Empat hari di Yunani, baik di Thessaloniki maupun Athena, tak sekalipun kami mampir ke rumah makan, kafe atau sejenisnya. Mereka menggunakan tulisan berbahasa rumus yang tak kami mengerti. Agar tak salah membeli makanan tak halal sebab tak bisa membaca menu, kami hindari pergi kesana. Apalagi hampir setiap menu tak menyediakan terjemahan dalam bahasa Inggris. Selain kami juga bukan jenis mereka yang suka mencoba makanan baru. Kami hanya membeli makanan di tukang roti goreng dan supermarket. Alasan lain, di penginapan kami di Athena tersedia dapur.
Namun di saat-saat terakhir di bandara Thessaloniki, menjelang kembali ke Jerman, Emak tak mampu menahan diri melihat porsi-porsi besat salat cesar. Di sebuah kafe pojokan bandara. Sayurannya dipotong besar dan terlihat sangat segar. Irisan buah zaitun kesukaan Emak, ditambah keju susu kambing dan roti dan saus, salat ini terlihat sangat menggugah selera.
Maka, harga salat yang cukup mahal (hampir 7 euro seporsi) tak menggoyahkan semangat Emak untuk mencicipi. Karena waktu sempit, Emak baru memakannya di dalam pesawat. Uhmmm, hasilnya mengecewakan. Sayurnya sebagian besar terasa pahit. Zaitunnya pun sepat. Saus salatnya sama sekali tak membantu memperbaiki cita rasa. Susah sekali Emak menelannya. Akhirnya beliau memaksa Bapak untuk menghabiskan. Yah, percobaan kuliner kali ini berakhir tak seperti harapan.
Possibly Related Posts:
- Makanan Halal di Rimini dan San Marino
- Makanan Halal di Antwerpen
- Ravintola Habibi, Restauran Halal di Helsinki
- Wisata Kuliner di Brussels (2)
- Wisata Kuliner di Brussels (1)
waduh.. kasihan amat gan.. 7 Euro melayang gitu aja
:D
beliin nasi pecel udah sampe muntah gan 1 Euro.. aja
hehhehehehehhe, iyah. nyesel banget belinya…