Untuk keperluan mudik kali ini, tak mudah bagi keluarga pelancong untuk mendapatkan tiket pesawat murah meriah dari Jerman ke Kuala Lumpur. Padahal biasanya mulai Januari, promo tiket dari maskapai-maskapai penerbangan Timur Tengah mulai mulai berseliweran.

Kalau mau mudik sekitar bulan Juli – Agustus, Emak mulai hunting tiket bulan Januari. Nongkrongin newsletter beberapa maskapai. Atau rajin ceki-ceki di situs-situ pembanding harga tiket. Bulan April, normalnya dah pegang tiket. Yang dibeli bila bujetnya memenuhi, tentu saja. Nah ini, sudah masuk Mei, belum ada tanda-tanda ada tiket murah. Ada harga dari Air China, tapi tak terlalu murah juga. Tapi masih ngarep maskapai lain seperti Emirates, Etihad, Qatar, atau Turkish Airlines tiba-tiba banting harga. Eh, gak keturutan juga.

Akhirnya emang tahun ini rezekinya Air China. Dapat tiket dengan harga di bawah 500 euro. Frankfurt – Kuala Lumpur pp. Dengan catatan, bakal transit lama di Beijing. Sebelas jam. Wuihh, mau ngapain di sana? Kalau malam sih katanya dapat fasilitas hotel dari Air China. Nah ini siang.

Emak pun mulai nyari informasi. Apakah di Beijing kami bisa keluar bandara dan jalan-jalan bentar ke pusat kota. menurut beberapa info seh, boleh tuh direct transit dengan fasilitas 24 jam free visa. Dan itu buat warga negara most countries in the world. Menarik!!

Sayangnya semua info yang Emak dapatkan berbahasa Inggris. Emak pun nyari info lebih banyak lagi lewat sebuah grup backpacker di sebuah media sosial. Dari situ, belum juga mendapatkan pencerahan yang meyakinkan. Ya weslah. Emak dan Bapak sepakat, nyoba ajah lah nanti pas di Beijing. Kalau gak boleh ya balik lagi ke transit area.

Proses Mendapatkan Visa Free Sehari di China

Transportasi bandara Beijing

Di bandara Beijing

Akhirnya datang hari keberangkatan kami ke Asia. Via Beijing. Semua lancar-lancar saja. Karena belum dapat boarding pass Beijing – KL, kami ke transfer desk dulu. Dari transfer desk, niatnya mau langsung ngantri di imigrasi. Meliat antrian mengular, kami urungkan dulu. Kami ikut proses security check yang memakan waktu agak lama. Sebab antrian juga panjang dan di sana antrian mayan ketat.

Udah beres, kami pun mendekati seorang Embak cantik di konter informasi di transit area.

“Mbak kami transit lama di sini, nih. Boleh keluar bandara, gak?” tanya kami.

“Coba liat boarding pass-nya!”

“Ya udah eskalator ke atas di kiri itu, yah. Trus bilang ama petugas di sana!” katanya setelah memeriksa boarding pass kami.

Di atas, kami celingak-celinguk. Sunyi. Seorang bapak berseragam lewat. Katika kami tanya, beliau memanggil petugas lainnya. Datang seorang ibu usia tiga puluhan. Petugas imigrasi. Si ibu menanyai kami mau kemana.

“Mau liat makam Mao Zedong,” jawab Emak.

Beliau menanyakan boarding pass kami. Menunggu sekitar 15 menit, si ibu membawa kabar gembira. Kami boleh keluar setelah mengisi departure card. Horeeeee!! Petualangan baru menanti kami.

Ke Pusat Kota China

Lapangan terkenal di Beijing

Swafoto di Lapangan Tiananmen

Emak telah mencatat semua hal yang berkaitan dengan transportasi ke pusat kota Beijing. Kami keluar terminal internasional Beijing Airport naik skytrain. Dari luar jalan kaki ke stasiun airport express, kereta khusus dari bandara menuju Dongzhimen. Lumayan jauh juga jalannya.

Tiket airport express 25 yuan per orang. Wuihh Beijing panas banget hari itu. kata Pak Ptugas di imigrasi tadi sekitar 30°C. Tapi kami tak gentar. Seneng banget paspor dapet stempel visa free dari China. Keretanya bagus, on time, dan AC-nya berfungsi baik.

Dari Dongzhimen, kita bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi lain di #Beijing dengan subway. Subway-nya bagus, modern, murah, dan on time. Harga tiket ynag kami beli antara 3 – 4 yuan sekali jalan. Semua petunjuknya sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Termasuk pengumuman nama haltenya. Mudah sekali kami menavigasi perjalanan kami dengannya.

Akan tetapi, kita juga harus tahu exit tempat tujuan kita. Karena satu halte punya beberapa exit yang lokasinya mayan jauh. Oh ya, setiap kali masuk metro, semua barang kita kudu dipindai alias scan. Alhamdulillah gak perlu ngantri lama.

Lapangan Tiananmen dan Masjid Dongsi

masjid kuno Beijing

Dongsi, salah satu masjid tertua Beijing

Maunya seh, bisa mengunjungi banyak tempat sekaligus di Beijing. Sayangnya waktu terbatas. Dan cuaca panas memperlambat perjalanan kami. Keluar halte subway Qianmen, Emak terkejut melihat Lapangan Tiananmen dikunjungi banyak sekali orang. Hari itu memang hari Minggu. Waktunya warga lokal berpiknik.

Melihat orang segini banyak, Emak keder juga. Antrian menuju makam Mao Zedong, entah berapa puluh atau bakal ratus meter panjangnya. Deuh, keliling bentar ajah deh. Mayan lah bisa ngeliat Taman Lapangan Tiananmen yang cakep ama bagian depan Kota Terlarang. Masuk ke lapangan pun pengunjung kudu siap diperiksa petugas keamanan. Ketat, tapi penduduk lokal terlihat hepi-hepi saja tuh.

Misi pertama selesai, tinggal misi mengunjungi salah satu masjid di Beijing. Ada dua masjid tua yang Emak lihat. Dongsi dan Niujie. Dongsi lebih dekat. kami pilih itu.

Letaknya dekat halte Dongsi. Trus jalan ke arah Dongsi South Street. Hanya beberapa belas meter dari perempatan Jalan Dongsi. Dari luar tampak mungil. Eh pas masuk ke dalamnya. Luas juga kompleksnya. Senang banget Emak bisa mempir ke masjid ynag arsitekturnya unik dari Dinasti Tang ini.

Hari itu sungguh tak terlupakan, deh. Alhamdulillah.

Possibly Related Posts:


Tags: , , , ,

4 Responses to “(Tak Sampai) Sehari di Beijing”

  1. Emakmbolang says:

    Info baru lagi nih, Suka kalau transit lama trus bisa keluar halan halan. Lumayan sudah menejejak china walau sebentar.

  2. Haryadi says:

    Masjidnya unik banget ya mbak Ira. Semoga nanti bisa sholat di sana. Seneng deh kalo transit bisa jalan-jalan gini, jadi gak bosen nunggu di bandara :)

  3. Katerina says:

    Mbak Ira sehari di Beijing saja bisa menghasilkan video. Salut!

    Berapa usia masjid Dongsi-nya mbak?

  4. ira says:

    @Zulfa: betul… lumayan nambah stempel di paspor.

    @Cek Yan: aamiin… yoi, bosen nunggu di bandara kalau kelamaan.

    @ Mbak Rien: Masjid dibangun tahun 1400-an, Mbak…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>