Tentu saja keluarga pelancong senang sekali bisa mengunjungi Italia. Perjalanan ini telah kami idamkan bertahun-tahun sebelumnya. Setelah menabung beberapa lama dan beruntung bisa mendapatkan tiket pesawat sangat murah, impian ini menjadi nyata.

Bisa berada di sebuah negeri penuh sejarah, benar-benar tak tergambarkan rasanya. Di lain pihak, perjalanan kami kali ini banyak membawa hikmah. Beberapa kejadian yang telah kami lihat membuat kami tiada berhenti bersyukur.

Dalam perjalanan ke Roma, kami mesti pindah kereta di Bologna dan mesti menunggu sekitar dua jam di stasiun transit ini. Ruang tunggu stasiun besar. Isinya tak hanya para turis dan penumpang kereta. Banyak gelandangan memanfaatkannya sebagai tempat untuk tidur. Mereka tidur sembari duduk. Mungkin karena tak enak hati dengan banyaknya penumpang, atau karena peraturan melarang mereka demikian. Satu deret panjang bangku terisi oleh orang-orang ini. Satu orang tua tampak sangat senang menerima pemberian makanan dari temannya. Beliau makan dengan lahap menjelang tengah malam itu.

12 Agustus 1980, stasiun Bologna pernah menjadi korban bom. Organisasi teroris melakukannya dalam rangka Operasi Gladio, salah satu kegiatan berbau fasisme. Delapan puluh lima orang, termasuk anak-anak meninggal dalam pemboman tersebut. Dari nama-nama korban, tercatat nama orang-orang asing.

Di Roma, kami temukan beberapa gelandangan yang juga bermalam di stasiun Tibutina. Diantara bahkan terdapat wanita-wanita tua. Pemandangan pembuat trenyuh. Rasa syukur saya panjatkan. Alhamdulillah, kami masih memiliki rumah untuk tinggal. Tak besar dan masih mengontrak, namun cukup bagi kami sekeluarga. Di stasiun Roma Termini, para gelandangan mengemis atau mencari koin-koin tertinggal di mesin penyedia tiket kereta api. Ada yang kemana-mana membawa troli barang stasiun. Lengkap dengan koper-koper seperti layaknya penumpang kereta.

Awalnya kami juga menyangka mereka adalah penumpang, namun jika diperhatikan secara lebih seksama, bisa dibedakan mana penumpang dan mana gelandangan. Saat kami kembali dari jalan-jalan di malam hari, terlihat sebuah mobil box sedang membagikan sembako bagi wajah-wajah ceria gelandangan.

Pedagang-pedagang asongan dan kaki lima dapat juga ditemui dengan mudah di kota-kota Italia kunjungan kami. Mereka berwajah Asia, India, dan banyak juga pedagang-pedagang berkulit hitam. Barang-barang yang dijajakan antara lain syal-syal pashmina tiruan, tas, jam tangan, gambar-gambar, souvenir, dll. Di Vatican, kami temukan wajah-wajah was-was pedagang-pedagang asongan berkulit hitam. Sembari menjajakan tas-tas wanita di pundak, mereka bersiaga kalau-kalau petugas keamanan datang. Mereka segera lari bersembunyi setiap melihat petugas keamanan (polisi) berpatroli. Sedih juga melihatnya. Alhamdulillah, selama ini kami dapat mencari penghidupan dengan nyaman, tanpa perlu merasa takut dikejar petugas.

Empat kota, yakni Venezia, Roma (termasuk Vatikan), Pisa dan Firenze kami kunjungi dalam empat hari. Di tengah kepenatan naik turun kereta ekonomi, makan seadanya, dan hanya bermalam semalam di hotel, perjalanan ini telah membawa banyak hikmah, telah menyaksikan satu potret kemiskinan di Eropa. Alhamdulillah, kami bersyukur karena tak menjadikannya sebuah perjalanan sia-sia.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , , , ,

One Response to “Saba Italia, Sebuah Perjalanan Syukur”

  1. […] Satu orang bisa-bisa membayar kurang dari 10 euro per malam. Sedangkan Amsterdam, Kopenhagen, kota-kota di Italia, Barcelona, bertarif lebih tinggi. Termurah 20 hingga 30 euro per orang per […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>