Gedung Teater Nasional, Bratislava

Dari Budapest, perjalanan berlanjut ke Bratislava. Emak baru kenal nama kota ini setelah berada di Eropa. Ternyata dia adalah ibukota pecahan negara Cekoslowakia, Slowakia. Tak seperti Praha yang sangat terkenal sebagai kota tujuan wisata utama Eropa, nama Bratislava seakan tenggelam. Kota ini memang terlihat tak semegah dan seindah Praha. Karena Hungaria belum masuk wilayah Schengen saat itu, maka kami harus mampir ke Slowakia agar tak perlu mengurus visa kunjungan. Lumayan, untuk menambah koleksi stempel di paspor dan menambah panjang kota dan negara yang pernah kami kunjungi.

Keuntungannya, Bratislava sangat praktis untuk dikunjungi. Berjalan seharian saja, sudah bisa datangi hampir semua obyek wisata utamanya. Letak mereka sangat berdekatan dan berada di dalam kota. Semuanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Kami naik kereta api ekonomi dari Budapest sore hari sebelumnya. Semalam beristirahat di penginapan merangkap asrama mahasiswa membuat tubuh kami segar kembali. Sehingga pukul sembilan pagi kami sudah berada di depan Mbak resepsionis, bertanya-tanya tentang transportasi menuju benteng. Tak lama, kami pun berada dalam tram tua. Ongkosnya sangat murah dibanding transportasi serupa di Jerman. Halte dimana kami turun letaknya sangat dekat dengan Sungai Danube. Sehingga kami mampir sejenak memperhatikan jembatan, kapal-kapal lewat dan daerah perumahan modern di seberang sana.

Benteng Bratislava terletak di sebuah bukit. Kami naik undakan besi sebelum sampai di kaki bukit. Rumah-rumah, kafe, apartemen cukup rapat dari kaki bukit. Pendakian ke atas bukit, ternyata lumayan menguras tenaga. Apalagi suhu udara juga masih tak jauh dari angka 40 derajat Celsius. Walau bentengnya terlihat sederhana, namun nampaknya banyak juga turis datang kemari untuk sekedar menengok. Sesekali kami berfoto sambil ngos-ngosan. Menjelang puncak bukit, yakni kompleks benteng, pemandangan ke bawah menakjubkan juga. Kami berkeliling sebentar ke beberapa bangunan tua yang telah beralih fungsi menjadi museum sejarah. Tak lupa kami mampir membeli souvenir dan beristirahat di taman benteng yang bersih, rindang dan dihiasi beberapa patung batu dan besi.

Turun, kami langsung menuju pusat kota nan lengang. hari itu memang bukan akhir minggu. Namun untuk ukuran suatu ibukota, suasana disana terasa sangat sepi. Beberapa orang memilih nongkrong di kafe atau restauran. Tak banyak terlihat berjalan di pusat kota. Enak juga buat pelancong seperti kami. Tenang. Tak perlu terburu-buru serta berdesak-desakan kemana-mana.

Di jantung kota, kami mendatangi hampir semua obyek yang ada di dalam buku panduan wisata. Antara lain gedung teater nasional, pancuran-pancuran unik, patung-patung lucu, universitas yang telah berdiri sejak abad 15, Gerbang Michael, Katedral Martin Suci, dan Istana Kepresidenan Grassalkovich. Diselilingi istarahat di bangku-bangku kota dan makan di satu kedai kebab. Model-model bangunannya standar Eropa. Tak ada yang terlalu unik.

Itulah Bratislava, ibukota kecil, sederhana dan sangat praktis untuk dikunjungi.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

3 Responses to “Sebuah Ibukota Sederhana Bernama Bratislava”

  1. Rosi says:

    berkunjung ke blog yang penuh foto2 indah…. cerita pengalaman yang mengagumkan. slm kenal

  2. ira says:

    terima kasih. salam kenal juga, ya….

  3. […] di kota tua, dengan gedung-gedung uniknya, sama sekali tak membuat kami kecewa telah berada di sini. Sebuah […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>