Kurang lengkap rasanya jika belum mengunjungi kota Paris selama berada di Eropa. Demikian pula yang kami rasakan. Setelah empat tahun tinggal di Jerman keluarga pelancong berkesempatan mengunjungi kota cinta ini. Padahal kedua negara ini berbatasan secara langsung.

Alternatif termurah bagi kami saat itu adalah dengan bus tur dari Rainbowtour. Keluarga pelancong pergi kesana ditemani seorang teman wanita, Efa. Sekitar 50 euro-an saat itu biayanya per orang. Menginap dua hari dalam bus. Kami punya waktu seharian penuh di Paris. Sangat pendek. Tapi karena saking inginnya kesana, kami lakoni saja.

Sore hari bus beranjak dari Hamburg. Sekali pindah bus di Köln. Bus yang kami tumpangi cukup nyaman, dan dilengkapi dengan toilet di dalamnya. Kami juga bisa memesan minuman ringan maupun kopi dan teh dengan harga murah kepada pemandunya. Selama perjalanan, beberapa kali bus berhenti di tempat peristirahatan. Semalaman, kami tidur cukup nyenyak di dalamnya.

Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan pagi ketika kami telah sampai di Paris. Kabut masih menyelimuti kota. Beberapa kali Katja, sang pemandu wanita menerangkan beberapa tempat dan bangunan penting sejak kami mulai memasuki kota ini. Kami diturunkan di Montmartre, bagian kota dekat Gare du Nord (stasiun). Katja membagikan peta kota Paris dan menunjukkan tempat kami bertemu saat pulang tengah malam nanti. Selamat bersenang-senang, katanya.

Sehari di Paris

Paris adalah kota metropolitan paling sering dikunjungi di dunia. Setiap tahun, kota berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, atau seperlima penduduk Perancis ini dikunjungi lebih dai 30 juta wisatawan setiap tahunnya. Kota ini sangat terkenal akan peninggalan sejarah, budaya, dan arsitekturnya yang menawan. Sehari adalah waktu yang benar-benar tak cukup untuk menjelajahi semua obyek wisata di Paris. Makanya kami kunjungi yang menurut kami paling penting saja.

Kami meneliti peta kota bersama-sama dan menandai tempat-tempat tertentu yang ingin kami datangi. Akhirnya kami putuskan membeli tiket harian mobilis yang berlaku untuk metro (kereta bawah tanah) dan bus dalam kota di sebuah stasiun metro sehari penuh. Satu tiket mobilis untuk zone dalam kota berharga 5,40 euro.

Basilique du Sacré-Cœur, obyek pertama kami, adalah sebuah gereja katolik roma, dan dibangun di abad 19. Bangunan yang menjulang tinggi di atas sebuah bukit ini dibangun sebagai penyembuh jiwa rakyat Perancis yang berduka akibat kalah perang melawan Rusia. Bangunan bergaya campuran byzantinis-mauris-gotik-romanik ini sebagian masih tertutup kabut saat kami mencoba memotretnya. Kami naik hingga ke pelataran gereja dan menikmati pemandangan sebagian kota Paris di sela-sela kabut.

Perjalanan kami berlanjut ke arah Moulin Rouge, sebuah red district di Perancis, tak jauh dari Sacre Coeur. Pagi itu, daerah ini masih terlihat sepi. Tak lama kemudian, kami menemukan bangunan dengan kincir berwarna merah, trade mark Moulin Rouge. Moulin Rouge terkenal dengan pertunjukan kabaretnya.

Dengan sebuah metro, kami menuju ke tempat bernama, Place de la Concorde. Pemandangan sangat indah di sini. Di satu sisi terlihat Arch de Triomph di kejauhan. Di sisi lain terdapat Jardin de Tuileries, sebuah taman besar sebuah taman bergaya renaisans Italia yang mulai dibuat tahun 1564 atas perintah Katharina von Medici. Kami melintasinya sambil memotret beberapa obyek. Banyak orang tampak duduk mengelilingi air mancur dan kolam di tengah taman sambil bercengkrama, atau sekedar duduk-duduk dan membaca koran. Pohon-pohon disana tampak gundul di musim dingin.

Jardin de Tuileries terletak diantara Place de la Concorde dan Musee de Louvre. Setelah beberapa saat, sampailah kami di Arc de Triomph du Carrousel, sebuah pintu gerbang dengan versi lebih kecil dari Arc de Triomph, yang bentuknya mengingatkan saya pada Brandenburger Tor di Berlin. Empat pilar besar di bagian depan dan pahatan disisi luar dan dalam gerbang, membuatnya kelihatan semakin megah.

Hanya beberapa meter di belakang nampak piramida kaca menjulang, yang merupakan pintu masuk Musee du Louvre, salah satu museum terbesar di dunia, dan juga merupakan salah satu setting di buku karangan Dan Brown, The Da Vinci Code. Banyak sekali orang berkerumun di sekitar pintu masuk. Ada yang sekedar mengambil foto seperti kami, atau hanya menikmati keindahan bangunan gedung dari luar. Sebagian bangunan besar ini mulai dibangun sekitar tahun 1200, dan dibangun kembali sebagai istana raja di abad 16. Sejak tahun 1793, gedung ini diresmikan sebagai museum. Di dalamnya tersimpan banyak sekali lukisan, patung, dan barang antik peninggalan monarki di Perancis. Koleksi paling terkenal, tentu saja Lukisan Mona Lisa, mahakarya Leonardo da Vinci. Sayang sekali kami tak sempat menikmati keindahan koleksi museum karena keterbatasan waktu.

Puas berfoto di depan gerbang museum ini, Emak mengusulkan agar kami segera menuju Saint Michel, sebuah daerah dengan pusat makanan dengan bus untuk mengisi perut yang cuma sempat diisi satu croissant dan secangkir kopi sepagian ini. Lorong-lorong jalanan di sini penuh dengan kedai makanan dari seluruh dunia. Ada kedai makanan China, Jepang, Italia, Afrika, Arab, hingga kedai makanan barat. Uniknya, di depan pintu seorang pramusaji dengan ramah akan menawarkan makanannya dan merayu para pengunjung mampir ke restaurannya. Sepertinya mereka berlomba-lonma memenangkan pelanggan sebanyak mungkin. Cara unik, yang belum pernah kami temui sebelumnya di Jerman. Setiap kedai dilengkapi dengan kursi-kursi di luar, khas Eropa. Hampir semua kursinya ditata sedemikian rupa sehingga menghadap ke arah luar. Para pengunjung kafe atau restauran duduk saling bersebelahan satu dengan lainnya. Daerah ini cukup ramai menjelang siang itu. Kami memilih sebuah kedai makanan China, setelah puas berkeliling. Meski tak terlalu besar, kedai makan ini cukup nyaman.

Notre Dame berada di atas Ile de la Cite, sebuah daratan mirip pulau di tengah Sungai Seine. Ile de la Cite dan Ile Saint-Louis adalah pusat kota Paris di masa lampau. Dua pulau ini sangat ramai. Selain terdiri dari banyak apartemen, diatasnya berdiri pula kompleks bangunan bersejarah, yakni Palais de Justice, kapel istana Saint Chapelle, dan Conciergerie, sebuah saal dari abad pertengahan. Dari jembatan yang menghubungkan Saint Michel dengan Ile de la Cite, tampak beberapa boot sedang menyusuri Sungai Seine.

Kami kembali ke Place de la Concorde untuk mengambil foto dua air mancur besar di dua sisi obelisk. Awalnya, dari sana kami ingin menyusuri Champ Elysee hingga Arch de Triomph. Namun batal, karena hari telah menjelang sore, dan kabut mulai menebal lagi. Kami khawatir tidak bisa menangkap gambar Eifel dengan baik. Makanya kami alihkan perjalanan ke Trocadero dengan metro.

Trocadero terletak di berdekatan dengan Menara Eiffel dan terletak di ketinggian. Kedua tempat ini dipisahkan oleh Sungai Seine. Di sini juga terdapat Palais de Chaillot, kompleks dua museum besar dengan satu teater. Dari Palais, kami menikmati pemandangan sebagian kota. Di bawahnya berdiri kafe dan kolam air mancur yang dibangun memanjang ke arah Eifel.

Trocadero direkomendasikan oleh seorang teman sebagai tempat paling strategis untuk memotret Eiffel. Sebaiknya datang kesana di sore hari, agar tak menantang sinar matahari langsung, katanya.

Menara Eiffel memang terlihat jelas dari sini. Foto yang kami buat pun berhasil mengabadikan menara terkenal ini dengan baik, meski agak kabur akibat tebalnya kabut di hari itu.

Dinginnya udara membuat kami tak bisa berlama-lama menikmati keindahan Eiffel di Trocadero. Kembali kami menggunakan metro menuju ke Avenue de Champs Elysees, salah satu jalan termasyur di dunia. Metro yang kami tumpangi berhenti tak jauh dari Arch de Triomph, sebuah gerbang besar yang menjadikannya sebagai highlight Champs Elysees. Arch de Triomph, sebuah simbol kemenangan nasional dibangun pada masa pemerintahan Napoleon Bonaparte di akhir abad 19.

Akhirnya, setelah menyusuri sebagian Champs Elysees, keluar masuk beberapa toko dan berfoto, kami putuskan ngetem di sebauh kedai makan cepat saji sambil memandangi warga Paris dan turis yang berlalu lalang hingga menjelang tengah malam. Perjalanan sehari penuh ini telah menguras energi kami semua. Untunglah kedai makan ini bukan hingga jam 12 malam. Jadi kami bisa menikmati makanan sambil menyeruput secangkir capucino hangat.

Sekitar jam setengah dua belas, kami pun bergegas menuju depan Petit Palais, tempat bus wisata menunggu kami. Oh, ternyata Petit Palais dan Grand Palais adalah dua bangunan istana yang sangat megah. Menyesal rasanya kami nggak sempat kesana.

Masih banyak lagi obyek wisata di Paris belum kami kunjungi. Versailles, Bastile, Rue de la Fayette, dan masih banyak lagi. We wish there will be a next time. Insyaallah…..

Possibly Related Posts:


Tags: , , , , ,

4 Responses to “Sehari di Paris : So Little Time So Manythings to See”

  1. […] tidaknya obyek wisata di tempat tujuan. Semakin terkenal suatu kota atau daerah wisata seperti Paris, London, Berlin, dsb, maka pilihan buku pun akan makin beragam. Untuk daerah-daerah kurang […]

  2. […] tersebut diatas menyinggahi kota-kota besar di negara-negara Eropa Barat dan Timur. Seperti Paris, Amsterdam, Kopenhagen, Hamburg, Köln, Berlin, Warsawa, Wina, Zurich, Milan, Zagreb, Roma, dan […]

  3. […] hasil fotonya. Awalnya kami bayangkan menara Pisa tinggi menjulang seperti temannya yang kesohor di Paris. Ternyata yang disini tingginya mungkin hanya sepersepuluh […]

  4. […] menuju kota-kota besar lain di Eropa. Seperti dari Frankfurt, Munich, Düsseldorf, Hamburg, menuju Paris, Madrid, Barcelona, Roma, Lisbon, dan masih banyak lagi. Harganya 99 euro pp. Sesekali ada […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>