Mengunjungi kota berumur sekitar tiga ribu tahun adalah sebuah bentuk wisata arkeologis. Di Athena, peninggalan sejarah masa silam di kota pencetus demokrasi berbaur dengan produk masa kini berbau kapitalisme. Pasar-pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Keduanya menawarkan petualangan seru saat menjelajahinya.

Kami hanya punya waktu sehari semalam di Athena, sebelum kembali ke Thessaloniki untuk terbang balik ke Jerman. Malam sebelumnya, kami menghabiskan waktu dalam sebuah kereta malam selama setidaknya enam jam. Ongkos keretanya murah. Hampir 24 euro per orang. Dalam sebuah kompartemen berisi 6 tempat tidur. Kami bertiga berada dalam kompartemen yang sama dengan seorang ibu dan anaknya. Sebagian besar waktu perjalanan kami habiskan untuk tidur. Tak peduli meski penumpang lain berisik di kompartemen mereka atau mondar-mandir di koridor gerbong kereta. Kami terlalu lelah setelah setengah harian berjalan naik turun bukit di kota Thessaloniki. Kereta bermesin diesel ini cukup nyaman walau mesinnya agak berisik.

Merasa cukup berisitirahat, kami langsung bergegas menuju tujuan wisata pertama hari ini, Bukit Akropolis dan sekitarnya. Sesuai rute anjuran di buku panduan. Tak bisa langsung ke penginapan, sebab siang hari kami baru bisa masuk kesana. Sekali lagi,  kunjungan ke tempat-tempat wisata harus dilakukan dengan beban berat di punggung.

Sistem kereta bawah tanah atau metro Athena adalah sebuah kejutan. Suasana stasiun metro jauh dari bayangan kami. Melihat semrawut dan kacaunya lalu lintas Yunani, kami bayangkan, metro-nya tak akan jauh berbeda. Kenyataannya, kami temukan sistem metro terbersih dan termodern yang pernah kami liat. Tak kalah, bahkan sedikit lebih baik dibanding metro Jerman. Stasiunnya sangat bersih. Lantainya terbuat dari keramik mengkilap. Lift-nya bersih dan harum. Para penumpang juga tertib dan menjaga kebersihan.

Stasiun pemberhentian Akropoli hanya lima halte jauhnya dari Larissa. Awalnya kami bingung menentukan arah Bukit Akropolis. Tak lama, sebab Parthenon menyembul di ketinggian di sela-sela gedung perumahan.

Menurut buku panduan kompleks arkeologi bukit Akopolis adalah tempat yang harus dilihat bagi siapa saja yang baru pertama kali mengunjungi Athena. Selain sebagai lambang utama kota, situs ini merupakan saksi bisu lebih dari 2500 sejarah ibu kota tertua di dunia tersebut.

Kami memotret atau dipotret berlatar belakang  tembok  tua di sekeliling Akropolis. Dari luar terlihat bahwa sebagian kompleks sedang direstorasi. Rangka besi menutupi sebagian Parthenon dan candi-candi lain di dalam kompleks.

Terus menyusuri bagian luar Akropolis melalui Dionysiou Areopagitou, kami menemukan obyek sangat menarik, Theater Herodes Atticus, yang sayangnya tertutup bagian depannya. Kami menaiki tangga marmer agar dapat menyaksikan bagian depan theater.

Pemandangan spketakuler tersaji di puncak Bukit Aeropag. Sebagian besar kota Athena terlihat dari sini. Juga gunung-gunung di sekelilingnya. Lykavettos, Parnitha, Hymettos, dan puncak Akropolis. Di bawahnya, terbentang kota kuno Agora, situs arkelogi lain seperti Menara Angin, Perpustakaan Hadrian, Thission. Rumah-rumah khas warga Athena, yang sebagian besar berwarna putih, gereja, gereja tua, Monastiraki, dll.

Pasar Monastiraki tak terlalu ramai pagi itu. Saya makan sambil mengamati segala sesuatu di sekitar. Selain pasar, ada bangunan stasiun metro, warung-warung makanan, dan sebuah mesjid tua tak jauh dari tempat duduk kami. Mesjid tua itu, Tsisdarakis namanya, sekarang menjadi Museum Seni Rakyat. Meski berada di tengah pasar, keadaannya lebih baik dibanding 2 mesjid yang kami lihat di Thesaloniki. Dua tiga orang berkulit hitam membawa setumpuk CD – DVD. Menawarkan mereka ke pengunjung warung atau pejalan kaki. Pedagang dimana kami membeli kue-kue laris diserbu pembeli.

Menjelang tengah hari, kami bermaksud langsung menuju penginapan di dekat Bundaran Ommonia. Makanya kami berputar menuju Jalan Mitropleos. Melewati warung-warung makan, kami berbelok lagi ke salah satu jalan paling terkenal di Athena, Athinas. Di sepanjang jalan inilah urat nadi penghidupan sebagian besar warga kota berdenyut. Di sepanjang pertokoan dan pasar utama kota Athena.

Menyusuri Jalan Athinas menjanjikan petualangan bagi mata, jiwa, serta raga. Di sini suatu gambaran kehidupan warga Athena yang menurut kami mirip dengan tanah air terpampang. Sembari mata melihat-lihat, tubuh juga mesti tak kalah lincah menyelinap di trotoar penuh pedagang kaki lima, penjual serta pembeli, menyeberangi jalan-jalan dimana banyak kendaraan bermotor nyelonong saat lampu merah. Juga menyiapkan telinga saat mendengar teriakan-teriakan keras para pedagang menawarkan barang dagangan miliknya.

Berjalan lebih jauh, kami menemukan pasar besar, penjual kebutuhan pokok warga kota. Mereka dikelompokkan berdasarkan jenis dagangannya. Masing-masing dalam sebuah ruangan. Ada kelompok penjual sayuran dan buah segar, pedagang bumbu, daging, ikan, dsb. Dia antara semuanya, ruangan penjual ikan paling ramai dikunjungi pelanggan. Tempatnya bersih dan tak bau. Para pedagang berteriak-teriak menawarkan ikan segar miliknya. Emak yakin, mencari ikan terbaik dengan harga termurah  akan sangat mengasyikkan di sini.

Kumpulan pedagang terakhir yang kami temui sebelum Bundaran Ommonia adalah para penjual bunga dan tanaman hias. Para pedagang berjualan sambil sesekali menyirami tanaman milik mereka. Mereka menempati areal terbuka beralas beton dengan kolam dan monumen di tengah-tengah. Setiap pedagang mendiami sebuah tenda beratap terpal. Dibanding kompleks pasar lainnya, daerah ini tak terlalu ramai dikerumuni pembeli. Suasananya terlihat lebih santai dan bersih.

Tengah hari di penginapan, kami beristirahat sejenak dalam kamar dengan dua dipan kecil. Meluruskan tubuh setelah setengah hari berjalan kaki. Ruangannya sangat sederhana. Isinya lemari, wastafel, gantungan handuk, dan meja kecil.

Sorenya, dari bundaran Ommonia, kami mengambil jalan Stadiou ke arah Syntagma. Sepanjang Stadiou adalah pertokoan, hotel dan mall. Bebeda dengan jalan Athinas, pertokoan di sini beda kelas. Sebagian adalah toko-toko dan mall penjual barang bermerek. Kami melewati gedung indah universitas, berfoto sebentar, dan meneruskan perjalanan kaki lebih cepat. Sesekali kami berpapasan dengan pendeta Ortodoks berjubah hitam atau biru tua.

Syntagma adalah kawasan modern Athena. Gedung-gedung di sekitar lapangan segi empat ini adalah bangunan baru. Berfungsi sebagai hotel, perkantoran, dan bank. Di sinilah para politisi Yunani bermarkas. Di Gedung Parlemen berwarna merah muda.

Kompleks Olympieion berada di areal luas berumput dan berpasir. Pepohonan tumbuh di pinggir. Tinggi pagarnya sekitar 2 meter. Terbuat dari besi renggang. Memungkinkan kita memotret dari luar.

Situs arkeologi Kerameikos hanya berjarah 600-an meter dari pasar Monastiraki. Jalan raya menuju kesana sepi. Toko-tokonya juga.

Kerameikos terletak di pinggir kumpulan peninggalan arkeologi Athena dan sangat sedikit dikunjungi wisatawan dibanding situs lainnya. Sisa-sisa bangunan di Kerameikos tak setinggi dan sebesar di Akropolis dan Olympieion.

Kerameikos dinamai berdasarkan Keramos, anak Dionysos dan Ariadne, pahlawan para pembuat tembikar. Lebih seribu tahun lamanya menjadi pemakaman umum warga Athena kuno. Lokasinya berbentuk segi empat di tengah-tengah pagar besi warna hijau. Sisa-sisa pilar pendek, batu-batu berbentuk balok di susun berjejar di atas pondasi batu panjang di sela-sela rerumputan. Dua orang terlihat sedang menekuni sebuah papan informasi di dalam kompleks. Meski tak sespektakuler situs lain, di sini pernah ditemukan sebuah wajah Spinx, kouro (patung serdadu muda), serta patung singa.

Setelahnya, sekali lagi, kami melewati beberapa kawasan perdagangan. Mulai dari pertokoan penjual baju-baju partai besar hingga toko-toko baju orang India, serta loket-loket kecil penjual tiket bus antar kota antar negara. Pedagang grosir baju didominasi oleh orang-orang bertampang Asia. Nama tokonya pun dalam bahasa China dan Yunani. Mereka menjual baju dan aksesoris model terbaru dengan harga murah. Toko-toko mereka sekalian berfungsi sebagai gudang. Dari jendela kaca, kami melihat berkardus-kardus pakaian. Emak duga diimpor dari China.

Setelah pedagang China, kami lewat toko-toko pakaian milik orang-orang berwajah India atau Pakistan. Mereka menjual sari, sepatu, hena, dan aksesoris khas negeri mereka. Juga kumpulan toko milik orang berwajah timur tengah penjual baju-baju muslim dan sepatu. Sepertinya, Athena merupakan surga barang murah dari berbagai belahan dunia.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

6 Responses to “Sehari di Athena : Antara Peninggalan Arkeologis dan Pasar Tradisional”

  1. haedir says:

    wuaaaa keerrrrrrrrreeennnnnnnnnnnn !!!!!!!!

    salam kenal

  2. Zippy says:

    Huhuhu, pengen ke Athena.
    Tp kapan ya?
    Hmm, mudah2’an aja bs kesana. Amin.
    Btw, salam kenal :)

  3. Ancis says:

    Hmmm enaknya bisa jalan2 keliling dunia…. pengen sich tp sulit, he..he..he.. sebenaernya aku pengen sekali kunjungi tempat2 sejarah gitu tp mau gimana? he..he… salam kenal..

  4. […] Athena, pasar-pasar tradisional terletak dalam satu kompleks besar. Yang utama sepertinya yang terletak di […]

  5. […] Athena, kami pernah lewat pasar pasar loak buka permanen. Sebagian besar berupa toko-toko. Di Brüssel ada […]

  6. […] berikutnya kami di Thessaloniki adalah di siang hari, sepulang dari Athena. Rute Athena – Thessaloniki kami lalui dalam sebuah kereta api ekonomi berdurasi hampir enam jam. […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>