Setiap perjalanan yang kami lalui, tentu saja tak selalu diliputi suka. Ada kalanya suatu perjalanan kami lalui dengan sangat berat. Cuaca, hal-hal non teknis yang muncul secara tak terduga, musibah, mewarnai perjalanan kami selama ini. Salah satunya adalah ketika bertandang ke Eropa Timur di pertengahan musim panas tahun 2007. Inilah seminggu paling panas yang pernah kami rasakan selama di Eropa. Tepat pada saat kami mengunjungi tiga kota tiga negara di tepi Sungai Donau.

Memang satu dua hari menjelang hari-H kami telah mengecek cuaca di tempat tujuan. Diperkirakan, temperatur saat itu tak jauh-jauh dari angka 40. Kami pikir mulanya aman-aman saja. Toh kami berasal dari satu negeri di khatulistiwa. Sudah terbiasa lah, sama yang namanya panas.

Namun, kenyataan memang lebih kejam dari perkiraan. Pagi hari ketika kereta tumpangan sampai di Wina, sudah ada tanda-tanda hari bakal panas. Kami ynag memutuskan hanya sehari saja di ibukota Austria ini, tak mungkin membatalkan jalan-jalan keliling kota di hari itu. Apalagi keliling Wina hanya kami jadwalkan hari itu, sebelum bertolak menuju Budapest di sore hari yang sama.

Kota Wina

Beristirahat sejenak setelah tiba sambil menunggu dibukanya kantor informasi turis di stasiun utama, kami sempat memperhatikan keadaan stasiun. Penuh turis dari berbagai bangsa, adalah kesan pertama kali. Tak sedikit wajah-wajah Asia duduk bergerombol atau memenuhi bangku-bangku stasiun. Setelah mendapatkan peta gratis, Emak pun segera mengecek situs-situs utama kota, menandai, serta menentukan rute perjalanan hari itu. Bapak membeli tiket kereta ke Budapest. Sasaran pertama kami, Istana Schönbrunn bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kami mulai berjalan sambil merekam suasana kota. Agar lebih nyaman, sebagian besar barang bawaan kami titipkan di loket khusus di stasiun.

Wina, mirip sekali dengan kota-kota besar lainnya di Jerman. Bentuk-bentuk bangunan, bahasa. Namun kami rasakan disana lebih rapi, teratur. Terlihat nyaman untuk ditinggali. Di Schloss (Istana) Schönbrunn, panas matahari sudah sangat terik. Badan kami mulai terasa lemas. Padahal baru saja beristirahat sejenak di sebuah taman tak jauh dari sana. Uh.. istana ini sebenarnya merupakan satu kompleks sangat luas. Lengkap dengan kebun binatang. Sangat besar dan megah. Kami tentu saja, tak bisa menikmati semuanya. Hanya berfoto-foto diantara para turis, sebelum melaju ke obyek wisata berikutnya.

Kali ini kami memilih menggunakan U-Bahn alias tram bawah tanah. Sasarannya adalah Schloss megah lainnya, Belvedere. Namun agar tak rugi, kami lewat gereja terkenal Karlskirche. Karlskirche adalah gereja bergaya baroque, dibangun abad 17. Ramai orang disini. Sepertinya para turis dan penduduk setempat yang ingin mendinginkan diri dekat kolam depan gereja. Empat puluh dua derajat Celcius, kami baca di sebuah papan penunjuk temperatur udara.

Schloss Belvedere adalah salah satu bangunan termegah serta terindah yang pernah kami lihat. Sayang sekali, panasnya cuaca menghalangi kami untuk mengelilingi kompleksnya yang juga cukup luas. Kami hanya memilih duduk-duduk dekat pohon sambil memotret beberapa bagian.

Tak lama, kami sudah berada kembali di dalam tram, ke arah pusat kota. Di sana, persediaan air sudah habis. Kami mencari toko penjual air minum dingin. Di Stephansdom, jantung Wina, ribuan turis menyemut. Polisi mengingatkan para turis, bahwa banyak copet berkeliaran di sana. Stephansdom sendiri adalah gereja raksasa yang bentuknya mirip kerabatnya, Dome zu Köln di Cologne, Jerman. Kami hanya melihat-melihat suasana sebentar, lalu memutuskan berburu cinderamata saja di toko-toko souvenir di sekitar Dom.

Kembali berjalan, kami sempat melewati museum Mozart, lalu ke arah kompleks wisata sangat luas, Hofburg dan sekitarnya. Uuhhhh... belum-belum kami sudah pesimis melihat peta kompleks. Sudah tak yakin, bakal tak sanggup mengelilingi semuanya di tengah panasnya udara yang seperti berada di Timur Tengah ini. Kami memilih obyek-obyek wisata utama untuk dilihat dan diabadikan. Yakni museum Sissi, seorang permaisuri raja Austria yang sangat masyur, Kapelle, kompleks Heldenplatz. Di depan Heldenplatz, Emak dan Embak memilih tiduran di bawah pohon, sementara Bapak memfoto beberapa bagian museum. Berjalan-jalan di hari panas, benar-benar menguras energi.

Sebelum kembali ke stasiun, kami pun melewati banyak tempat menarik, seperti monumen Mozart, Galeri Nasional, pusat pertokoan eksklusif di jantung kota. Oh… Wina sungguh indah. Megah. bangunanya tak ada yang berukuran mini. Apalagi bangunan tuanya. Terlihat sekali kejayaan Kerajaan Austria di masa silam. Dan itu semua diimbangi dengan perawatan maksimal peninggalan-peninggalan bersejarah mereka.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

6 Responses to “Sehari Yang Dehidrasi Di Wina”

  1. welly says:

    Buk, bagaimana bisa eropa sepanas itu ? gimana ceritanya ?

  2. ira says:

    embuh Pak.. saat iku pancen lagi gelombang panas menyerang eropa. akeh sing meninggal duani. terutama wong tuwek2. Gak kuwat kepanasan…

  3. […] dua negara berbeda dengan anggaran yang tak jauh beda. Pilihan pun jatuh ke Eropa Tengah. Yakni ke Wina, Budapest dan Bratislava di […]

  4. […] Wina, kereta api pengangkut melaju sekira dua jam. Di perbatasan kedua negara, rombongan polisi […]

  5. […] pusat kota Wina, di daerah gereja besar merupakan pusat keramaian wisatawan. Berkali kami dengar polisi patroli […]

  6. […] Rekor naik kereta ICE terlama kami adalah perjalanan seribuan kilometer selama delapan jam-an dari Wina ke […]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>