abad-pertengahan-tallinnBeruntung perang dunia tak menghancurkan kota tua Tallinn, sehingga suasana abad pertengahan masih terasa di ibukota Estonia ini. Ini berdasarkan informasi yang kami dapatkan di internet dan buku panduan wisata ketika akan berkunjung di salah satu kota utama wilayah Baltik, Eropa utara dekat Rusia.

Mendapatkan informasi seperti, tentu saja, membuat kami semakin penasaran. Setelah menyaksikan bekas-bekas abad pertengahan di kota-kota lain di Eropa, Jerman khususnya, ingin juga membandingkan suasananya. Apakah mirip dengan kora Rothenburg ob der Tauber, Bacharach, Trier, dll.

Tallinn, dan Estonia pada umumnya, pernah dikuasai oleh beberapa negara. Denmark, Jerman, Swedia, terakhir Rusia, sebelum merdeka dan menjadi sebuah republik. Jerman, atau tepatnya Orden Jerman menancapkan pengaruhnya cukup lama di sini di abad pertengahan. Orden Jerman adalah sebuah kongsi perdagangan besar, dan menguasai perairan Baltik serta Laut Utara sekitar Skandinavia.

Suasana abad pertengahan di kota ini terasa ketika kami memasuki gerbang kota tua, Gerbang Viru. Mulai terlihat gedung-gedung tua di dalam kota tua yang dikelilingi tembok batu tebal, sebuah ciri kota abad pertengahan di Eropa. Jalannya terbuat dari batu alam. Konon, semua gedung pemerintahan dan gereja-gereja masih berada dalam bentuk orisinil dari abad 11 hingga 15 masehi. Juga banyak gudang serta perumahan tua milik penduduknya.

Tak hanya bangunan yang membuat suasana masa lampau terasa, beberapa aktivitas membuatnya makin menonjol. Beberapa orang lalu lalang dengan menggunakan baju kuno misalnya. Mereka mempromosikan kegiatan budaya, membagi-bagikan selebaran, atau menjadi penjaga sebuah rumah makan bernuansa abad pertengahan. Di depan gedung-gedung tua banyak kami temui lampu-lampu minyak atau obor. Tulisannya terlihat sangat kuno. Hiasannnya pun demikin. Di beberapa sudut kami temukan orang-orang menjual penganan dengan bumbu spesial. Di satu tempat ada seorang anak muda mendemonstrasikan pembuatan koin kuno.

Yang paling menonjol adalah sebuah rumah makan tua bernama Olde Hansa. Selain menempati gedung tua serta aksesoris kuno, menunya pun berasal dari jaman beheula. Sungguh kagum saya akan kemampuan mereka mempertahankan ciri khas masa lampau hingga jaman modern seperti sekarang ini. Sayang sekali sebab terbatasnya waktu serta dinginnya cuaca, membuat kami tak bisa merekam suasananya lebih banyak lagi. Namun semuanya memberikan pelajaran, bahwa jika mau, kita masih bisa mempertahankan tradisi di tengah perubahan jaman yang sangat cepat di masa kini.

Possibly Related Posts:


Tags: , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>