stasiun-pusat-niceKami putuskan membawa kendaraan sendiri untuk mengunjungi kota Nice. Dengan resiko, susah mencari tempat parkir di pusat kota ini. Benar juga. Beberapa kali kami berputar-putar di daerah kota baru. Padahal bukan tempat parkir gratisan. Antara stasiun kereta api dan Promenade des Anglais.

Akhirnya setelah lama mencari ketemu satu tempat kosong Boulevard Victor Hugo. Waktu parkir maksimal hanya 2 jam. Kami parkir saja dulu. Yang penting bisa menjelajah sebagian kota.

Dari parkiran, kami langsung menuju pantai. Menyusuri Promenade des Anglais yang legendaris itu. Embak bete. Sebab hari itu cerah sekali. Cuaca enak buat berenang di laut. Di pantai sudah banyak yang berjemur. Serta berenang. Tak terlihat anak kecil. Pantai di Nice dan kawasan lain di Cote D’Azur memang biasanya tak berpasir putih. melainkan pantai penuh bebatuan berukuran cukup besar. Bisa sekepalan tangan ukurannya.

Sementara orang-orang muda berjemur di pantai, Emak perhatikan generasi lebih tua memilih berjalan-jalan atau duduk-duduk di promenade. Kami berjalan dan memotret gedung-gedung megah di sepanjang promenade terkenal ini. Terlihat sekali pamornya sebagai kawasan eksklusif. Apalagi melihat Hotel Negresco yang mayestik itu. Aihhhh…., Nice sepertinya kurang cocok buat pelancong dengan bujet terbatas seperti kami. Harus puas dengan memandang semuanya dari luar. Perlu modal besar untuk bisa menikmati kemewahan yang ditawarkan Nice.

Tak lama di atas promenade, kami berbelok menuju Place Messena. Hari cerah mengundang banyak orang untuk menikmati hangatnya mentari. Siang itu, ramai sekali orang berjalan-jalan di jantung Nice. Place Messena adalah ruang terbuka luas dekat taman. Sekitarnya adalah gedung-gedung indah. Konon, Place Messena ini mengingatkan orang akan keindahan kota-kota besar di Italia. Yah, Nice dulunya sempat beberapa abad berada di bawah kekuasaan Italia.

Kami berjalan merekam keunikan Nice. Satu dua kedai makan halal ada di pusat kota. Sambil memotret banyak bangunan dan suasana kota, kami berbegas menuju parkiran. Dua jam waktu parkir akan habis tak lama lagi.

Kembali untuk makan siang di tempat kemah, sorenya kami menjelajah kota tua. Kali ini dapat tempat parkir Rue de Lycee. Kota tua masih agak jauh, tapi kami khawatir tak menemukan tempat parkir lain lagi. Kami masuk lewat Place Garibaldi terlebih dahulu. Inginnya mendaki menuju Citadel. Agar dapat menyaksikan panorama Nice dari ketinggian. Sayangnya susah sekali mencari pintu masuknya. Berkali kami kesasar saat naik tangga-tangga kota tua. Padahal sudah bawa peta dari buku panduan. Saat ketemu, tak lama lagi, citadel bakal tutup. Tak mau beresiko, kami pilih melihat-lihat bagian lain di kota tua.

Kota tua Nice, menurut buku pandan adalah tipikal kota-kota tua di mediterania. memiliki gang-gang sempit, melabirin dan menimbulkan kesulitan untuk berorientasi. Ada penginapan, rumah-rumah penduduk dan tempat makan, kafe, bar dengan musik live. Pastinya bukan daerah sepi dan menakutkan. Melainkan pusat pemukiman, makan serta tempat bersenang-senang. Baru dua jam-an, hari sudah mulai gelap. Kecewa juga tak banyak bagian kota kami datangi. Insyaallah, siapa tahu ada kesempatan di lain waktu…:)

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>