Pusat Saarbrücken bersuasana khas jantung kota Eropa. Ia berada di dua sisi Sungai Saar. Ada beberapa rumah setengah kayu, trus pusat kotanya jadi kawasan khusus pejalan kaki.Toko-toko memang sedang tutup, sedangkan rumah makan buka seperti biasa. Bahkan terlihat dipenuhi pelanggan sore itu. Padahal belum jam makan malam.

Usia Saarbrücken, dibanding banyak kota lain di Jerman, relatif muda. Trier, kota tertua di Jerman, misalnya. Usianya sudah lebih dari dua ribu tahun. Sedangkan kota Saarbrücken, satu-satunya kota besar di Saarland, baru terbentuk tahun 1909. Berasal dari tiga kota lebih kecil: Alt-Saarbrücken, St. Johann a. d. Saar, dan Malstatt-Burbach.

Sebelumnya daerah yang dekat dengan perbatasan Luxemburg dan Perancis ini sering berganti kewarganegaraan. Ia bergantian dikuasai Jerman, Perancis, dan Belanda.

Bangunan tua yang masih banyak tersisa di St. Johanner Markt sekarang kebanyakan berasal dari abad 18 masehi. Ketika Saarbrücken mengalami zaman keemasan. Di bawah pemerintahan Fürst WIlhelm Heinrich. Beliau memerintahkan arsitek Friedrich Joachim Stengel untuk membuat konsep rumah-rumah tinggal bergaya barock bagi kaum berada di sana.

Landmarkt St Johanner Markt adalah St. Johanner Marktbrunnen. Air muncrat dengan pahatan berwarna putih. Airnya sedang mati. Tempat di sekeliling air muncrat ini mirip sebuah alun-alun. Sebuah tempat terbuka luas di tengah kota tempat orang-orang bertemu dan berdagang.

Kami lalu berjalan ke arah Sungai Saar. Melalui gedung teater yang pelatarannya masih penuh sisa-sisa kembang api pesta perayaan tahun baru semalam. Kami berjalan di atas Alte Brücke. Jembatan tua yang sudah dibangun orang ratusan tahun sebelumnya. Hanya pilar penyangganya saja terlihat kuno. Badan jembatan tampak baru. Sungai Saar sendiri mengalir sangat tenang. Ada kapal sedang berlabuh di tepian.

Menyeberang sungai, kami sampai di kastil Saarbrücken. Gereja di sampingnya menyolok mata. Hari sudah mulai gelap. Kami naik tangga menuju halaman kastil. Hanya satu dua orang lewat di sana. Schloss atau Istana Saarbrücken sekarang sudah jadi museum. Bagian tengahnya telah berubah menjadi konstruksi penuh kaca dan baja. Di sebuah taman di bawah istana, terdengar suara riuh.

Rupanya anak-anak sedang berkejaran di sebuah taman yang bentuknya mirip labirin. Permukaan tanamannya putih oleh salju. Kami pun turut turun ke taman. Saya mendnegar mereka berbicara bahasa Perancis dengan para orang tuanya. Tak lama, gantian anak-anak kami yang lari-lari keliling taman.

Di sini, taman terlihat tak terlalu menarik dan kurang terawat di musim dingin. Tanaman tertentu memang jauh terlihat lebih cantik di musim hangat. Saat matahari mulai tenggelam, pohon willow pun kelihatan seperti hantu. Seremmm. Kami lalu memutari tembok luar istanan, kembali masuk ke dalam kompleks Schloss Saarbrücken. Lalu foto-foto sebentar di pelataran istana, depan gedung balai kota.

Lampu-lampu kota baru saja dinyalakan. Memancarkan aura keindahan tersendiri bagi gedung-gedung yang disinarinya. Kami mulai kedinginan. Dan bergegas kembali ke tempat mobil diparkir. Sayang sekali kami hanya punya sedikit waktu di kota ini. Padahal ia punya tempat-tempat belanja asyik. Yang kami temui menjelang pulang. Yaaaaa, ibu-ibu kecewa tak sempat mampir. Bapak-bapak seneng. hehehe.

Info:

– Dengan kendaraan umum Saarbrücken bisa dicapai dengan kereta api atau bus dari kota-kota besar lain di Jerman.

– Kota ini juga punya bandara kecil. Ia juga tak jauh dari Frankfurt (Hahn) dan Frankfurt am Main.

– Makanan halal, bisa dibeli di toko kebab halal.

 

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

3 Responses to “Saarbrücken, Sore Itu”

  1. tapi bagi saya malah kangen ke sana lagi pas musim dingin mb iraa.. di sini gak ada aura musim dingin… seneng baca alur mb ira cerita, kayak ikut ada didalamnya.. ^_^

  2. ira says:

    Dulu pas musim dingin, kita masih rajin jalan-jalan ya, Ma. Sambil ngebento, tentunya. :)

  3. syukur says:

    Tempatnya romantis sekali makkk

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>