Terminal bus Valetta, MaltaSebelum datang ke negara kecil ini, kami sudah mendapat sedikit gambaran mengenai sistem transportasi umum di sana. Malta terdiri dari tiga pulau kecil : Malta, Gozo dan Comino. Comino tak berpenghuni. Malta dan Comino punya dua perusahaan angkutan umum berbeda. Makanya tiket di Malta tak berlaku di Gozo, begitupun sebaliknya.

Menurut website www.visitmalta.com dan sebuah buku panduan, transportasi umum Malta yang murah adalah bus kota. Jaringan bus kota ini sudah sangat baik. Menjangkau sebagian besar daerah berpenghuni di pulau kecil ini.

Saat pertama sampai disini, kami bingung mencari rute bus kota menuju ke penginapan kami di daerah Sliema. Psetugas di kantor informasi turis kemudian memberikan kami sebuah peta Malta dan brosur mengenai jaringan bus kota. Ternyata kami harus naik bus bandara ( nomor 8) menuju Valetta (ibukota), lalu disambung ke Sliema. Anda bisa membeli tiket sekali jalan, harian atau tiga harian, 5 harian atau mingguan, tergantung kebutuhan, jelas si ibu petugas dengan ramah. Atau bisa juga naik taksi sampai di tempat sekitar 19 euro. Meski harga taksi untuk perjalanan sejauh lebih dari 10 kilometer ini jauh lebih murah dibanding di Jerman, kami lebih memilih untuk menggunakan jasa bus.

Agak ribet sebenarnya menggunakan bus dengan membawa dua anak kecil, satu tas ransel besar dan satu kereta bayi. Bus kota Malta sebagian besar adalah bus tinggi dengan hanya satu pintu di dekat sopir. Setiap penumpang masuk memberitahukan tujuan, membeli atau menunjukkan tiket masing-masing. Kami membeli tiket terusan tiga hari. Satu orang dewasa harganya 9,32 euro. Berlaku di seluruh jaringan bus kota di Pulau Malta. Sayangnya untuk anak-anak hanya ada tiket sekali jalan. Sehingga setiap kali naik bus kami mesti membeli sati tiket untuk Embak. Harganya murah. Tiga puluh lima atau 58 sen sekali jalan, tergantung jalur bus mana yang kami naiki.

Satu hal yang sedikit menyulitkan kami, halte-halte bus di Malta tak memiliki nama atau nomor. Jadi kami bingung awalnya, di halte mana kami harus turun ketika pertama datang ke penginapan. Untunglah bapak-bapak sopir di Malta menguasai bahasa inggris dengan baik. Beliau dengan ramah menunjukkan di mana kami mesti turun. Selanjutnya kami pun selalu memberitahukan tujuan, dan mewanti-wanti bapak sopir untuk memberi tanda ketika kami telah sampai tujuan.

Sebagian bus kota Malta masih kuno modelnya. Warna sebagian bus adalah kuning. Makanya dijadikan salah satu merek dagang Malta. Banyak pernak-pernik disini bermotifkan bus tersebut.

Di Gozo, pulau lebih kecil dibanding Malta, bus lebih jarang. Apalagi kami kesana pas hari Minggu. Susah sekali. Kami hanya sampai pusat kota Viktoria, walau sebelumnya bermaksud mengunjungi satu pantai dan satu kompleks candi.

Secara umum, jaringan transportasi disini lumayan bagus. Untuk tujuan tertentu, bus lewat setengah jam sekali. Namun ke daerah-daerah turis ramai, hampir setiap menit ada bus kota. Harganya pun relatif lebih murah dibandingkan di Jerman dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Dan jika tak terlalu sering naik turun bus, sebaiknya membeli tiket satuan saja.

Catatan:

Sekarang Malta sudah memiliki alat transportasi publik lebih modern. Bus-bus kuno digunakan untuk tur saja.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>