Depan Beethoven HallHari kedua memanfaatkan tiket karnaval, Emak belum fit. Malah batuk makin menjadi. Pagi-pagi sempat gamang mau pergi apa tidak. Hari itu di Köln ada karnaval anak-anak. Di kampung kami juga. Adik dan Bapak berburu manisan dapat dua kantong kain penuh. Namun Emak tak hendak ke Köln. Emak berencana ke Bonn.

Emak sudah pernah ke bekas ibukota Jerman ini. Beberapa kali bahkan. Saat silaturahmi ke teman-teman. Atau ketika salat hari raya di bekas kantor kedutaan Republik Indonesia. Akan tetapi, rasanya Emak belum pernah puas menjelajah kota ini. Salah satu cita-cita Emak berkaitan dengan Bonn adalah, mengunjungi rumah tempat lahir seorang komponis masyhur, Ludwig van Beethoven.

Kira-kira pukul satu siang Bapak mengantar Emak ke stasiun. Kereta hari itu sepi dibanding hari Sabtu. Transit sebentar di Köln, tak lama Emak sudah ada di Bonn.Bekas ibukota Jerman, namun terlihat sederhana. Dua hari berturut-turut ceritanya mau saba museum. Walau sebelumnya gak keturutan ke museum parfum.

Pusat kota Bonn tinggal menyeberang stasiun saja. Emak sudah mencetak selembar peta wisata kota. Sebab kantor turis informasi mestinya tutup hari itu. Peta tersebut tak terpakai. Semua objek tujuan Emak sudah ditunjuk secara jelas oleh papan-papan informasi. Bahkan sudah ada jarak menuju objek tersebut. Sehingga Emak bisa memperkirakan berapa jauh lagi berjalan.

Walau sedang libur dan sebagian besar toko tutup, Bonn tak tampak sepi. Banyak orang hilir mudik di pusat kota. Sebagian duduk-duduk di kafe atau rumah makan yang tetap buka di hari Minggu atau hari libur. Turis juga ada. Termasuk Emak. hehe.

Tujuan pertama hari itu, monumen Beethoven segera Emak temui. Letaknya di depan kantor pos lama. Gedung tua cantik yang masih berfungsi hingga kini. Di dekat monumen sebuah kafe tempat duduknya ramai diserbu pelanggan. Menjelang karnaval, tenda-tenda putih dipasang dekat patung. Agak tak nyaman memotret patung jangkung Beethoven.

Emak putuskan langsung ke museum saja. Lewat depan Rathaus, kembali ketemu kerumunan massa. Orang berdiri rapat di tangga depan rathaus. Mengenakan kostum-kostum mirip bangsawan masa lampau.

Beethoven’s Haus berada sederetan dengan sebuah gereja besar. Dari depan kelihatan sepi. Ada sebuah gedung direnovasi di seberangnya. Di tembok atas tergambar wajah Beethoven. Emak kira gedung yang sedang direnovasi itulah Rumah Beethoven. Sempat kecewa bahwa ternyata museumnya sedang tutup. Nyatanya Emak salah sangka. Museumnya tetap buka. Bahkan relatif ramai. Sayangnya pengunjung tidak boleh memotret isi museum hanya boleh memotret dari luar rumah dan bagian halamannya saja.

Tarif masuknya 6 (Rp. 90.000,-) euro buat orang dewasa.

“Brosurnya mau bahasa apa?” tanya Mbak resepsionis.

“Inggris,” jawab Emak.

Setelah menyimpan tas dan kamera di laci khusus, Emak langsung ke gedung museum di sebelahnya. Sebuah rumah tua bercat hijau dan krem. Tak lupa Emak membawa buku catatan. Agar tak ada yang terlupa.

Ruang pamer museum terdiri dari tiga lantai. Asalnya gedung ini terdiri dari dua bangunan berbeda. Ia menjadi museum sejak 1889. Ketika rumah tersebut akan dijual dan nyaris dihancurkan. Dua belas orang akhirnya membentuk yayasan Beethoven dan berhasil menyimpan sebagian besar barang peninggalan Beethoven.

Setelah kelahiran Beethoven, keluarganya sempat pindah beberapa kali di Bonn. Lantai rumah tua ini terbuat dari potongan kayu. Terlihat sangat tua dan agak lapuk, berderit-derit ketika diinjak. Apalagi jika dalam satu ruangan berkumpul banyak pengunjung. Di tiap lantai ada seorang ibu penjaga. Rata-rata sudah sepuh. Antara 50-60 tahun. Alunan musik klasik menemani Emak di dalam museum. Entah simfoni mana. Emak tidak mudeng ama musik ini.

Semua ruangan dan denahnya tergambar jelas di brosur. Isi brosurnya juga lengkap. Menggambarkan suasana setiap ruangan. Emak hanya menambahkan beberapa catatan kecil. Di beberapa tempat terpasang pengatur suhu udara. Ada lukisan tua dan banyak dokumen orisinal yang harus dilindungi agar tidak mudah lapuk dimakan usia.

Ludwig van Beethoven mewarisi darah seni dari kakeknya yang bernama sama. Ayahnya pun bekerja sebagai pemain musik. Lahir Desember 1770, Beethoven hanya 3 tahun ketika kakeknya wafat. Kakeknya bekerja sebagai Master of the Chapel. Sejak usia 12 tahun, Beethoven juga mulai bekerja di orkestra milik istana. Pada usia itu pula ia menulis komposisi pertamanya (9 Variations for Piano on a March by Dressler). Bahkan setelah ibunya wafat tahun 1787, dan ayahnya menjadi pecandu alkohol, Beethoven lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Tahun 1792, Beethoven hijrah ke Wina utnuk belajar musik pada Joseph Haydn. Mozart sudah meninggal dunia kala itu. Wina adalah kota terbaik untuk mendalami musik klasik. Kota dimana para komposer terkenal tinggal. Ia seharusnya kembali ke Bonn setelah masa belajar selesai. Lalu terjadi Perancis menguasai sebagian Jerman. Beethoven tinggal di Wina hingga ajal menjemput.

Di ibukota Austria ini karir musik Beethoven meroket. Ia menulis beberapa komposisi. Beberapa alat musik peninggalan Beethoven seperti biola dan piao kuno terpajang di ruang museum. Bersama surat-surat bertulisan tangan asli Beethoven. Emak senang tulisan Beethoven ternyata tak kalah jelek dengan tulisan Emak. Berkali Emak mencoba membaca tulisannya. Tertangkap satu dua kalimat saja.

Pendengaran Beethoven mulai terganggu saat ia di Wina. Berbagai alat bantu pendengaran dicobanya. Ada alat mirip tanduk banteng. Terbuat dari metal. Akan tetapi, beliau tetap aktif menulis komposisi sampai hampir wafat. Terakhir, Emak melongok ke arah kamar tempat Beethoven lahir di lantai 3. Ruangan sangat sederhana dan dibiarkan sebagaimana aslinya.

Emak selalu kagum masuk museum seperti. Bagaimana mereka menjaga warisan budaya, mengumpulkan barang-barang sehingga menjadi koleksi berharga, sungguh patut diacungi jempol.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

6 Responses to “Sambang Beethoven di Bonn”

  1. Dee An says:

    Aku juga sependapat ama yang mbak Ira tulis di paragraf terakhir. Jadi inget baca tulisan Trinity di buku terbarunya, tentang kunjungannya ke museum Bob Marley…

  2. ira says:

    Orang di sini suka banget ama yang namanya museum, Mbak Dee An. Hari Minggu atau hari libur biasanya mereka ngelmu ke museum2. Makanya museum bisa bertahan hidup. Ini juga yang membuatku salut. :)

  3. Katerina says:

    Aku nungguin foto mbak Ira lagi narsis bareng patung Beethoven pake kostum masa lampau :D

    Ketawa dulu baca ini: “Emak senang tulisan Beethoven ternyata tak kalah jelek dengan tulisan Emak.”

  4. ira says:

    Kayaknya bisanya pas ke Austria, Mbak Rien. Ada baju2 kurung disewakan di sana.hehehe.

  5. iniii iniii jadi mengulang kembali cerita “mencari patung kepala”.. belum kesampaian.. untung bisa dapat ceritanya di sini.. makasih mb ira *_*

  6. ira says:

    hehehehe… iya, Ma. Kudu diulang in shaa Allah nyari kepala patung ini. :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>