dua-kepala-di-bonner-muensterKetika Bapak ada acara mengaji bersama bulan lalu, Emak pun turut serta pergi ke kota Bonn. Tidak untuk mengaji, melainkan berjalan-jalan ditemani teman yang sedang kuliah di sana.

Keluarga pelancong sudah seringkali melewati stasiun kota bekas ibukota Jerman Barat ini. Berkunjung pun sudah pernah sekali untuk menghadiri satu acara. Namun baru kali ini Emak berkesempatan untuk khusus menjelajah sebagian kota.

Sebab sampai disana pas jam makan siang, maka kami pun membeli doner teller enak di tukang doner langganan teman. Lalu makan di sebuah Stadtgarten dimana Embak juga bisa bermain-main.

Sebagai mantan ibukota, Bonn terlihat biasa saja. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding Berlin. Pusat kotanya pun tak terlalu besar. Selain sebagai bekas ibukota, Bonn terkenal sebagai kota kelahiran komponis terkenal Ludwig von Beethoven. Beberapa kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa juga berdiri disini. Lia, teman kami menunjukkan dua istana yang dulunya milik istri-istri raja di Bonn. Entah raja siapa yang dimaksud. Salah satu istana, Poppelsdorfer Schloss, sekarang menjadi gedung pusat Universitas Bonn.

Dari Stadtgarten kami menyeberang menuju Alter Zoll. Tempat ini dulunya adalah bea cukai kerajaan. Letaknya dekat tepi Sungai Rhein. Sehingga disini merupakan tempat cocok untuk menikmati pemandangan sungai dan pegunungan Siebengebirge. Tak ada sisa bangunan di Alter Zoll ini. hanya sebuah taman, dua meriam besar, satu patung Heinrich Heine dan beberapa bangku taman. Tak lama setelah merekam sedikit kegiatan di Sungai Rhein, kami bergegas menuju pusat kota.

Kami lewat Poppelsdorfer Schloss, dan tak lama kemudian memotret gereja terkenal Bonner Muenster. Sebuah basilika dengan dua patung kepala di depannya. Sedikit membaca sejarah tentang Bonner Muenster, sepertinya kedua kepala tersebut menggambarkan Cassius dan Florentius, dua martir yang lokasi kuburannya menjadi tempat berdirinya basilika ini.

Daerah sekitar basilika adalah pusat kota dan pusat belanja di Bonn. Ada acara voli pantai yang banyak dihadiri penonton. Kami bertiga melongok sebentar. Lalu meneruskan berjalan-jalan di dalam kota. Memotret sebagian gedung. Kami menemukan peta wisata kota tak jauh dari stasiun utama Bonn. Ada rute tur ke poin-poin wisata utama, seperti rumah tempat lahir Beethoven dan Balai Kota lama. Jika diikuti sepertinya tak bakal memakan waktu lama. Tapi Emak malas berkeliling jika formasi keluarga pelancong tak lengkap seperti ini.

Possibly Related Posts:


Tags: , ,

One Response to “Sejenak di Bekas Ibukota Jerman Barat”

  1. syukur says:

    hehe,,bisa aja Mbak ini…lebih asyik kalau bareng2 ya mbak?

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>